Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan

14 Februari 2012

Antara Islam dengan Kufur

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (TQS Ibrahim [14]: 24-25).

Sebagai agama dan ideologi yang diturunkan Allah Swt, kebenaran Islam tak terbantahkan. Demikian pula keadilan, kebaikan, dan keunggulan seluruh ajarannya, aqidah maupun syariahnya. Realita ini tentu berkebalikan dengan seluruh agama, ideologi, dan pemikiran lainnya yang kufur. Semuanya batil dan tidak dibangun di atas dasar argumentasi yang kuat. Semuanya melahirkan kerusakan dan mengantarkan manusia kepada kesengsaraan.

Ayat-ayat ini memberikan penjelasan kepada kita untuk lebih memahami perbandingan antara Islam dengan

Laksana Pohon yang Baik

Allah Swt berfirman: Alam tara kayfa dharabal-Lâh matsal[an] thayyibat[an] kasyajarat[in] thayyibat[in] (tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik).

Seruang ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Dijelaskan Ibnu Jarir al-Thabari bahwa ayat ini mengingatkan Nabi-Nya saw: Tidakkah engkaulah lihat dengan mata hatimu, wahai Muhammad, sehingga engkau mengetahui bagaimana Allah telah memberikan permisalan dan penyerupaan. Menurut al-Syaukani, bisa juga seruan tersebut kepada semua orang yang cocok dengan seruan ini.

Diberitakan dalam ayat ini bahwa Allah Swt telah memberikan matsal[an] (perumpamaan). Kata al-matsal berarti perkataan yang mencakup seluruh penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Demikian al-Baghawi dalam kitab tafsirnya, Ma’âlim al-Tanzîl. 

Perkara yang diberikan perumpamaannya adalah kalimah thayyibah. Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud dari kalimah thayyibah adalah kalimat lâ ilâha illâl-Lâh. Penafsiran yang sama juga dikemukakan al-Baghawi. Al-jazairi menafsirkannya kalimat lâ ilâha illâl-Lâh Muhammad Rasûlul-Lâh. Tak jauh berbeda, Mujahid dan ibnu Juraij pun menafsirkannya sebagai keimanan. Al-Qasimi lebh luas. Menurutnya, perumpamaan tersebut menunjuk kepada Islam, agama yang dibawa khatâm al-anbinyâ`.

Islam tersebut diumpamakan seperti syajarah thayyibah (pohon yang baik). Menurut beberapa mufassir, Ibnu Jarir al-Thabari, al-Baghawi, al-Jazairi, dan lain-lain, yang dimaksud dengan pohon yang baik di sini adalah al-nakhlah (kurma). Ada pula yang menyatakan bahwa pohon tersebut berada di surga.

Sedangkan Fakhruddin al-Razi lebih memilih untuk menganilis sifat-sifat dari syajarah thayyibah tersebut. Tampaknya, pandangan lebih dapat diterima. Bahwa pohon tersebut memiliki sifat thayyibah. Kata ini mengandung banyak perkara, yakni: bagus bentuk dan susunannya, harum baunya, lezat rasa buah yang dihasilkannya, dan banyaknya manfaat yang dikandungnya. Semua fakta tersebut tercakup dalam kata thayyibah.

Di samping itu juga: Ashluhâ tsâbit[un] (akarnya teguh). Akar merupakan bagian pohon terpenting dan paling menentukan bagi sebuah pohon. Sebuah pohon bisa berdiri kokoh manakala akarnya kuat menghunjam ke tanah. Sebuah pohon juga bisa tumbuh subur ketika akarnya sehat. Sebab, akar adalah bagian pohon yang berfungsi untuk menyerap air dan sari-sari makanan dan mengantarkannya ke seluruh bagian batang, ranting, daun, dan buahnya. Inilah sifat pohon baik yang digambarkan ayat ini: ashluhâ tsâbit. Artinya, râsikh âmin min al-inqilâ’ (kokoh dan aman dari tercerabut) lantaran kokohnya akar pohon tersebut menghunjam dalam tanah. Demikian al-Syaukani dalam tafsirnya.


Bukan hanya akarnya yang kokoh, pohon itu juga: wa far’uhâ fî al-samâi (dan cabangnya [menjulang] ke langit). Dijelaskan al-Qasimi bahwa keberadaan cabangnya yang menjulang tinggi ke langit menunjukkan kesempurnaan pohon tersebut dari aspek ketinggian batangnya dan kekuatannya dalam menjulang, yang membuktikan kokohnya akar dan kokohnya pangkalnya.

Sifat lainnya adalah: Tu`ti ukulahâ kulla hîn bi idzni Rabbihâ (pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya). Pengertian ukulaha adalah tsamrataha (buahnya). Sedangkan hîn, secara bahasa berarti al-waqt (waktu). Demikian penjelasan al-Baghawi. Itu artinya, pohon tersebut menghasilkan buah setiap saat, kapan pun dibutuhkan.

Inilah gambaran Islam. Aqidah yang menjadi akarnya dibangun atas dasar dalil yang kuat dan kokoh sehingga tidak terbantahkan. Dari aqidah itu pula terpancar syariah yang menjadi cabang, daun, dan buahnya. Syariah tersebut memberikan jawaban dan penjelasan atas seluruh pertanyaan dan permasalahan yang dialami manusia; yang semuanya benar, adil, dan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kemudian ditegaskan: Wa yadhribul-Lâh al-amtsâl li al-nâs la’allahum yatadzakkarûn (Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat). Mengomentari frasa ini, Wahbah al-Zuhaili mengatakan, “Demikianlah Allah Swt memberikan perumpamaan bagi manusia. Karena sesungguhnya dalam perumpamaan lebih dapat menambah pemahaman, peringatan, nasihat, dan menggambarkan berbagai makna. Pasalnya, penyerupaan makna yang sifatnya akliyyah dengan menggunanakan perkara yang terindera dapat mengokohkan makna, menghilangkan kesamaran dan keraguan sebagaimana perkara yang teraba. Dan  di sini ada pemalingan pandangan yang mengajak manusia untuk mencermati, merenungkan, dan memahami maksud dari agungnya perumpamaan ini.”

Laksana Pohon yang Buruk

Allah Swt berfirman: Wa matasl kalimat[in] khabîtsat[in] ka syajarat[in] khabîtsat[in] (dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk). Jika kalimah thayyibah adalah kalimat tauhid, iman, atau aqidah Islam, maka pengertian kalimah khabîtsah, sebagaiamana dijelaskan al-Baghawi dan al-Zuhaili adalah al-syirk (kemusyrikan). Atau kalimat al-kufr beserta cabang-cabangnya, sebagaimana dikemukakan Abdurrahman al-Sa’di. Termasuk dalam cakupan kalimat tersebut adalah semua agama, ideologi, dan pemikiran kufur dan sesat.

Semua ide tersebut dalam cakupan kalimah khabîtsah tersebut diserupakan dengan syajarah khabîtsah (pohon yang buruk). Menurut beberapa mufassir, pohon tersebut adalah al-hanthal (sejenis labu, namun pahit rasanya). Ada juga yang menafsirkannya dengan pohon al-syawk (pohon berduri).

Menurut Fakhruddin al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghayb, penafsiran tersebut tidak perlu terlalu dipersoalkan. Yang penting, sebagaimana disebutkan ayat ini, pohon tersebut khabîtsah (buruk). Buruk dari sisi baunya, rasanya, bentuknya, atau bahkan bahayanya yang banyak. Pohon tersebut memiliki semua sifat tersebut, sekalipun tidak ada faktanya.

Sifat pohon yang buruk tersebut digambarkan dalam frasa berikutnya: [i]jtutsat min fawq al-ardh (yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi). Sifat ini kebalikan dari syajarah thayyibah yang akarnya menghunjam ke dalam tanah. Syajarah khabîtsah tersebut disebutkan [i]jtutsat min fawq al-ardh. Pengertian [i]jtutsat adalah  [u]stu`shilat (tercerabut akarnya). Hakikat al-ijtitsâts adalah akhdz al-jutstsah kullihâ (tercerabut seluruh batangnya). Demikian al-Razi dalam tafsirnya. Dikatakan al-Zuhaili bahwa realitas tersebut sebagaimana syirik kepada Allah, yakni tidak ada hujjah, keteguhan, dan kekuatan.

Kemudian ditegaskan dalam frasa: mâ lahâ min qarâr (tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun). Mengingat akar merupakan bagian paling penting bagi pohon, maka ketika tercerabut, maka pohon itu pun lemah dan rapuh. Menurut al-Razi, kalimat ini seolah sebagai penyempurna terhadap sifat yang disebutkan sebelumnya. Bahwa pohon tersebut tidak memiliki kekuatan yang kukuh.

Perumpamaan tersebut benar-benar sesuai dengan fakta al-kalimah al-khabîtsah. Bahwa pohon tersebut mengandung bahaya yang amat banyak dan kosong dari segela manfaat. Reaitas banyaknya bahaya digambarkan dengan kata khabîtsah. Sedangkan kosong dari segala manfaat digambarkan dengan kalimat: [i]jtutsat min fawq al-ardh mâ lahâ min qarâr (yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun).

Inilah perumpamaan yang sempurna menggambarkan perbandingan antara Islam dengan seluruh agama, ideologi, dan pemikiran kufur. Orang yang berakal, tentu tak akan tertarik dengan agama, ideologi, dan pemikiran, meskipun dikemas dengan propganda yang mempesona. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.(Ustadz Rokhmat S. Labib, M.E.I.)


Ikhtisar:
1.      Islam laksana pohon yang baik. Akidah yang menjadi akarnya kokoh, sedangkan syariah yang menjadi batang, cabang, dan buahnya memberikan jawaban sempurna atas seluruh problema manusia
2.      Kekufuran laksana pohon yang buruk. Tidak dibangun atas dasar bangunan yang kokoh dan melahirkan bahaya bagi manusia

19 November 2011

MASIH PANTASKAH KITA.?

Rasulullah Saw telah bersabda, "Allah telah mewahyukan kepadaku: "Wahai saudara para Rasul, wahai saudara para pemberi peringatan! Berilah berita peringatan kpda kaummu, agar mereka jgn memasuki satu rumahpun dari rumah2-Ku (masjid), kecuali dgn hati yg bersih, lidah yang benar, tangan yg suci, dan kemaluan yg bersih. Janganlah mereka memasuki salah satu rumah-Ku (masjid) padahal mereka masih tersangkut barang aniayaan hak orang lain. Sesungguhnya Aku tdk memberi rahmat, selama ia berdiri dihdpan-Ku melakukan shalat hingga ia mengembalikan barang aniayaan itu kpda pemiliknya. Apabila ia telah mengembalikannya, Aku akan jd alat pendengarannya yg dgn alat itu ia mendengar, dan Aku akan menjadi alat penglihatannya yang dgnnya ia akan melihat, dan ia akan menjadi salah seorang kekasih dan orang pilihan-Ku, dan akan menjadi tetanggaKu bersama para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada yang ditempatkan didlm surga."(Hadits Qudsiy riwayat Abu Na'im, Hakim, al-Dailami, dan Ibnu 'Asakir dari Hudzaifah ra.)


Khalifah Umar bim Abdul Aziz pernah memberikan pesan kpda kaum muslim: "Wahai sekalian manusia! jgnlah kalian menganggap kecil dosa2 itu. Selidiki dan usahakanlah untuk mengkikis habis dosa2 yg pernah dilakukan dgn jalan melakukan taubat....Telah sia2 dan merugi orang2 yg keluar dari rahmat Allah yg meliputi segala sesuatu. Mereka tlh diharamkan masuk ke suqga yg luasnya seluas langit dan bumi. Ketahuilah, perasaan aman pd hari kiamat hanya dimiliki oleh orang2 yg takut akan Rabbnya. yaitu orang yg suka menjual barangnya yg sedikit untuk ditukar dgn barang yg lebih banyak, orang yg suka menukar yg fana' (dunia) dgn yg kekal abadi (akhirat)."
 
Lalu, apakah kita masih pantas memasuki rumah Allah dan mendptkan rahmat di sisi Allah Swt. sementara itu, tangan dan hati kita masih berlumuran dosa dan kedzaliman.

Pantaskah kita duduk dihdpan-Nya, sedangkan farji dan pandangan kita tdk prnah di jaga. Masihkah kita berharap menjadi kekasih Allah. pdhal, kita masih suka menganiaya dan memusuhi kekasih-kekasih-Nya?

Pantaskah kita menjadi tamu Allah Swt. pdhak kita masih menanggung barang2 aniayaan milik orang lain, tdk prnah henti2nya membebani rakyat dgn beban2 berat, dan menguras harta dan peluh mereka?

Pantaskah kita bermunajat memohon ampunan Allah. sementara itu kita getol menyudutkan bhkan merencanakan makar untuk memenjarakan dan menyakiti pembela2 agama Allah yg selalu merindukan tertegaknya al-Quran dan as-Sunnah? 

Pantaskah kita berharap surganya Allah Swt. sementara itu kita gemar memburu dan memerangi kaum mukhlish yg selalu mendekatkan diri kpda Allah Swt. dgn alasan terorisme, makar dan seribu alasan lainnya?

Bukankah Allah Swt. telah menyatakan melalui lisan Nabi Muhammad Saw, "Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku, Aku telah mendeklarasikan perang kpdanya..."(Hadits Qudsiy, HR.Bukhari)

Betapa angkuh dan sombongnya diri kita! Kita selalu membenci dan memusuhi orang yg dicintai Allah Swt. namun masih berharap mendapat kecintaan dan rahmat dari Allah Swt. Betapa banyak kekasih Allah Swt yg distigma dgn cap2 buruk, bhkan diperlakukan tdk manusiawi. Apakah kita tdk mengetahui atau pura2 tdk tahu, bahwa tdk ada perbuatan yg lebih hina dibandingkan memerangi dan memusuhi kekasih-kekasih Allah Swt. Lantas, masih pantaskah kita menyandang muslim dan mukmin, namun, kita enggan untuk tunduk dgn aturan Allah. bahkan memproduk aturan2 yg bertentangan dgn aturan Allah? Bila tdk pantas lalu gelar apa yg paling pantas bagi kita? Wallahua'lam.(www.taman-langit7.co.cc)

6 Desember 2010

Hijrah adalah Satu dari Tiga Pilar Penegakan Islam

Hari ini adalah hari terakhir tahun 1431 Hijriyah. Kalau Allah beri kita umur tambahan, insya Allah nanti sore setelah mata hari tenggelam kita akan memasuki awal tahun 1432 Hijriyah.

Pelajaran apa yang kita dapatkan dari peristiwa Hijrah, khususnya Hijrah Rasul SAW dan para sahabat ke Madinah? Inilah pertanyaan yg selalu kita tanyakan pada diri kita saat melewati pergantian tahun Hijriyah, atau saat memasuki tahun baru Hijriyah.

Hijrah adalah satu dari tiga pilar Islam, yakni Iman, Hijrah dan Jihad. Inilah tiga pilar Islam yang menyebabkan Islam bisa tegak dalam diri, dalam rumah tangga, dalam masyarakat dan bahkan dalam sebuah pemerintahan, atau negara.

Bila salah satu ditinggalkan, maka bangunan Islam itu tidak akan pernah berdiri dengan kokoh, lurus dan sempurna, bahkan menjadi miring dan tidak akan lama bertahan kemudian roboh. Allah menjelaskan :

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2] : 218)

Sesungguhnya bangunan Islam, baik dalam diri, rumah tangga, masyarakat apalagi dalam bentuk negara dan pemerintahan sudah roboh sejak tahun 1924, saat robohnya Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki di tangan Mustafa Kemal Ataturk.

Sejak itu, sampai saat ini, bangunan Islam belum berhasil di tegakkan kembali. Sebabnya jelas, karena umat Islam belum memiliki tiga tiang pilar tersebut dalam waktu yang bersamaan. Pilar iman saja tidak cukup, apalagi hanya pilar hijrah atau jihad saja. Begitu pula, jika pilar iman masih lemah, maka pilar hijrah dan pilar jihad juga akan ikut lemah.

Sesungguhnya tiga pilar tersebut merupakah kehendak robbani yang tidak mungkin diganti lagi. Itu adalah ketetapan sang Pencipta alam semesta. Dengan tiga pilar itulah Islam ini ditegakkan oleh Rasul SAW, sehingga bisa bertahan 13 abad lamanya.

Jika kita ingin merekonstruksi bangunan Islam ini kembali ke dalam kehidupan nyata khususnya pemerintahan dan negara, apalagi khilafah, maka ketiga pilar tersebut harus kita miliki terlebih dulu.

Tanpa ketiga pilar tersebut, mustahil bangunan Islam itu dapat tegak kembali. Bisa-bisa apa yang kita harapkan tak lebih dari fatamorgana.Allahu a'lam.(eramuslim.com)

1 Desember 2010

Haji Malcolm X dan Persatuan Umat

Malcolm X
Ibadah Haji telah merubah pemikiran seseorang yang tadinya tidak percaya terwujudnya persaudaran kulit hitam dan kulit putih
Tokoh kulit hitam Amerika Al-Hajj Malik El-Shabazz atau dikenal sebagai Malcolm X. Dia menulis surat dari Mekkah setelah melakukan ibadah haji , mengungkapkan indah persaudaraan Islam:
“Belum pernah aku menyaksikan keramahtamahan yang tulus dan semangat yang luar biasa dari persaudaraan sejati seperti yang dilakukan oleh orang-orang dari semua warna dan ras di sini, di Tanah Suci kuno, rumah dari Ibrahim, Muhammad dan semua nabi lain yang tertera dalam Kitab Suci. Seminggu berlalu, saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, terpesona oleh keanggunan yang aku lihat di sekelilingku oleh orang-orang dari semua warna. ”
“Saya telah diberkati untuk mengunjungi Kota Suci Mekkah, saya telah berkeliling tujuh putaran mengitari ka’bah , yang dipimpin oleh seorang Mutawaf muda bernama Muhammad, aku minum air dari sumur Zam Zam dan berlari-berlari tujuh kali bolak-balik antara bukit Al Safa dan Al Marwah , Saya berdoa di kota kuno Mina, dan aku telah berdoa di Gunung Arafat. ”
“Ada puluhan ribu peziarah, dari seluruh dunia. Mereka semua warna, dari pirang bermata biru hingga orang Afrika yang berkulit hitam. Tapi kita semua berpartisipasi dalam ritual yang sama, menampilkan semangat persatuan dan persaudaraan sesuatu . Padahal berdasarkan pengalaman saya di Amerika saya yakin tidak akan pernah ada persatuan antara kulit putih dan non kulit putih.
“Amerika perlu memahami Islam, karena ini adalah satu-satunya agama yang menghapus masalah ras dari masyarakatnya . Sepanjang perjalanan saya di dunia Muslim, saya bertemu, berbicara dengan, bahkan makan dengan orang-orang yang di Amerika dianggap putih - Tapi anggapan itu telah dihapuskan dari pikiran mereka oleh oleh agama Islam. Saya belum pernah melihat sebelumnya persaudaraan tulus dan benar yang dipraktekkan oleh semua warna bersama, terlepas dari apa warna mereka ”
“Selama sebelas hari terakhir di sini , di dunia Muslim, saya makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, dan tidur di karpet yang sama - sambil berdoa kepada Tuhan yang sama - dengan sesama Muslim, yang matanya terbiru dari yang biru, dan kulitnya terputih dari yang putih. “Kami benar-benar semua sama (bersaudara) - karena keimanan kepada Tuhan yang Satu telah menghapus ‘putih’ dari pemikiran dan perbuatan mereka”
Ibadah haji memang mencerminkan persatuan dan persaudaran umat Islam. Dengan pakaian ihram yang sama, muslim seluruh dunia dari berbagai ras, warna kulit, jabatan, tingkat ekonomi, bergerak bersama melakukan ibadah yang sama : thawaf, sa’i, melontar jumroh, dan wukuf di Arafah. Apa yang membuat umat Islam bisa bersatu seperti itu ?
“Keimanan kepada Allah SWT !”, demikian disimpulkan Malcom X , aktifis kulit hitam Amerika yang tadinya tidak percaya kulit hitam dan kulit putih bisa dipersatukan. Prinsiptauhid La ilaha illa Allah telah melebur semua. Dalam Islam kemuliaan bukanlah diletakkan pada atribut fisik, jabatan, atau harta, tapi pada ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Ucapan “Labbaika Allahumma labbaik, Labbaika la syarika Laka labbaik, Inna-l-Hamda wan-ni’mata Laka walmulk, La syarika Laka’ terdengar menggema dimana-mana. Pengakuan untuk tidak menduakan Allah SWT. Bukan semata-mata mengakui hanya Allah SWT yang menciptakan manusia, tapi juga mengakui hanya Allah SWT yang berhak disembah, termasuk hanya hukum Allah SWT yang berhak mengatur manusia bukan yang lain.
Keimanan kepada Allah itulah telah membuat kaum muslim tunduk kepada perintah Allah SWT , menjalankan ibadah seperti yang diperintah oleh Allah SWT. Dengan taat kepada aturan Allah yang satu, mereka thawaf, sa’i, dengan gerakan yang sama. Wukuf bersama di Arafah pada tempat dan waktu yang sama . Benar, Iman dan Ketaatan kepada Allah SWT melahirkan persatuan, keharmonisan dan kesetaraan. Semua ini juga menjawab keraguan akan sebagian pihak yang menyatakan umat Islam tidak mungkin untuk bersatu. Dengan iman semata-mata kepada Allah dan ketaatan semata-mata kepada syariah Allah SWT umat Islam pasti bersatu. Karena itulah kuncinya.
Berdasarkan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT ini pulah muncul kewajiban menegakkan Khilafah, sistem politik dan kepemimpinan agung yang menyatukan umat Islam. Sebagaimana kita tahu keimanan kepada Allah terwujud dalam bentuk ketaatan kepada seluruh hukum-hukum Allah SWT. Tidaklah mungkin hukum Allah SWT yang mengatur segala aspek kehidupan mulai dari pribadi,ibadah, sampai mu’amalah (ekonomi, politik, pengadilan , sosial) bisa dilaksanakan secara menyeluruh tanpa ada kekuasaan atau otoritas politik yang disebut negara. Khilafah adalah bentuk negara yang akan menjalankan seluruh syariah Islam. Persatuan juga tidak mungkin tanpa ada kepemimpinan. Dan Khilafah adalah kepemimpinan menyeluruh yang akan menyatukan umat.
Rosulullah SAW disamping menyerukan Islam berupa tauhid dan aturannya, juga berusaha keras mencari kekuasaan. Bukan sebagai tujuan tapi sebagai thoriqoh (metode) untuk mewujudkan tauhid dan aturan-aturan Islam. Rosulullah SAW dengan bimbingan wahyu sangat menyadari kekuasaan itu akan terwujud kalau didukung oleh kesadaran umat yang kemudian menuntut tegaknya Islam dan dukungan (an nushroh) dari ahlul quwwah (elit strategis yang memiliki kekuatan).
Dua hal ini (kesadaran umat dan dukungan ahlul quwwah) serius dan sungguh-sungguh dilakukan Rosulullah SAW . Semua itu tidak sia-sia, dengan kesadaran masyarakat madinah dan dukungan qabilah Aus dan Khozraj, Rosulullah SAW diangkat sebagai kepala negara di Madinah menerapkan syariah Islam.
Khalifah Islam akan menyatukan umat Islam diseluruh dunia. Khilafah adalah pemimpin yang mewakili kepentingan Islam secara keseluruhan, bukan merepresentasikan kepentingan kelompok etnis, suku, klan, atau bangsa. Karena itu tidak terikat atau terbiaskan pada suatu suku, keluarga, atau bangsa tertentu.
Kemampuan integrasi Islam dibawah naungan Khilafah tidak terbantahkan secara historis. Kekuasaan Daulah Khilafah Islam menyebar mulai dari jazirah Arab, Persia, India , Kaukasus, hingga mencapai perbatasan Cina dan Rusia. Membebaskan Syams bagian Utara , Mesir, Afrika Utara, Spanyol , Anatolia, Balkan, Eropa Selatan dan Timur, hingga digerbang Wina di Australia.
Khilafah mengintegrasikan kawasan beragama Kristen ( Byzentium, Ethiopia, Kipti Mesir, Syam dan Bushra); Majusi-Zoroaster (Persia, Bahrain, Oman, Yamamah,Yaman), confusius (China) dan Hindu (India) . Mengintegrasikan berbagai ras, suka, dan warna kulit : semetik (Arab, Syriani, Kaldean), Hametik (Mesir, Nubia, Berber dan Sudan); Aria (Parsia, Yunani, Spanyol dan India), Tourani (Turki dan Tartar) .
Walhasil hanya Khilafah yang akan mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia berdasarkan Akidah Islam. Rasulullah saw bersabda: “Dengarkan dan patuhilah pemimpin, sekalipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang kepalanya seperti kismis.” [Bukhari](FW)

6 November 2010

Agar Mulia Di Mata Allah SWT

"Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, yang membangun kuburannya sebelum memasukinya dan yang ridha kepada Tuhannya sebelum berjumpa dengan-Nya.”(Yahya bin Muadz ar-Razi dalam An-Nawawi, Nasha'ih al-'Ibad, hlm. 12).

Mengomentari pernyataan di atas, Imam an-Nawawi menyatakan: Pertama, 'meninggalkan dunia' sebelum 'dunia meninggalkannya' bermakna menghabiskan harta dalam berbagai amal kebajikan sebelum Allah mencabut harta itu dari dirinya. Kedua, 'membangun kuburan' sebelum memasukinya bermakna memperbanyak amal shalih saat di dunia sehingga ia bisa merasakan kedamaian di alam kuburnya saat kematiannya. Ketiga, ridha kepada Tuhannya sebelum berjumpa dengan-Nya adalah dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya sebelum ia menghadap Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.

Jika direnungkan, pernyataan di atas sesungguhnya amat dalam maknanya dan amat berharga. Apalagi jika dikaitkan dengan realitas kehidupan kaum Muslim saat ini.

Saat ini, sebagaimana kita lihat, banyak Muslim yang hidupnya berkecukupan. Namun, banyak di antara yang berkecukupan itu menghabiskan hartanya justru dalam perkara-perkara yang kurang bermanfaat, bahkan dalam perkara-perkara maksiat. Tak sedikit orang yang dengan mudah membeli segelas kopi seharga puluhan ribu di hotel mewah, tetapi begitu susah mengeluarkan beberapa rupiah saja untuk bersedekah. Banyak orang dengan yang dengan ringan merogoh sakunya ratusan bahkan jutaan rupiah untuk menyewa kamar di hotel berbintang beberapa malam saja, namun betapa berat mereka menyumbang untuk dakwah atau membangun masjid meski dengan jumlah yang sedikit.

Tak sedikit orang berlomba membangun rumah atau apartemen mewah meski tentu hanya untuk hidup sementara saja. Anehnya, mereka tak sedikitpun tertarik untuk berlomba-lomba 'membangun kuburannya' (baca: dengan memperbanyak amal shalih sebagai bekal di dalamnya). Padahal alam kubur itulah yang akan mereka tempati, sebagai alam penantian, sebelum pada akhirnya ia tinggal di alam akhirat dengan abadi.

Banyak pula orang yang jarang menunaikan perintah-perintah Allah SWT dan malah banyak meninggalkan larangan-larangan-Nya, seolah-olah ia tak pernah ridha menerima semua itu dari Tuhannya; seakan-akan ia tak akan pernah bertemu dengan-Nya di Hari Akhir nanti untuk mempertanggungjawabkan selu-ruh sikap dan amal perbuatannya itu saat di dunia.

Agar kita tak terjebak dengan perilaku-perilaku di atas, alangkah baiknya kita merenungkan kata-kata Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saat beliau betutur, ”Jika Anda berjumpa dengan seseorang di antara manusia, Anda hanya melihat keutamaan dan keunggulan dirinya dari-pada Anda seraya berkata, 'Boleh jadi Allah menjadikan dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya daripada aku.' Jika orang yang Anda jumpai itu lebih muda dari Anda, Anda berkata, 'Dia tentu lebih sedikit bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku telah banyak bermaksiat kepadanya sehingga tentu ia lebih baik daripada aku.' Jika orang yang Anda jumpai lebih tua dari Anda, Anda berkata, 'Dia tentu lebih banyak beribadah daripada aku.' Jika orang yang Anda jumpai adalah orang yang berilmu, Anda berkata, 'Dia tentu mendapatkan karunia dari Allah apa yang tidak aku peroleh, mengetahui banyak hal dari apa yang tidak banyak aku ketahui dan dia pasti telah banyak mengamalkan ilmunya.' Jika orang yang Anda jumpai adalah orang awam/bodoh, Anda berkata, 'Kalaupun ia bermaksiat kepada Allah tentu karena ketidaktahuan dan ketidak-sadarannya, sedangkan jika aku bermak-siat kepada-Nya tentu dengan sepenuh pengetahuan dan kesadaranku.'...”

Dengan kata-katanya ini tentu Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tidak sedang menyuruh kita bersikap pesimis dan ber-kecil hati. Beliau hanya ingin agar kita selalu bersikap rendah hati dan tahu diri, bahwa dalam hal kebajikan dan amal shalih boleh jadi kita belum apa-apa dibandingkan dengan orang lain. Dengan itu, kita akan selalu terpacu untuk menjadi orang yang lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, kita pun dituntut untuk sadar diri, bahwa boleh jadi kita lebih banyak berdosa dan bermaksiat dibandingkan dengan orang lain. Dengan itu, kita akan lebih banyak bertobat dan meninggalkan lebih banyak lagi maksiat. Dengan semua itu, justru kita akan lebih mulia dalam pandangan Allah SWT. Benarlah kata-kata Imam Ali kw., ”Jadilah Anda 'besar' (mulia) dalam pandangan Allah SWT dan kecil dalam pandangan Anda sendiri.”

Wa mâ tawfîqî illâ billâh. arief b. iskandar

26 Oktober 2010

Kaligrafi Masjid Alhambra Mengantarnya Menjadi Seorang Muslimah

"Saya duduk di dalam Masjid Alhambra, Spanyol sambil menatap tulisan yang terukira indah di dinding-dindingnya. Tulisan yang paling indah yang pernah saya lihat. Saya lalu bertanya pada orang-orang di sekitar 'bahasa apa itu?' mereka menjawab bahwa itu bahasa Arab," kenang Karima Burns ketika pertama kali ia mengenal tulisan dalam bahasa Arab.

Tulisan Arab yang pertama kali dilihat Burns ternyata sangat berkesan di hatinya. Hingga keesokan harinya, ketika pemandu tur menanyakan soal pilihan bahasa buku panduan wisata yang ia inginkan, dengan mantap Burns menjawab ia menginginkan buku panduan wisata yang ditulis dalam bahasa Arab.

"Bahasa Arab? Apa Anda bisa berbahasa Arab," tanya si pemandu ingin tahu

"Tidak. Bisakah Anda juga memberikan saya buku versi bahasa Inggrisnya?" kata Burns.

Di akhir perjalanan wisatanya, Burns membawa "oleh-oleh" satu tas penuh buku panduan wisata tempat-tempat yang dikunjunginya di Spanyol. semuanya berbahasa Arab. Saking banyaknya, Burns sampai memberikan pakaiannya pada orang lain agar buku-buku itu bisa masuk semua ke dalam tasnya. Baginya, buku-buku panduan wisata berbahasa Arab itu ibarat emas yang lebih berharga dibandingkan baju-bajunya. Ia membuka buku-buku itu setiap malam dan mengagumi tulisan-tulisan Arab di halaman demi halaman.< "Saya berkhayal bisa menulis tulisan yang indah itu dan saya mulai berpikir pasti ada sesuatu yang berharga dari sebuah budaya yang memiliki bahasa yang sangat artistik. Saya bertekad untuk mempelajari bahas ini begitu saya mulai kuliah pada musim gugur," tutur Burns.

Dua bulan menjelang kuliahnya dimulai, Buns meninggalkan keluarganya di Iowa dan berangkat ke Eropa, sendirian. Usianya ketika itu baru 16 tahun. "Saya ingin melihat dunia dulu sebelum masuk kuliah di Universitas Northewestern. Itulah yang saya katakan pada teman-teman dan keluarga. Padahal sebenarnya saya sedang mencari jawaban. Saya sudah meninggalkan gereja beberapa bulan sebelumnya, dan tak tahu kemana harus berpaling. Saya tak tahu alternatif apa yang akan saya pilih," ungkap Burns.

Ia berharap bisa menemukan ide apa yang akan ia lakukan setelah "keluar" dari gereja. Di gereja, kata Burns, umat Kristiani tidak diizinkan berdoa langsung pada Tuhan. Mereka hanya bisa berdoa pada Yesus dan berharap Yesus akan meneruskan doa itu pada Tuhan. Burns merasa ada yang salah dengan ajaran seperti itu dan diam-diam ia selalu berdoa langsung pada Tuhan. Burns percaya bahwa hanya ada satu entitas dengan siapa ia harus berdoa. Tapi di dalam hatinya, Burns merasa bersalah karena tidak menaati apa yang telah diajarkan agamanya. Situasi itu membuatnya bingung dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Burns bertanya-tanya mengapa umat Kristiani diwajibkan ke gereja hanya pada hari Minggu. Ia bingung melihat tingkah orang-orang yang berbeda 180 derajat ketika ada di gereja dan ketika berada di luar gereja. Apakah bersikap baik hanya pada hari Minggu saja, saat mereka semua harus ke geraja? Burns tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Ia membaca tentang 10 larangan Tuhan, seperti tidak boleh membunuh, tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri dan hal-hal buruk lainnya yang sudah jelas. Di luar itu, Burns tak menemukan tuntutan bagaimana ia harus bertindak ketika berada di luar gereja.

"Yang saya tahu, mungkin tidak pantas mengenakan rok mini ke gereja atau kami ke gereja pada hari Minggu supaya bisa melihat cowok-cowok keren di gereja," ungkap Burns.

Suatu hari, ia berkunjung ke rumah seorang gurunya dan di sana ia melihat jejeran alkitab di rak buku. Menurut gurunya, alkitab itu berbeda-beda versi. Ia melihat gurunya tidak terlalu peduli melihat alkitab denga banyak versi berbeda. Tapi Burns merasa tak nyaman mengetahui hal itu. Ia menemukan bagian yang sangat berbeda antara versi yang satu dengan yang lainnya, bahkan ada bab-bab yang tidak ia temukan seperti di dalam alkitab yang sering dibacanya. Burns makin bingung.

Di Eropa ia tidak menemukan jawaban atas kebingungannya. Burns pun pulang dengan perasaan kecewa. Tapi keinginannya untuk mempelajari bahasa Arab tetap membara. Saat menatap tuisan di dinding Masjid Alhambra, Burns tidak menyadari bahwa tulisan itulah jawaban atas semua keresahan jiwanya. Burns baru menyadarinya dua tahun kemudian.

Belajar Bahasa Arab

Di hari pertama ke kampus, Burns langsung mendaftarkan diri ke kelas bahasa Arab. Hanya ada empat orang, termasuk dirinya yang mendaftar ke kelas yang paling tidak populer di kampus itu. Semangat dan minat Burns yang tinggi pada bahasa Arab membuat guru bahasa Arabnya terheran-heran. Ia mengerjakan PR dengan menggunakan pena untuk kaligrafi. Ia juga mengunjungi komunitas Arab di Chicago hanya untuk mencari tahu kebenaran soal bahasa Arab dalam tulisan botol Coca Cola. Setengah memelas, Burns memohon agar guru bahasa Arabnya meminjamkan buku-buku dalam tulisan Arab agar ia bisa melihat dan mengagumi bentuk tulisan Arab itu.

Di tahun kedua kuliahnya, Burns memutuskan untuk mengambil jurusan studi Timur Tengah. Ia lalu mengambil beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan studi tersebut. Salah satunya mata kuliah tentang Al-Quran.

"Suatu malam saya membuka Al-Quran untuk mengerjakan PR kuliah dan saya tidak bisa berhenti membacanya. Seolah-olah saya menemukan sebuah novel menarik yang membuat saya terus membacanya. Membaca Al-Quran, hati saya berteriak 'Wow, ini hebat sekali. Inilah yang selalu saya yakini.' Al-Quran memberikan jawaban atas semua pertanyaan saya soal bagaimana kita harus berperilaku setiap hari dan dalam Al-Quran juga dengan jelas ditegaskan bahwa Tuhan itu satu," papar Burns.

Ia mengaku terkagum-kagum ada sebuah "buku" yang menuliskan semua yang ia yakini dan apa yang selama ini ia cari, dan apa yang tertulis di dalamnya, semuanya masuk akal. Keesokan harinya ia di kelas Al-Quran ia menanyakan tentang pengarang "buku" itu, karena di "buku" itu tertulis satu nama orang.

Profesor di kelasnya memberitahunya bahwa nama yang tertulis di dalam "buku" itu bukan nama pengarangnya tapi nama penerjemahnya. Burns juga mendapat penjelasan bahwa Qur'an berisi firman-firman Allah dan sejak diturunkan tidak penrah mengalami perubahan, terus dibaca dan kemudian dikumpulkan dalam bentuk "buku".

"Saya betul-betul terpesona dan makin bergairah untuk mempelajari bahasa Arab, bahkan lebih dari itu, saya jadi ingin mempelajari Islam dan berniat jalan-jalan ke Timur Tengah," tukas Burns.

Di tahun terakhir kuliahnya, ia berangkat ke Mesir melanjutkan studi Timur Tengahnya. Kota Kairo menjadi tempat "Islami" favoritnya karena berada di masjid-masjid di kota itu membuatnya merasa tenang dan tentram. "Saya bisa merasakan, berada di dalam masjid, seseorang bisa merasakan keindahan, kekuatan dan kehadiran Allah Swt. Dan saya begitu menikmati tulisan-tulisan kaligrafi yang elegan di dinding-dinding masjid," ujar Burns.

Suatu hari, seorang teman Burns bertanya mengapa ia tidak masuk Islam saja jika ia sangat mengagumi Islam. Dengan enteng Burns menjawab, "Tapi saya sudah menjadi muslim", sebuah jawaban yang ia sendiri kaget mendengarnya. Saat itu Burns beranggapan bahwa menjadi muslim adalah persoalan logika dan persoalan sederhana. Burns mengakui Islam adalah agama yang bisa diterima akalnya, memberinya inspirasi dan ia mengakui kebenaran ajaran Islam. Ia berpikir, jika sudah mengakuinya, kenapa ia juga harus pindah agama? Sahabat Burns tadi lalu menjelaskan bahwa ada yang wajib dilakukan Burns jika ia secara resmi ingin menjadi seorang muslim.

Burns akhirnya mengikuti saran sahabatnya itu. Ia lalu datang ke sebuah masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan dua orang saksi. Ia pun resmi menjadi seorang muslim dan diberikan sebuah sertifikat sebagai tanda bahwa ia sudah menjadi seorang muslim.

"Tapi saya menyimpan sertifikat itu bersama tumpukan surat-surat pribadinya. Buat saya, tidak perlu menggantung sertifikat itu agar orang tahu saya seorang muslim. Saya sudah dan akan selalu menjadi seorang muslim. Begitu saya membuka Al-Quran, saya merasa menemukan keluarga saya yang sudah lama hilang. Saya lebih senang memajang gambar masjid Alhambra di dinding kamar saya, daripada sertifikat keislaman saya," tandas Karima Burns.(eramuslim.com, 25/10/2010)

15 Oktober 2010

Menghafal Al Qur'an

Abu Umar bin Abdil Barr rahimahullahu berkata:
“Menuntut ilmu itu ada tahapan-tahapannya. Ada marhalah-marhalah dan tingkatan-tingkatannya. Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk melanggar/melampaui urutan-urutan tersebut. Barangsiapa secara sekaligus melanggarnya, berarti telah melanggar jalan yang telah ditempuh oleh as-salafus shalih rahimahumullah. Dan barangsiapa melanggar jalan yang mereka tempuh secara sengaja, maka dia telah salah jalan, dan siapa saja yang melanggarnya karena sebab ijtihad maka dia telah tergelincir.

Ilmu yang pertama kali dipelajari adalah menghafal Kitabullah serta berusaha memahaminya. Segala hal yang dapat membantu dalam memahaminya juga merupakan suatu kewajiban untuk dipelajari bersamaan dengannya. Saya tidak mengatakan bahwa wajib untuk menghafal keseluruhannya. Namun saya katakan bahwasanya hal itu adalah kewajiban yang mesti bagi orang yang ingin untuk menjadi seorang yang alim, dan bukan termasuk dari bab kewajiban yang diharuskan.”

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullahu berkata:
“Semestinya seorang penuntut ilmu memulai dengan menghafal Kitabullah, di mana itu merupakan ilmu yang paling mulia dan yang paling utama untuk didahulukan dan dikedepankan.”

Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullahu berkata:
“Yang pertama kali dimulai adalah menghafal Al-Qur’an yang mulia, di mana itu adalah ilmu yang terpenting di antara ilmu-ilmu yang ada. Adalah para salaf dahulu tidak mengajarkan ilmu-ilmu hadits dan fiqih kecuali kepada orang yang telah menghafal Al-Qur’an. Apabila telah menghafalnya, hendaklah waspada dari menyibukkan diri dengan ilmu hadits dan fiqih serta selain keduanya dengan kesibukan yang dapat menyebabkan lupa terhadap sesuatu dari Al-Qur’an tersebut, atau waspadalah dari hal-hal yang dapat menyeret pada kelalaian terhadapnya (Al-Qur’an).”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 60-61)
 

19 September 2010

Istiqamah Memegang Kebenaran

Aktivis Hizbut Tahrir Palestina Bernama Muhammad Yang Baru Berumur 16 Tahun

{mosimage}Ia disiksa oleh Otoritas Palestina hanya karena dakwah. Namun siksaan itu dihadapinya dengan gagah berani. Tak sedikit pun ia berkompromi.

Senin 25 Januari 2010 lalu. Muhammad (16 tahun) hanya mengenakan pakaian biasa, belum sempat mengenakan sepatu langsung digelandang masuk ke dalam mobil menuju markas keamanan otoritas Palestina. Bukannya, bertekuk lutut minta ampun agar perlakuan kasar petugas keamanan itu mereda, ia justru menghardik mereka, sehingga pukulan yang mendarat ditubuhnya semakin menjadi.

Karena Dakwah
 Mengapa ia ditangkap dan diperlakukan kasar begitu? Ia ditangkap bukan karena menculik anak gadis orang seperti yang marak di Indonesia saat ini, bukan pula karena terlibat tawuran atau pun narkoba. Remaja tanpa alas kaki itu hanyalah seorang yang telah mendapat pencerahan. Sehingga mempunyai kejernihan tujuan hidup di atas jalan dakwah Islam yang benar. Ia ditangkap lantaran dua hari sebelumnya telah menyebarkan pernyataan Hizbut Tahrir (nasyrah) yang berjudul, Otoritas Palestina yang Tunduk Kepada Yahudi Menculik dan Mengadili Para Aktivis Hizbut Tahrir.

Selama di dalam mobil, polisi tidak henti-hentinya memukuli Muhammad. Karena terlalu sakit, ia pun menjerit. “Cukuplah Allah bagi saya, dan Dia sebaik-baik wakil dalam melawan kalian. Cukuplah Allah bagi saya dalam melawan setiap orang zalim, dan mereka yang murtad!” teriak remaja 16 tahun ini.

Kontan saja mereka semakin marah dan jengkel, serta pukulan mereka semakin keras, sehingga menumbukkan gagang senjatanya ke kepala, punggung, kedua kaki, dan kedua tangan remaja yang tabu mengiba kepada Otoritas antek penjajah zionis Israel itu.

Teguh Pendirian
 Di markas keamanan ia dipertemukan dengan direktur pusat. “Apakah kamu mengakui Otoritas?” tanya sang direktur. “Saya tidak akan pernah mengakui legitimasi Otoritas selamanya!” jawabnya lantang.

Muhammad pun tidak mau mengatakan siapa yang memberikan nasyrah, jumlah dan tempat penyebarannya, ketika direktur pusat menanyakan itu. Kemudian, ia kembali lagi ke pertanyaan semula.

“Karena Otoritas ini dibentuk berdasarkan kesepakatan Oslo, sementara kesepakatan Oslo batal demi hukum (menurut syariah Islam). Sebab, berdasarkan kesepakatan itu, justru Otoritas telah menyerahkan Palestina kepada Yahudi, dan ini merupakan perbuatan haram. Sehingga setiap yang dibangun di atas sesuatu yang haram, maka ia juga haram, dan tidak sesuai syariah (ilegal). Oleh karena itu, bagaimana mungkin saya mengakui legitimasi sesuatu, sementara Allah tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sah, dan bagaimana mungkin saya menentang perintah Allah,” jawab Muhammad.

Lebih lanjut Muhammad mengatakan bahwa Otoritas Palestina malah berdamai dengan Yahudi dan menjaga keamanan Yahudi di satu sisi. Di sisi lain menangkapi, menyiksa, dan bahkan membunuh warga Palestina yang ikhlas yang ingin merdeka dari penjajahan Yahudi. “Kemudian, Anda menginginkan saya mengakui legitimasi semua ini, bodoh benar!” tandasnya.

Kemudian ia memanggil para eksekutor. Mereka mendudukkan Muhammad di atas kursi. Direktur keamanan itu pun kembali menampari Muhammad beberapa kali. Sementara para eksekutornya menarik tangan Muhammad ke belakang kursi, dan memegangnya dengan kuat.

Direktur itu berteriak, “Apakah kamu mengakui legitimasi Otoritas?”. “Tidak! Saya tidak akan pernah mengakuinya!” jawab Muhammad dengan berteriak pula.

Kemudian ia diseret ke ruang investigasi. Lalu, diajukan kepadanya beberapa pertanyaan terkait biodata dan keterkaitannya dengan Hizbut Tahrir. Ia jawab semua itu. Namun ia kembali tidak mau menjawab ketika ditanya soal nasyrah.

Ia pun dijebloskan ke dalam tahanan. Menjelang Shubuh, Direktur Pusat mendatanginya didampingi pasukan pengawal untuk menanyakan tentang pengakuan Muhammad atas legitimasi Otoritas. Namun jawabannya tetap sama.

Kemudian, ia bertanya pada Muhammad, “Apakah kamu yakin dengan apa yang ada dalam nasyrah itu?”. Dengan lantang Muhammad menjawab ia meyakini semua kebenaran yang dikandung oleh semua nasyrah yang dikeluarkan Hizbut Tahrir.

Mendengar itu, Direktur kembali naik pitam. Kemudian, ia dan para pengawalnya memukulinya bertubi-tubi.
Pagi harinya, Muhammad dipindahkan ke Markas Besar Investigasi di Kota Al Khalil Hebron. Di sana ia dijenguk ibunya. “Jangan pernah datang ke sini lagi, dan menemui seseorang di antara bajingan-bajingan di sini. Saya baik-baik saja, dan jangan khawatir tentang keadaan saya,” pesannya kepada ibunda yang sedang sakit itu.

Tolak Perjanjian
Agar bebas dari hukuman, Muhammad harus menandatangi sebuah pernyataan. Namun  ia menolak menandatangani lembar pernyataan yang disodorkan petugas. Mereka kemudian menghadirkan beberapa paman Muhammad yang juga diintimidasi.

Sehingga paman-pamannya pun membujuk dengan mengatakan sikapnya itu akan menambah beban ibu yang sedang sakit, cukup sekali tanda tangan maka Muhammad akan langsung bebas.

“Sungguh! Saya tidak berharap sikap seperti ini datang dari kalian! Ingat, selamanya saya tidak akan pernah tandatangani, sekalipun saya membusuk di dalam penjara,” jawabnya.

“Jika ini yang kamu inginkan, maka bertawakallah pada Allah, niscaya Allah pasti melindungimu,” pesan salah seorang pamannya. Setelah itu mereka pun pergi.

Kemudian, ia dipindahkan ke penjara remaja. Direktur penjara remaja membujuknya agar menandatangani sebuah pernyataan namun ia tetap menolak.

Ia pun dipindahkan ke Jaksa Militer di pusat kota. Selama tiga hari diinterogasi, lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama. Ia  pun tetap konsisten dengan jawabannya.

Sampailah seorang jaksa penuntut umum yang bersikap tenang menanyainya. Jawaban tetap tidak berubah. Sang jaksa pun tiba-tiba menjadi sangat marah. Kemudian ia mencaci maki Hizbut Tahrir, amirnya, dan para aktivisnya.

Sikapnya itu telah membakar kemarahan Muhammad, maka ia pun membalasnya melebihi apa yang jaksa itu katakan. Sang jaksa semakin marah, bahkan ia mengancam kelanjutan pendidikan Muhammad dan masa depannya. Kemudian, ia memerintahkan penjara 15 hari.

Namun beberapa hari kemudian, petugas mengeluarkannya dari sel dan membawa Muhammad kepada jaksa itu lagi. Sang Jaksa bersumpah dan mengancam agar remaja itu mau menandatangani pernyataan.

Kemudian, ia memanggil enam orang pengawalnya. Muhammad dipaksa duduk di atas kursi, yang empat orang memegang tangan kiri Muhammad dan menariknya ke belakang punggung. Yang lain, berusaha menaruh pena di tangannya, namun ia mengepal tangan erat-erat sehingga pena tidak dapat masuk. Tanda tangan gagal lagi didapat.

Selanjutnya, datang wakil jaksa penuntut umum, dan membawa Muhammad ke ruang lain.

Ia mulai berbicara dengan kata-kata yang manis agar Muhammad mau tanda tangan. Namun tetap nihil. Wakil jaksa itu pun mengatakan, “Bertandatanganlah di atas kertas putih ini!”. Muhammad menjawab, “Subhanallah! Saya tidak mungkin menandatangani sesuatu yang tidak jelas!”.

Kemudian ia menyodorkan kertas putih kepada Muhammad, dan berkata, “Tulislah apa yang Anda inginkan, lalu tandatangani.” Muhammad merobek kertas itu. Tidak putus asa, ia memberi Muhammad kertas lain, dan berkata, “Berpikirlah! Tulislah apa yang Anda inginkan, lalu tandatangani”.

Muhammad pun berpikir. Lalu  menulis, Saya yang bertanda tangan di bawah ini, fulan bin fulan, dari kota ini, tinggal di tempat ini, saya begitu bangga dapat bergabung dengan Hizbut Tahrir. Saya memutuskan akan tetap bergabung dengan Hizbut Tahrir, melakukan dakwah kepada kebaikan (Islam), amar makruf nahi mungkar, melakukan perjuangan politik, serangan pemikiran, serta akan selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan Hizbut Tahrir dan aktivitasnya, seperti masirah (unjuk rasa), dan sebagainya.

Ia pun membubuhkan tanda tangan di bawahnya. Wakil jaksa itu memperhatikannya. kemudian aparat itu tampak menghapus beberapa hal yang Muhammad sendiri tidak tahu maksud dari tindakan petugas Otoritas Palestina itu.

Lalu petugas keamanan membawa Muhammad ke sebuah kota yang tidak ia kenali. Melepasnya di pinggir jalan. Ia tidak tahu jalan ke rumah dan tidak punya uang untuk naik kendaraan. Sehingga akhirnya Allah mengirim orang baik dan mengantarnya pulang.[] joko prasetyo ( mediaumat.com )

 

2 September 2010

Mengagungkan dan Mengamalkan Alquran

Bulan Ramadhan sudah beberapa hari kita jalani. Sebagian ulama berpendapat, Ramadhan adalah bulan agung (syahr ‘azhîm), bulan mulia (syahr ‘ali) dan bulan penuh berkah (syahr mubârak). Di antara keagungan, kemuliaan dan keberkahan bulan Ramadhan karena dalam bulan inilah Alquran diturunkan (QS al-Baqarah [2]: 185), selain karena dalam bulan ini pula biasanya kaum Muslim lebih banyak lagi membaca dan mengkaji Alquran.

Keagungan Alquran. Keagungan Alquran bukan hanya karena ia diturunkan pada bulan yang istimewa, yakni Ramadhan. Keagungan Alquran tentu saja karena ia adalah kalamullah. Sebagai kalamullah, Alquran adalah kitab yang tak ada tandingannya. Allah SWT berfirman (yang artinya): Tidakkah kalian memperhatikan Alquran? Seandainya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan di dalamnya (TQS an-Nisa’ [4]: 82).

Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Jika kalian tetap dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah saja yang serupa dengan Alquran itu, dan ajaklah para penolong kalian selain Allah jika kalian memang orang-orang yang benar (TQS al-Baqarah [2]: 23).

Tidak aneh jika Baginda Rasulullah saw. pun bersabda, “ Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah…” (HR Ahmad).

Keutamaan membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR al-Bukhari).

Rasul juga bersabda, “Orang yang membaca Alquran dan dia menguasainya akan bersama-sama para malikat yang mulia dan baik. Adapun orang yang membaca Alquran secara terbata-bata dan merasakan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Rasul pun bersabda, “Tak ada iri kecuali terhadap dua orang: orang yang Allah beri Alquran, lalu ia mengamalkannya siang-malam; orang yang Allah beri harta, kemudian ia menginfakkannya siang-malam.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dosa Mengabaikan Alquran. Jika membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran dianggap sebagai perbuatan mulia, maka mengabaikan Alquran tentu merupakan perbuatan tercela. Allah SWT berfirman (yang artinya): Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (TQS al-Furqan [25]: 30).

Rasulullah SAW mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan Alquran sebagai mahjûr[an]. Mahjûr[an] merupakan bentuk maf‘ûl, berasal dari al-hujr, yakni kata-kata keji dan kotor. Maksudnya, mereka mengucapkan kata-kata batil dan keji terhadap Alquran, seperti tuduhan Alquran adalah sihir, syair, atau dongengan orang-orang terdahulu (QS al-Anfal [8]: 31). Bisa juga berasal dari al-hajr yakni at-tark (meninggalkan, mengabaikan, atau tidak memedulikan). Jadi, mahjûr[an] berarti matrûk[an] (yang ditinggalkan, diabaikan, atau tidak dipedulikan) (Lihat: at-Thabari, 9/385-386)

Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur’ân (meninggalkan atau mengabaikan Alquran). Di antaranya adalah-menurut al-Qasimi (7/425)-menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak men-tadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya, kemudian berpaling pada lainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau tharîqah yang diambil dari selainnya; sikap tidak mau menyimak dan mendengarkan Alquran; bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar Alquran saat dibacakan, sebagaimana digambarkan Allah SWT (Lihat QS Fushshilat [41]: 26).

Alquran memberi syafaat. Alquran akan memberikan syafaat (pertolongan) pada Hari Kiamat nanti kepada orang yang biasa membaca, mengkaji dan mengamalkannya. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah oleh kalian Alquran karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membaca dan mengamalkannya.” (HR Muslim).

Rasulullah bersabda, “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada Hari Kiamat nanti. Puasa akan berkata, ‘Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat. Karena itu, perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Alquran pun berkata, ‘Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karena itu, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Lalu syafaat keduanya diperkenankan.” (HR Ahmad, al-Hakim dan ath-Thabrani).

Semoga kita yang saat ini sedang berpuasa Ramadhan dan banyak membaca Alquran, termasuk orang yang akan mendapatkan syafaat puasa dan Alquran pada Hari Kiamat nanti. Amin.Wa ma tawfiqi illah billah. [arief b. iskandar]

27 Agustus 2010

MAKSIAT

Suatu ketika, ada seseorang yang menjumpai Ibrahim bin Adham ra. Ia kemudian berkata sembari meminta nasihat kepadanya, “Wahai Abu Ishaq, aku ini gemar sekali berbuat maksiat. Aku ingin berhenti, tetapi sering tidak bisa. Karena itu, tolonglah aku. Berilah aku nasihat agar aku tidak bermaksiat lagi.”

Ibrahim bin Adham ra. menjawab, “Bagiku, tak masalah engkau gemar berbuat maksiat, asalkan engkau memenuhi dulu lima syarat.”

Heran campur bingung, lelaki itu bertanya, “Apa saja lima syarat itu, wahai Abu Ishaq, sehingga saya dapat bebas berbuat maksiat?” 

“Syarat pertama,” kata Ibrahim bin Adham, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau makan dari rezeki-Nya.”

“Lalu, saya mau makan apa? Semua yang saya makan adalah rezeki dari Allah.”

“Kalau begitu, pantaskah engkau memakan rezeki dari Allah, sedangkan engkau suka melanggar perintah-Nya?” jawab Ibrahim.

“Baiklah. Apa syarat yang kedua?”

“Kalau engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.”

“Kalau bukan di bumi milik Allah, aku harus tinggal di mana? Bumi dan langit ini semuanya milik Allah.”

“Kalau begitu, layakkah engkau makan dari rezeki Allah dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan engkau gemar menentang aturan-Nya?”

Orang itu terdiam. Namun, ia kemudian bertanya lagi, “Baiklah. Terus, apa syarat yang ketiga?”

“Jika engkau ingin tetap makan dari rezeki Allah dan tetap tinggal di bumi milik-Nya, namun engkau pun tetap ingin bermaksiat kepada-Nya, silakan saja, asal engkau lakukan itu di tempat yang tidak dilihat oleh-Nya.”

“Wahai, Abu Ishaq,” kata lelaki itu, “Mana mungkin saya bersembunyi di tempat yang tidak dilihat-Nya, sementara Dia adalah Zat Yang Mahaawas?”

“Jika demikian, lalu mengapa engkau tetap bermaksiat kepada-Nya?” tegas Ibrahim lagi.
“Baiklah. Sekarang, apa syarat yang keempat?”

“Kalau Malaikat Maut datang menjemputmu, sedangkan engkau dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, katakan saja kepadanya, ‘Nanti saja, jangan cabut nyawaku dulu. Beri dulu aku kesempatan untuk bertobat dan beramal salih.’”

“Wahai Abu Ishaq, mana mungkin?”

“Kalau engkau sadar bahwa kematian tidak bisa ditunda, lalu mengapa engkau tetap tak mengindahkan perintah dan larangan-Nya?”

“Baiklah. Sekarang, apa syarat yang kelima.”

“Apakah engkau sudah tahu nasibmu nanti di akhirat, apakah masuk surga atau masuk neraka?” tanya Ibrahim balik bertanya.

“Tentu saja saya tidak tahu.”

“Kalau engkau tidak tahu nasibmu nanti di akhirat, apakah masuk surga atau masuk neraka, hal itu seharusnya sudah cukup untuk menghentikan dirimu dari kegemaranmu berbuat maksiat kepada-Nya.” 

Orang itu pun menangis. Ia kemudian berkata, “Wahai Abu Ishaq, cukup. Jangan Anda teruskan lagi. Mulai hari ini, aku akan bertobat dengan sebenar-benarnya kepada Allah. Aku berjanji, mulai hari ini aku tidak akan bermaksiat lagi.”

Demikianlah, sejak nasihat itu, lelaki itu berubah menjadi orang yang salih dan berusaha menjauhi segala kemaksiatan kepada Allah.

****

Sepenggal kisah di atas seharusnya sudah cukup memberikan ibrah bagi kita, betapa tidak pantasnya seorang manusia, apalagi Mukmin, banyak bermaksiat kepada Allah dan melanggar perintah-Nya. Memang, sebagaimana kata Nabi saw., manusia adalah tempat salah dan khilaf. Namun, sengaja berbuat maksiat kepada Allah, apalagi gemar melanggar perintah-Nya, bukanlah sikap sejati seorang Mukmin. 

Namun, begitulah manusia; sering lupa diri; bahkan sering tak tahu diri. Ia diberi kesempatan tinggal di bumi ini oleh Allah, diberi rezeki dari Allah, namun ia sering melupakan bahkan menentang perintah-Nya. Ia senantiasa diawasi oleh Allah, selalu diintai oleh Malaikat Maut, tetapi tak pernah menyadarinya. Banyak manusia yang bukan saja gemar bermaksiat kepada Allah, namun bahkan bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya. 

Hari-hari ini kita menyaksikan, betapa banyak orang yang tidak mau hidup diatur oleh syariah Allah, bahkan dengan sombong menentang syariah-Nya. Mereka berlagak seolah-olah merekalah pemilik dunia ini. Mereka merasa berhak untuk mengatur dunia ini sesuai dengan kehendak hawa nafsu mereka. Padahal, di antara mereka banyak yang mengaku Muslim. 

Kita melihat, banyak Muslim yang rajin salat, namun gemar pula bermaksiat; shaum di bulan Ramadhan, tetapi tetap melakukan keharaman di luar Ramadhan; berhaji berkali-kali, tetapi dengan biaya dari hasil korupsi; gemar berzikir, namun tetap tak mau mikir; suka bersedekah dan rajin berumrah, tetapi tak pernah mau peduli pada syariah; mengaku mencintai Nabi, namun sering berperilaku yang tidak islami; mengaku bermoral, tetapi paha dan pusar sering diobral; mengaku khawatir dengan kepribadian generasi muda, tetapi membiarkan para kapitalis mejerumuskan mereka ke dalam kubangan narkoba dan asusila; bersimpuh dan bersujud setiap waktu, tetapi menzalimi rakyat tak pernah jemu; mengklaim pelayan masyarakat, namun yang sering dibela para konglomerat jahat; “Bersama kita bisa,” katanya, sementara mengatakan ‘tidak’ kepada Amerika pun tak kuasa; mencita-citakan masyarakat yang bermartabat, namun membiarkan para wanita mengobral aurat; menghendaki masyarakat yang berbudi pekerti, tetapi tak pernah henti menyuguhi mereka dengan pornografi-pornoaksi; mengaku pengemban dakwah, namun tak pernah berusaha memperjuangkan syariah dan Khilafah; meyakini kedaulatan ada di tangan syariah, namun justru demokrasilah yang dibela dengan susah-payah; mengaku berjuang untuk sesuatu yang syar‘i, namun enggan mencontoh manhaj dakwah yang dicontohkan Nabi; mengklaim bagian dari masyarakat beradab, tetapi sering bertindak biadab; menangkapi para pejuang syariah, namun tak pernah mau menyentuh para penjarah; bertekad ingin keluar dari berbagai krisis, namun mendengar kata syariah saja ‘miris’; mengaku anggaran negara ‘kering’, namun sumber-sumber kekayaan alam terus diserahkan kepada pihak asing; mengaku bangsa merdeka, tetapi membiarkan diri diperlakukan semena-mena; mengklaim membenci penjajah, namun bermental layaknya bangsa terjajah. Na‘ûdzu billâh!  

[Arief B. Iskandar]


10 Agustus 2010

Sultan Abdul Hamid II: Pemimpin Amanah yang Dikhianati

Sultan Abdul Hamid II (1842-1918)
Di mana pemimpin seperti dia untuk umat?” tanya seorang pengguna milis Yahoo Indonesia! Answers, forum berbagi informasi, tempat siapa saja mengajukan pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan tersebut ditulis dalam bahasa Inggris, dengan huruf besar semua. Ditulis pada 4 Juni 2010. Him (dia) yang dimaksud oleh si penanya adalah Sultan Abdul Hamid II. 

Belum sempat yang lainnya memberikan jawaban, pengelola milis tersebut buru-buru menghapus pertanyaan yang berjudul Untuk Saudaraku Muslim… Semangat Sultan Abdul Hamid II Sehubungan dengan Palestina…? itu. 

Pertanyaan ini sudah dihapus. Begitulah kalimat pemberitahuan yang ditulis di samping logo segitiga merah bertanda seru warna putih tersebut. Lho mengapa dihapus? Memang siapa Sultan Abdul Hamid II itu dan apa hubungannya dengan Palestina?

Penjaga Palestina
Sultan, lahir pada hari Rabu, 21 September 1842. Dengan nama lengkap Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan. Ia adalah putra Abdul Majid dari istri keduanya. Ibunya meninggal saat ia berusia 7 tahun. 

Sultan menguasai bahasa Turki, Arab, dan Persia. Senang membaca dan bersyair. Pada 41 Agustus 1876 (1293 H), Sultan Abdul Hamid dibaiat sebagai Khalifah di tengah-tengah merosotnya pemahaman kaum Muslim akan Islam. 

Kebodohan itu membuat umat tidak tahu lagi mana kawan dan mana lawan. Tidak sedikit yang terkecoh dan bersekutu dengan penjajah termasuk penjajah Zionis Yahudi yang ngebet ingin mencaplok Palestina. Pada 1892 misalnya, sekelompok Yahudi Rusia memohon kepada Sultan untuk tinggal di Palestina. 

Permohonan itu dijawab Sultan dengan tegas. “Pemerintah Ustmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina”. Mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Empat tahun kemudian, konseptor Der Judenstaat  (Negera Yahudi) Theodor Hertzl, memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid sambil meminta izin mendirikan gedung di al Quds, Palestina. 

Permohonan itu dijawab sultan “Sesungguhnya Khilafah Utsmaniyyah ini adalah milik kaum Muslim. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri.”

Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah.

Karena gencarnya aktivitas Yahudi Zionis akhirnya Sultan pada tahun 1900 mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi ke Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan. Paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. 

Dan pada tahun 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada tahun 1902, Hertzl berupaya menyogok Sultan. Sogokan itu di antaranya berupa:

1. Seratus lima puluh juta poundsterling (uang emas Inggris) khusus untuk Sultan;
2. Membayar semua utang pemerintah yang diwariskan khalifah sebelumnya yang  mencapai 33 juta poundsterling;
3. Membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta Franc;
4. Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan
5. Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.

Semuanya ditolak Sultan, bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan,

“Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”

Ya ketegasan seperti itulah yang tidak dimiliki para penguasa negeri Muslim saat ini. Padahal saat itu kondisi pemerintahan Sultan Abdul Hamid dalam keadaan genting karena sebagian besar aparatnya ternyata telah menjadi antek penjajah. Para antek ini tergabung dalam Turki Muda yang dimotori oleh Mustafa Kemal Pasha Laknatullah.

Sehingga alih-alih membela Sultan, mereka malah bekerja sama dengan Kerajaan Protestan Inggris dan sekutunya untuk menggulingkan Sultan. 

Tidak henti-hentinya kaum Yahudi dengan Zionisme melancarkan gerakan untuk menumbangkan Sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon liberation (liberalisasi), freedom (kebebasan), dan sebagainya, mereka menyebut pemerintahan Abdul Hamid II sebagai Hamidian Absolutism (pemerintah diktator Hamid), dan sebagainya.

Dikudeta
Malam itu, 27 April 1909 Sultan Abdul Hamid dan keluarganya kedatangan beberapa orang tamu tak diundang. Kedatangan mereka ke Istana Yildiz menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. 

Mereka mengatasnama-kan perwakilan 240 anggota Parlemen Utsmaniyyah, di bawah tekanan Turki Muda, yang setuju penggulingan Abdul Hamid II dari kekuasaannya. Senator Syeikh Hamdi Afandi Mali mengeluarkan fatwa tentang penggulingan tersebut dan akhirnya disetujui oleh anggota senat yang lain. 

Fatwa tersebut terlihat sangat aneh dan setiap orang pasti mengetahui track record perjuangan Abdul Hamid II bahwa fatwa tersebut bertentangan dengan realitas di lapangan.

Keempat utusan itu adalah Emmanuel Carasso, seorang Yahudi warga Italia dan wakil rakyat Salonika (Thessaloniki) di Parlemen Utsmaniyyah (Meclis-i Mebusan) melangkah masuk ke istana Yildiz. Turut bersamanya adalah Aram Efendi, wakil rakyat Armenia, Laz Arif Hikmet Pasha, anggota Dewan Senat yang juga panglima militer Utsmaniyyah, serta Arnavut Esat Toptani, wakil rakyat daerah Daraj di Meclis-i Mebusan.

Mereka mengkudeta Sultan. “Negara telah memecat Anda!” Esat Pasha memberitahu kedatangannya dengan nada angkuh. Kemudian satu persatu wajah anggota rombongan itu diperhatikan dengan seksama oleh Sultan.
“Negara telah memecatku, itu tidak masalah,… tapi kenapa kalian membawa serta Yahudi ini masuk ke tempatku?” Spontan Sultan marah besar sambil menudingkan jarinya kepada Emmanuel Carasso.

Sultan memang kenal benar siapa Emmanuel Carasso itu. Dialah yang bersekongkol bersama Herzl ketika ingin mendapatkan izin menempatkan Yahudi di Palestina. 

Singkat kata, Sultan pun diasingkan ke Salonika, Yunani. Hingga ia menghembuskan nafas terakhir dalam penjara Beylerbeyi pada 10 Februari1918. 

Kepergiannya diratapi seluruh penduduk Istanbul. Mereka baru sadar karena kebodohan mereka membiarkan Khilafah Utsmaniyyah dilumpuhkan setelah pencopotan jabatan khilafahnya. 

Akibatnya fatal, tahun 1924, runtuhlah institusi yang menaungi kaum Muslim tersebut sehingga pada 1948 berdirilah negara ilegal Israel di tempat Nabi Muhammad SAW mikraj.

Sepeninggal pemimpin umat yang dikhianati itu, lahirlah lebih dari 50 penguasa negeri Islam yang menghianati umat. Dengan dalih Hukum  Internasional, mereka tidak mau mengerahkan tentaranya untuk berperang melawan kebiadaban Zionis Israel. [] joko prasetyo dari berbagai sumber


(www.mediaumat.com) 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites