17 November 2010

Idul Qurban dan Seruan Penegakkan Kembali Khilafah

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Walillahilhamd.

Gema takbir menggema di lapang Alun – alun Majalaya – Kab. Bandung. Kurang lebih lima ratus Kaum Muslim melaksanan Shalat Iedul Adha yang di selenggarakan DPC Hizbut Tahrir Indonesia – Daerah Majalaya di lapangan Alun – alun tersebut, di hari selasa (16/11). Jama’ah yang terdiri dari elemen masyarakat dan Ormas Islam yang ada, baik laki – laki maupun perempuan, baik tua maupun muda.

Pada kesempatan yang berbahagia itu yang bertugas sebagai Imam adalah Ust. Ayi Setiadi, S.Pd.I dan Ust. Ikbal Manpaluti, S.Pd.I sebagai Khatib. Di dalam isi Khutbahnya khatib menyampaikan Umat Islam harus bersegera tunduk kepada ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya secara total tanpa syarat, dengan menerapkan Syariah dalam bingkai Khilafah Islamiyyah. sebagaimana halnya Nabi Ibrahim as yang langsung menuruti Perintah Allah Swt. untuk menyembelih Nabi Ismail as. anak yang sangat ia cintai.

Problematika yang mendera Umat Islam saat ini baik Palestina, Irak, Afghanistan, Morro, Kashimir, Patani serta negeri kaum muslim yang lain. Baik masalah politik, ekonomi, militer, sosial, budaya dan lain sebagainya. Tidak lain akibat tidak di terapkannya hukum Allah Swt dan Rasul-Nya. umat Islam terpuruk dalam semua bidang kehidupan. Kehidupan mereka dikuasai, dikontrol, disetir dan dijajah oleh musuh-musuh mereka. Kita hanya jadi pengekor yang tunduk dan patuh kepada orang-orang Kafir penjajah. Lihatlah, berapa ratus triliun rupiah telah dihabiskan untuk melaksanakan sistem demokrasi, yang nyatanya tidak membawa kebaikan bagi kehidupan mereka. Lihatlah ide-ide HAM, liberalisme, sekularisme, kapitalisme, dan segala isme-isme(racun-racun) yang lain, yang jelas bertentangan dengan Islam, justru diterapkan oleh umat ini, karena mengekor orang-orang Kafir penjajah? Kita rela tunduk dan patuh kepada musuh Allah, Rasul-Nya dan orang Mukmin, sebaliknya rela mengkhianati Allah Swt dan Rasul-Nya. Jadilah kita umat yang hina. Terpuruk dalam kenistaan, kemiskinan, dan kebodohan. Jadilah kita korban keserakahan mereka hingga nyawa pun tidak ada harganya.

Pada Hari ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan hari Raya Idul Adha. Pada hari ini pula, umat menampakkan diri sebagai umat yang satu. Umat yang diikat oleh aqidah yang sama, yaitu aqidah Islam. Dan diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as itu memberikan gambaran cinta yang benar. Bahwa cinta yang hakiki hanyalah cinta kepada Allah Swt. Adapun cinta kepada makhluk diletakkan di bawah cinta kepada-Nya. Inilah yang kita saksikan dengan terang dari sikap Nabiyullah Ibrahim as.; betapa kecintaan Ibrahim kepada putra yang paling ia cintai tetap diletakkan di bawah cintanya kepada Allah Swt. Sikap ini jelas sesuai dengan tuntunan Allah Swt sendiri, yang telah menyuruh kaum Muslim untuk menempatkan cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain, bahkan di atas kecintaan kepada diri mereka sendiri sebagaimana firman-Nya dalam surat at Taubah : 24.

قُل إِن كانَ ءاباؤُكُم وَأَبناؤُكُم وَإِخوٰنُكُم وَأَزوٰجُكُم وَعَشيرَتُكُم وَأَموٰلٌ اقتَرَفتُموها وَتِجٰرَةٌ تَخشَونَ كَسادَها وَمَسٰكِنُ تَرضَونَها أَحَبَّ إِلَيكُم مِنَ اللَّهِ وَرَسولِهِ وَجِهادٍ فى سَبيلِهِ فَتَرَبَّصوا حَتّىٰ يَأتِىَ اللَّهُ بِأَمرِهِ ۗ وَاللَّهُ لا يَهدِى القَومَ الفٰسِقينَ

"Katakanlah: ""Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."" Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."

Sayangnya, ketulusan cinta kepada Allah Swt yang ditunjukkan oleh Ibrahim as dan Ismail as itu  belum banyak diteladani umat Islam saat ini. Banyak di antara kita yang masih didominasi oleh cinta kepada selain Allah Swt. Akibatnya, lebih mencintai  dunia dibandingkan akhirat; lebih mencintai keluarganya daripada berdakwah dan memperjuangkan agamanya; lebih mencintai harta ketimbang berjihad di jalan-Nya; lebih mencintai kekuasaan ketimbang memperjuangkan kemuliaan Islam; bahkan lebih mencintai musuh-musuh Islam ketimbang kaum Muslim.

Para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim, termasuk negeri ini, malah menjadi penjaga setia sistem kufur. Mereka bahkan memaksa anak-anak kaum Muslim untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum kufur itu. Bahkan dengan dalih menjaga konstitusi Negara, mereka terus menghalang-halangi setiap usaha yang ditujukan untuk menerapkan syariah Islam secara total di negeri-negeri kaum Muslim. Sebaliknya mereka bahkan terus membuat undang-undang yang berlawanan dengan aqidah dan Syariah Allah Swt.

Para penguasa di negeri ini seolah lupa, bahwa saat mereka menyambut hangat kedatangan pemimpin negara penjajah itu, pada saat yang sama, pasukan negara penjajah itu –yang tentu di bawah komando Obama– terus membunuhi saudara-saudara mereka di Afganistan, Irak dan Pakistan. Bahkan Amerika, hingga hari ini, tetap mendukung penuh penjajahan dan kekejaman Israel atas kaum Muslim di Palestina. penguasa itu seolah lupa, bahwa meski mereka mencintai orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan pernah mencintai mereka; bahkan tetap membenci mereka. Sebagaimana Firman-Nya dalam (QS. Al Imran : 119)

هَا أَنتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ

"Begitulah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian; dan kalian mengiman al-Kitab seluruhnya. Jika mereka menjumpai kalian, mereka berkata, “Kami beriman.” Jika mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian"

Yang lebih parah, para penguasa di negeri ini malah merumuskan kesepakatan kemitraan komperehensif dengan negara kafir penjajah tersebut. Mereka seolah lupa, bahwa Allah Swt telah mengharamkan kaum Muslim untuk menjadikan orang-orang kafir itu sebagai mitra/sahabat. Sebagaimana Firman-Nya dalam (QS. Al Imran : 118)

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا لا تَتَّخِذوا بِطانَةً مِن دونِكُم لا يَألونَكُم خَبالًا وَدّوا ما عَنِتُّم

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang yang berada di luar kalangan kalian karena mereka tidak henti-hentinya menimpakan kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa saja yang menyusahkan kalian."

Maka dari itu kecintaan yang tulus tentulah akan melahirkan sikap berkorban yang juga tulus. Karena begitu cintanya kepada Allah Swt, Ibrahim as tanpa ragu mengorbankan cintanya kepada putranya. Hal yang sama ditunjukkan oleh Ismail as. yang juga rela mengorbankan dirinya sebagai konsekuensi dari perintah Allah Swt itu. Amat disayangkan, jiwa pengorbanan dalam menjalankan syariah ini tidak terlihat dalam kehidupan sebagian besar umat ini. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang menjalani kehidupan seperti orang-orang kafir. Waktunya habis digunakan hanya untuk mencari uang, bersenang-senang dan mengikuti hawa nafsu mereka . Tak pernah terpikir tentang mengkaji Islam, berdakwah apalagi menegakkan khilafah. Siang malam hanya disibukkan untuk memuaskan hawa nafsu dan mengejar dunia.


Sungguh kita yakin, seyakin-yakinnya bahwa solusi satu-satunya atas permasalahan yang mendera kaum muslim saat ini adalah tidak diterapkannya Syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan dalam bingkai Khilafah Islam. Untuk itu, kita tidak boleh berdiam diri terhadap sistem dan aturan kufur yang diterapkan di tengah-tengah kita. Kita wajib berjuang menegakkan kembali syariah Islam dan Khilafah Islam.  Kita wajib memberikan andil dan kontribusi bagi perjuangan menegakkan kembali syariah dan Khilafah ini. Kita wajib untuk terus-menerus berjuang untuk menerpkan Syariat Islam dengan menegakkan Khilafah, sebagai bentuk kesungguhan kita dalam beribadah kepada Allah Swt. Dengan menanggung segala resiko hingga kita dimenangkan Allah Swt atau kita binasa karenanya.

Marilah kita jadikan Idul Adha ini sebagai motivasi dan inspirasi bagi kita semua untuk selalu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya sekaligus untuk senantiasa berkorban dalam perjuangan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyyah. Allahu Akbar. []

Ats Tsauriy


0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites