Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

Tampilkan postingan dengan label Nafsiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nafsiyah. Tampilkan semua postingan

23 Oktober 2011

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.  Imam al-Auza’iy berkata kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, “Sesungguhnya, Umar bin Khaththab ra pernah berkata, “Pemimpin itu ada empat macam.  Pertama, pemimpin yang dirinya dan pembantu-pembantunya memiliki jiwa yang kuat seperti halnya para mujahid yang berjuang di jalan Allah; sehingga, Tangan Allah SWT terbentang untuk memberikan rahmat kepadanya.  Kedua, pemimpin yang lemah jiwanya, sehingga dikendalikan oleh pembantu-pembantunya.  Sesungguhnya, pemimpin seperti ini sangat dekat dengan kehancuran, kecuali Allah SWT memberinya rahmat.  Ketiga, pemimpin yang pembantu-pembantunya lemah, sehingga dia mengendalikan mereka; maka pemimpin seperti ini akan dimasukkan ke dalam neraka Huthamah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, “Berilah khabar gembira kepada pemimpin Huthamah, karena dia sendirilah yang akan binasa.” Keempat, pemimpin yang dirinya dan pembantu-pembantunya saling berebut pengaruh, sehingga mereka semua terjatuh dalam kebinasaan”.

Imam al-Auza’iy bertutur lagi, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kesulitan yang paling besar adalah menegakkan hak Allah dan kemuliaan yang paling tinggi di sisi Allah adalah takwa.  Barangsiapa meminta kemuliaan dengan ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan mengangkat dan memuliakannya.  Sebaliknya, barangsiapa mencari kemuliaan dengan bermaksiyat kepadaNya, Allah akan menghinakan dan merendahkannya.  Inilah nasihat untukmu, semoga keselamatan tetap bersamamu”.[Imam al-Ghazali, Al-Ihya', juz 7, hal. 77]

Seorang pemimpin haruslah memiliki jiwa yang kuat untuk mengendalikan urusan-urusan rakyat; dan ia harus memilih pembantu-pembantu yang bertakwa dan memiliki kekuatan jiwa.  Faktor inilah yang akan mendatangkan rahmat dan pertolongan dari Allah swt atas dirinya.

Kemampuan seorang pemimpin dalam memimpin organisasi ditentukan sejauh mana ia mampu mengorganisasi potensi yang dia miliki; karyawan, perusahaan, dan asset.  Dalam konteks karyawan, ia harus mampu menempatkan karyawannya dengan tepat sesuai dengan kemampuan dan minat mereka.  Seorang pemimpin harus mampu mengorganisasi karyawannya hingga menjadi super team yang hebat.  Pemimpin tidak hanya memimpin karyawannya, akan tetapi ia juga mengarahkan, membimbing, mendidik, mengontrol, dan memberikan contoh kepada karyawannya.  Ia harus menanamkan satu prinsip “ketaatan kepada aturan main” yang telah disepakati, dan taat kepada pemimpin adalah salah satu bagian dari aturan main sebuah organisasi.  Jadikan karyawan sebagai anggota team perusahaan, bukan sebagai bawahan. [] Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy

21 November 2010

Menolak Musibah Dengan Dakwah

Musibah atau bencana itu ada dua: pertama, bencana alam karena benar-benar akibat faktor alam seperti: gunung meletus, gempa bumi, kekeringan karena musim kemarau panjang, dll. Kedua, ‘bencana kemanusiaan’ karena memang akibat ulah manusia seperti: banjir dan longsor akibat hutan banyak ditebangi dan gunung banyak digunduli, kemiskinan di tengah melimpahruahnya kekayaan alam akibat kekayaan itu dikuasai segelintir orang, maraknya penyakit kelamin dan AIDs karena merajalelanya perzinaan dan penyalahgunaan narkoba, dll.

Bencana alam tentu merupakan qadha’ Allah SWT yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Bagi seorang Muslim, bencana alam bisa merupakan cobaan atau ujian. Bencana ini hanyalah agar kita bersabar (QS al-Baqarah [2]: 155-157). Namun, bencana kemanusiaan lebih merupakan peringatan yang Allah SWT timpakan kepada manusia sebagai akibat kemaksiatan mereka. Bencana ini adalah agar manusia segera ingat kepada Allah SWT, dengan segera meninggalkan kemaksiatannya dan segera kembali (bertaubat) kepada-Nya (QS ar-Rum [30]: 41). Bencana kemanusiaan ini sejatinya bisa dihindari oleh manusia. Kuncinya ada dua: Pertama, manusia tidak gemar melakukan kemaksiatan. Kedua, di tengah-tengah mereka selalu berlangsung aktivitas dakwah serta amar makruf nahi munkar.

Sayang, selain justru banyak manusia gemar melakukan kemaksiatan, aktivitas dakwah dan amar makruf nahi munkar pun banyak ditinggalkan oleh kebanyakan kaum Muslim. Padahal jelas, kedua aktivitas ini wajib bagi setiap Muslim. Banyak nash Alquran maupun Hadits yang memerintahkan kewajiban ini. Allah SWT, antara lain, berfirman: Kaum Mukmin laki-laki dan wanita itu sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain; mereka melakukan amar makruf nahi mungkar… (TQS at-Taubah [9]: 71); Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi munkar, dan beriman kepada Allah… (TQS Ali Imarn [3]: 110); “Wahai anakku, dirikankanlah shalat dan lakukanlah amar makruf nahi mungkar…” (TQS Luqman [31]: 17).

Baginda Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidak seorang nabi pun yang Allah utus di tengah-tengah umatnya sebelumku, kecuali ia memiliki hawariyyun (para penolong) dan orang-orang yang selalu terikat dengan sunnah-sunnahnya. Mereka selalu mengikuti perintahnya. Namun kemudian, setelah mereka ada golongan umat yang melakukan penyimpangan. Mereka menyatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa tidak diperintahkan kepada mereka. Siapa saja yang berusaha mencegah mereka dengan tangannya, dia adalah Mukmin. Siapa saja yang berusaha mencegahnya dengan lisannya, dia adalah Mukmin. Siapa saja yang berusaha mencegahnya dengan kalbunya, dia adalah Mukmin. Di luar itu, tidak ada keimanan sedikit pun, meski sebesar biji sawi.” (HR Muslim).

Bahkan perintah untuk melakukan dakwah dan amar makruf nahi munkar ini dikaitkan dengan ancaman dari Allah SWT. Baginda Rasulullah bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, kalian melakukan amar makruf nahi munkar ataukah Allah akan menimpakan azab atas kalian dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, sementara Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR at-Tirmidzi).

Beliau pun bersabda, “Tidaklah seseorang berada di tengah-tengah kaumnya dan dia melakukan ragam kemaksiatan, sementara kaumnya itu mampu mencegahnya tetapi mereka tidak melakukannya, kecuali Allah pasti akan menimpakan kepada mereka siksaan sebelum mereka menemui kematian.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Hibban).

Dituturkan pula oleh Ibn Umar, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya amar makruf nahi munkar itu tidak akan menghilangkan rezeki ataupun mendekatkan kalian pada kematian. Sesungguhnya para rahib Yahudi dan para pendeta Nasrani, tatkala mereka meninggalkan amar makruf nahi munkar, maka Allah melaknat mereka melalui lisan para nabi mereka, kemudian Dia menimpakan bencana atas mereka secara umum.” (HR al-Ashbahani dalam at-Targhib wa at-Tarhib).

Karena itulah, aktivitas amar makruf nahi munkar adalah aktivitas terpenting di dalam syariah yang dibawa Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan dengan aktivitas inilah umat Muhammad menjadi umat yang paling mulia (QS Ali Imran [3]: 110).

Tidak diragukan, bahwa dakwah dan amar makruf nahi munkarlah yang menjadikan umat ini terpelihara dari kemunduran, kejatuhan dan kehancuran; dari tersebarnya kemaksiatan, kerusakan dan kefasikan; dari hilangnya kekayaan negeri dan kemunduran akhlak. Itulah yang bisa kita lihat pada masa-masa awal generasi umat Islam.

Sebaliknya, tidak diragukan pula bahwa umat-umat terdahulu yang melalaikan amar makruf nahi munkar ditimpa azab oleh Allah SWT. Na’udzu billah min dzalik. [] ABI

5 November 2010

Wasiat Nabi s.a.w Kepada Sayyidina Ali k.w.

Sahabat yang di rahmati Allah,
Rasulullah s.a.w sering memberi wasiat dan nasihat yang baik merupakan pengajaran dan tunjuk ajar kepada sahabat-sahabat baginda. Walaupun wasiat dan nasihat tersebut ditujukan kepada Sayyidina Ali k.w . sebagai sahabat dan menantu baginda , hakikat sebenarnya wasiat tersebut adalah untuk semua umatnya. Perhatikanlah dan ambillah mutiara berharga yang disampaikan oleh Nabi s.a.w untuk panduan hidup kita.



Sabda Rasulullah s.a.w. kepada Sayyidina Ali r.a yang bermaksud :
Wahai Ali ! "Sebaik-baik manusia di sisi Allah s.w.t. adalah yang memberi kemanfaatan bagi manusia. Adapun seburuk-buruknya di sisi Allah adalah orang yang berumur panjang tetapi buruk amal perbuatannya."

Wahai Ali ! Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berumur panjang serta baik amal perbuatannya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang Mukmin itu ada tiga :
1.Tidak suka kepada harta dunia.
2.Tidak suka kepada wanita (maksudnya tidak suka melakukan maksiat dan mengikut hawa nafsu syahwat)
3.Tidak suka mengumpat ‘aib orang lain.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang ‘alim itu ada tiga :
1.Jujur dalam berbicara.
2.Menjauhi yang haram
3.Tawaduk (rendah hati)

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang yang ber- taqwa itu ada tiga :
1.Takut berdusta dan berbuat keji.
2.Menjauhi kejahatan.
3.Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.


Wahai Ali ! Tanda-tanda orang benar itu ada tiga : 
1.Merahsiakan ibadah. 
2.Merahsiakan sedekah. 
3.Merahsiakan dugaan yang menimpa dirinya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda ahli ibadah itu ada tiga :
1.Selalu membatasi diri ( daripada melakukan perkara dosa dan  sia-sia)
2.Selalu menghisab (menghitung-hitung) dirinya.
3.Selalu memperbanyakkan ibadah

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang soleh itu ada tiga :
1.Selalu memperbaiki hubungan dengan Allah s.w.t. melalui amal soleh.
2.Selalu memperbaiki agamanya dengan beramal soleh.
3.Selalu redha terhadap manusia dari apa yang diredhai dirinya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang bahagia itu ada tiga : 
1.Makanannya halal. 
2.Duduk bersama para ulama’ 
3.Solat lima waktu bersama imam (berjemaah)

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang dermawan itu ada tiga :
1.Memberi maaf ketika berkuasa (membalas).
2.Mengeluarkan zakat dengan benar.
3.Senang mengeluarkan sedekah.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang tasamuh (toleransi) itu tiga :
1.Menyambung silaturahim pada orang yang memutuskannya.
2.Memberi kepada orang yang menghalang-halanginya
3.Memaafkan orang yang menganiayanya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang sabar itu ada tiga :
1.Sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah s.w.t
2.Sabar atas dugaan (musibah) yang dideritainya.
3.Sabar atas qadha’ (ketetapan) Allah s.w.t.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang taubat itu tiga :
1.Menjauhi segala yang haram.
2.Senang menuntut ilmu untuk ibadahnya kepada Allah.
3.Tidak kembali berbuat dosa, sebagaimana tidak kembalinya susu yang sudah diperas kedalamnya. 

Sahabat yang dimuliakan,
Marilah kita beramal dan memperbaiki diri kita dengan akhlak Islam dan mematuhi semua ajaran yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Semoga dengan ini kita akan selamat hidup di dunia dan hari akhirat dan mendapat keridhaan Allah s.w.t.


(fb/dunia-teori-konspirasi)

29 September 2010

Khalifah Umar bin Abdul Aziz: Pemimpin yang Amanah dan Taat

Sebelum menduduki Jabatan Khilafah
Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 63 H, di tahun wafatnya Ibunda Maimunah, Isteri nabi saw. Beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam, bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams. Ibunya adalah Ummu Ashim Binti Ashim bin Umar al-Khathab (yang dikenal dengan julukan Abu Hafhs). Diriwayatkan bahwa ketika Abdul Aziz bin Marwan hendak menikahi Umu Umar bin Abdil Aziz, Ia (Abdul Aziz) berkata kepada pengasuhnya, kumpulkanlah untuk-ku empat ratus dinar dari hartaku yang paling bersih, karena aku akan menikahi keluarga yang baik. Maka Ia pun menikahi Umu Umar bin Abdil Aziz. Namanya adalah Umu Ashim binti Ashim bin Umar bin Al-Khatab. Ashim adalah putra Umar yang menikah dengan seorang pemudi yang menolak menambahkan air pada susu perasan ketika diperintahkan oleh ibunya. Saat itu ia berkata kepada Ibunya, jika Umar tidak melihat kita maka Allah pasti melihat kita. Hal itu kemudian didengar oleh Umar bin Khatab ra. Maka ia memerintahkan salah seorang anaknya untuk menikahi pemudi itu karena sifat amanah yang dimilikinya. Maka menikahlah ia dengan Ashim (putra Umar bin Khatab).
Rasulullah pernah bersaksi bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah Penganut kebaikan di masanya. Tentang hal ini Abbas bin Rasyid berkata: Umar bin Abdul Aziz pernah mengunjungi guruku, ketika ia mau pulang, guruku berkata kepadaku: Keluarlah kamu bersamanya dan iringilah ia. Tiba-tiba kami menemukan seekor ular hitam yang sudah mati. Maka Umar-pun turun dari keledainya kemudian ia menguburkan ular tersebut. setelah itu tiba-tiba terdengar ada suara  yang berteriak ” Ya Kharqa, Ya Kharqa, aku pernah mendengar Rasululah saw bersabda kepada ular ini : ” Kamu akan mati di tanah lapang, dan kamu akan dikuburkan oleh penduduk bumi paling baik saat itu”. Maka Umar berkata: Aku memohon kepada-mu,jika kamu bisa tampak maka perlihatkanlah dirimu kepadaku. Suara itu berkata “Aku adalah salah seorang dari sembilan orang yang membaiat Rasulullah saw di lembah ini. dan aku pernah mendengar Rasulullah saw mengatakan perkataan tadi kepada ular ini. Maka Umar-pun menangis hingga ia hampir terjatuh dari tunggangannya. Kemudian Ia berkata: Aku memohon kepada-mu “jangan beritahukan hal ini kepada siapa-pun hingga aku dikuburkan.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ia sering sekali mengatakan ” saya sangat ingin mengetahui siapa dari keturunan Umar yang pada wajahnya terdapat tanda, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan. Begitu juga diriwayatkan bahwa Umar bin Khatab juga pernah berkata: saya ingin sekali mengetahui, siapa yang memiliki tanda di mukanya dari keturunanku,yang akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi saat itu telah dipenuhi dengan kejahatan. Diriwayatkan bahwa suatu ketika, hewan peliharaan ayah Umar bin Abdul Aziz pernah menendangnya hingga ia terluka. Maka saat itu Ayahnya mengusap darah dari wajahnya sambil berkata: “Aku sangat bahagia, jika kamu adalah orang yang terluka wajahnya di antara Bani Umayah”.
Suatu hari Umar bin Abdul Aziz datang ke Madinah, kemudian istirahat di rumah Marwan. Ketika usai menunaikan Shalat Zhuhur, ia mengundang sepuluh orang Ulama ahli Fiqh di Madinah. Maka mereka-pun menemuinya. Berkatalah Umar: Aku mengundang anda semua hanya karena satu perkara, di mana anda semua akan mendapat pahala karenanya dan dengan perkara itu anda semua akan menjadi pembela kebenaran. Aku tidak mau memutuskan satu perkara-pun kecuali dengan pendapat anda semua atau salah seorang yang hadir dari anda semua. Jika anda semua melihat ada seseorang yang berbuat zalim atau sampai berita kepada anda semua bahwa salah seorang kepala daerah-ku melakukan kezaliman, maka sampaikanlah kepadaku. Maka para ulama itu pulang, sambil berdoa ” semoga Allah membalasanya dengan kebaikan.
Umar pernah mengoreksi dan menasehati Khalifah al-Walid bin Marwan. Ia pun pernah mengoreksi prilaku al Hajaj, di mana hal ini menimbulkan permusuhan antara beliau dan al-Hajaj. Mu’jizat Islam saat itu, yaitu Umar bin Abdul Aziz telah mampu menembus penutup yang mencekam yang menyelimuti diri bani umayah. Umar meneriakkan kebenaran, seraya bertaubat dan membersihkan diri dari kezaliman dan dosa-dosa di masa bani Umayah. Ia berhasil menentang para penguasa diktator dan penindas saat itu. Yang paling terdepan adalah Al-Hajaj bin Yusuf al-Tsaqafi. Meski semua kaum bani umayah tanpa kecuali segan terhadap umar dan menghormatinya, namun mereka tidak kuat menempuh jalan yang ditempuhnya. Dan Al-Hajaj pun mulai menyusun konspirasi dan tipu dayanya, maka ia menghasut Khalifah Al-Walid untuk menghukum keponakannya, suami, suadara perempuannya dan gurbenurnya di Hijaz “Umar bin Abdil Aziz. Hajaj mengirim surat kepada Khalifah melaporkan bahwa Umar telah menyambut dan melindungi orang-orang yang dipanggil oleh al-Hajaj untuk di hukum karena mereka telah berkonspirasi melawan bani Umayyah. Khalifah Walid pun memanggil Umar dan berkata: apa pendapatmu tentang orang yang mencaci maki para Khalifah? Apakah ia boleh dibunuh? Umar diam. Maka al-Walid bertambah tidak senang, ia kembali bertanya: apa pendapatmu tentang orang yang mencaci-maki khalifah? Apakah ia boleh dibunuh? Maka Umar bin Abdul Azizi berkata -dengan keimanan yang benar, tanpa ragu dan takut tehadap akibat dari perkatannya ” apakah anda akan membunuh nyawa tanpa hak, wahai Amirul Mukminin?” Al-Walid berkata: Tidak akan. Tapi mencaci maki para khalifah dan meremehkan kehormatan mereka adalah perbuatan keji). Umar berkata: Kalau begitu hukumlah ia karena telah meremehkan kehormatan Khalifah jangan dibunuh. Maka Khalifah al-Walid secara terpaksa dan murka akhirnya memerintahkan untuk mengakhiri pertemuan saat itu. Maka Umar-pun pergi, sambil menunggu hukuman yang akan diberikan kepadanya, seraya berkata: Aku meninggalkan khalifah, tidak ada angin yang berhembus kecuali aku menduganya bahwa ia adalah utusan Khalifah yang akan memanggilku untuk dibawa ke hadapannya. Kemudian Umar diberhentikan dari Jabatannya sebagai Gubernur Hijaz. Maka ia pindah menuju Madinah. Ketika ia sampai ke Madinah: Ia berkata kepada mantan budaknya “Muzahim”: Wahai Muzahim, aku khawatir termasuk orang yang akan mengotori Madinah dikeluarkan darinya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Bahwa Madinah akan mengusir kotoran yang ada di dalamnya”. Maka Muzahim meyakinkan Umar bahwa kekhawatirannya tidak akan terjadi. Keduanya-pun berlalu hingga beristirahat di satu tempat yang bernama Suwaida di Syam. Di tempat itu Umar banyak menghabiskan masa-masa pengasingannya. Saat itu terbersitlah dalam benaknya apa yang diwasiatkan oleh bapaknya ” Abdul Aziz bin Marwan” : Bertakwalah kepada Allah, perbaguslah niatmu (tekad bulat-mu) dalam beramal, karena tidak ada agama bagi orang yang tidak punya niat, aturlah keuanganmu dengan baik, karena tidak akan ada harta bagi orang yang tidak mengaturnya dengan baik, santunlah terhadap orang kamu gauli, karena tidak ada kehidupan bagi orang yang tidak santun, kalahkanlah keinginan syahwatmu, karena tidak ada akal bagi orang yang tidak bisa mengalahkan hawa-nafsunya.
Umar menjadikan masa-masa pengasingannya ini sebagai latihan untuk hidup zuhud, sederhana dan berjihad membela kebenaran. Setelah wafatnya Khalifah al-Walid maka Kekhilafahan dipimpin oleh  saudaranya “Sulaiman”. Khalifah ini keadanhya lebih baik dari al-Walid. Meski ada rasa hormat dan cinta yang disembunyikan dalam diri Khalifah “Sulaiman”, namun ia tetap khawatir kalau mengangkat Umar sebagai Gubernur. Ia lebih memilih tetap menjadikannya sebagai saudara, atau paling tidak sebagai penasehatnya.
Pada suatu hari Khalifah Sulaiman bersama dengan Umar bin Abdul Aziz untuk mengunjungi markas pasukan. Dalam keheningan Khalifah berkata: apa pendapatmu wahai Umar tentang yang kamu lihat saat ini?. Umar berkata: aku melihat semua ini adalah dunia yang salaing memakan satu sama lain, sedangkan anda adalah penanggung jawabnya.
Ketika Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik jatuh sakit, dan ia  ingin menunjuk seorang kahlifah penggantinya, saat itu anak-anaknya masih kecil. Maka ia meminta saran dari Roja bin Haiwah. Ia bertanya kepadanya: Siapa orang yang harus aku tunjuk. Roja bin Haiwah berkata: Umar Bin Abdil Aziz. Roja-pun menyampaikan pandangannya secara terperinci. Maka Khalifah Sulaiman menyetujuinya dan berkata:  Aku akan memilih seorang Khalifah dan Syaithan sedikit-pun tidak akan mendapatkan bagian.
Umar bin Abdul Aziz pernah bermimpi melihat Rasulullah saw, dan bersabda: Mendekatlah wahai Umar. Maka mendekatlah Abu Hafsh hingga ia takut menimpanya. Maka Rasulullah bersabda: Jika engkau memimpin, buatlah suatu amal seperti amalnya dua orang ini. Tiba-tiba ada dua orang yang mendampingi beliau saw. Umar bin Abdul Aziz berkata: Siapakah dua orang ini?. Rasulullah saw berkata: Ini Abu bakar dan Ini Umar.
Menuntut Ilmu
Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu dan banyak bertanya kepada Ulama dan meminta saran dari mereka. Diriwayatkan bahwa bapaknya, Abdul Aziz pernah mengirin Umar ke Madinah untuk belajar adab. Beliau menulis surat kepada Shalih bin Kaisan agar memperhatikannya. Maka Shalih-pun memperhatikan shalatnya, mengajarkannya urusan agama dan dunia. Umar pun pernah belajar kepada Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah dan banyak mendengarkan ceramah-ceramahnya. Umar pernah berkata: dahulu aku telah menyertai orang-orang besar dan menuntut ilmu yang paling mulia. Ketika aku diberi amanah menjadi pemimpin, aku merasa butuh untuk belajar ilmu-ilmu yang biasa, karena itu, pelajarilah ilmu itu semuanya, baik yang bagusnya maupun yang buruknya dan yang rendahnya.
Diriwayatkan bahwa Umar pernah menangis ketika masih kecil, saat itu ia telah hafal al-Qur’an. Maka Ibunya berkata: apa yang menyebabkanmu menangis?. Umar berkata: aku ingat terhadap al-Qur’an maka aku menangis. Ibunyapun menangis karenanya.
Ketika umar telah menjadi seorang pemuda, maka ia menjadi kepala daerah (amir) di Madinah. Saat itu ia adalah seorang pemuda yang tegap dan gagah. Ketika ia ditunjuk menjadi Khalifah, datanglah Muhammad bin Ka’ab al-Qurzhi menemuinya. Kemudian ia memandangi tubuh Umar, Maka Umar berkata: ada apa dengan mu?. Mumammah bin Ka’ab berkata: aku sangat terkesan warna kulitmu, lebatnya rambutmu, dan tegapnya badanmu. Umar berkata: Wahai Ibnu Ka’ab apa pendapatmu jika engkau melihatku setelah tiga hari dikubur?, yakni ketika dua bola mataku jatuh dari kelopak mataku, ketika meleleh nanah dan ulat dari hidung dan mulutku. Saat itu anda akan terheran-heran melihat-ku?
Ketika Umar menjadi Khalifah, ia memanggil Salim bin Abdillah dan Muhammad bin Ka’ab al Qurzhi dan Roja bin Haiwah, ia berkata: Aku telah diuji dengan urusan ini, nasihatilah aku…, Maka Salim berkata: Jika anda ingin selamat dari adzab Allah maka hendaklah jadikanlah orang yang paling tua di antara kaum muslimin sebagai bapakmu, yang pertengahan di antara mereka jadikanlah sebagai saudara-mu dan yang paling muda jadikanlah sebagai anakmu. Maka hormatilah bapak-mu, Muliakanlah saudaramu dan Sayangilah anak-mu. Roja bin Haiwah berkata: Jika anda mau selamat dari Neraka, maka cintailah kaum muslimin sebagaimana anda mencintai diri sendiri, dan bencilah untuk kaum muslimin apa yang anda benci untuk dirimu sendiri, kemudian setelah itu, silahkan anda mati sesukamu.
Di antara ilmu yang berhasil dicapainya adalah ia telah menulis sanad hadits meriwayatkannya dari sekelompok sahabat Nabi, dari beberapa tabi’in. di antaranya adalah Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Ja’far, Ibnu Abi Salamah al-Makhzumi, Saib bin Zaid, Abdullah bin Salam. Ia pun telah menerima hadits dari beberapa sahabat seniornya, diantaranya adalah Ubadah bin Shamit, Tamim ad-Daari, al-Mughiroh bin Syu’bah, Aishah ra, Umi Hani dan Khaulah binti al-Hakam.
Shalat Umar bin Abdul Aziz adalah shalat yang paling mirip dengan shalatnya Rasulullah saw. Anas bin Malik pernah berkata: Aku tidak melihat seorang Imam yang lebih mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah saw dari pada imam kali ini. Umar bin Abdul Aziz tidak memperpanjang bacaan, Ia selalu menyempurnakan ruku dan sujudnya, dan meringankan saat berdiri dan duduk. Ia sangat fasih dan berilmu. Maimun bin Mahron berkata: Kami mendatangi Umar bin Abdil Aziz, kemudian kami menduga bahwa ia akan membutuhkan kami. Ternyata kami di dekatnya laksana murid-muridnya. Ia adalah gurunya para ulama.
Pengangkatan sebagai Khalifah
Umar diangkat menjadi Kahlifah pada tahun 99 H, pada hari wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik. Khalifah Sulaiman telah mewasiatkan kekhilafahan kepada Umar ketika ia ditimpa sakit demam. Saat itu puteranya ‘Ayub masih kanak-kanak, belum baligh”. Anaknya yang lain Daud hilang di konstantinopel. Khalifah Sulaiman tidak menemukan yang lain sebagai calon khalifah kecuali Umar bin Abdul Aziz.  Berikut ini adalah teks surat pengangkatan Umar sebagai Khalifah ” Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ini adalah surat (keputusan) dari hamba Allah” Sulaiman” sebagai Amirul Mukminin kepada Umar bin Abdil Aziz. Aku telah mengangkatnya sebagai Khalifah setelahku. Kemudian setelahnya akau angkat Yazid bin Abdil Malik. Maka dengarlah ia, taatilah, bertakwalah kepada Allah, jangalah kalian berselisih karena jika berselisih kalian akan jadi mangsa musuh-mush kalian”
Ketika Sulaiman wafat dan sudah dikafani, ia dishalatkan dengan diimami oleh Umar. Ketika penguburan jenazahnya telah selaesai, dibawalah ke hadapan Umar bin Abdul Aziz beberapa tunggangan khas khilafah, yakni berupa unta dan kuda. Maka Umar berkata: Apa ini?. Orang-orang menjawab: ini adalah kendaraan Khalifah. Maka Umar berkata: Jauhkan kendaraan itu dariku, aku tidak membutuhkannya. Kemarikanlah keledaiku. Maka ia-pun menaikinya dan pulang ke rumah dalam keadaan bingung. Pelayannya berkata: Nampaknya anda sedang bingung, ada apa gerangan?. Umar-pun berkata: Aku bingung karena urusan seperti ini (maksudnya kekhilafahan). Sungguh tidak ada satu umat Muhammad-pun di timur dan barat kecuali ia memiliki hak yang wajib aku tunaikan, tanpa harus menunggu ia menyuratiku atau menuntutnya dari-ku.
Khutbah Setelah Pengangkatan sebagai Khalifah
Khulafaur Rasyidin ke lima masuk masjid, kemudian naik mimbar dan berkata: “Wahai saudara-saudara! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini, tanpa meminta pandanganku terlebih dahulu dan bukan juga permintaanku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiah yang kalian berikan kepadaku dan pilihlah seorang Khalifah yang kalian sukai”. Tiba-tiba orang-orang serentak berkata: “Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin dan kami ridho kepadamu. Maka uruslah urusan kami dengan kebaikan dan keberkatan”.
Diriwayatkan bahwa ketika Umar diangkat sebagai Khalifah, ia naik mimbar dan bekata: Wahai saudara-sauadara sekalian, sungguh aku telah diangkat memegang tugas ini dan anda semua memiliki pilihan. Ketika ia turun maka orang-orang serentak berteriak: Kami telah memilih anda wahai Amirul Mukminin, kami telah ridho kepada-mu. Kemudian Umar naik lagi ke mimbar: ia menyampaikan pujian sanjungan kepada Allah, dan membacakan shalawat kepada nabi SAW dan berkata: Aku berwasiat kepada anda semua untuk bertaqwa kepada Allah. Karena takwa kepada Allah adalah pengganti segala perkara, dan tidak bisa diganti dengan apapun. Beramalah untuk akhirat,karena siapa saja yang beramal untuk akhiratnya maka Allah pasti mencukupi dunianya. Bereskanlah keadaan kalian ketika tidak ada siapa-siapa, niscaya Allah akan membereskan keadaan kalian ketika bersama orang banyak. Ingatlah kematian dan bersiap-siaplah dengan baik (untuk menyambut kematian), sebelum benar-benar kematian itu datang, karena kematian akan menghancurkan segala kenikmatan. Sungguh umat ini tidak akan berselisih karena Rab-nya,tidak karena nabi-Nya dan tidak karena kitab-Nya, mereka hanya akan berselisih karena dinar dan dirham (harta). Sungguh demi Allah, aku tidak akan memberikan kebatilan kepada siapapun, aku tidak akan menghalangi kebenaran dari siapapun. Kemudian ia meninggikan suaranya (berteriak): Wahai saudara-saudara…, siapa saja yang taat kepada Allah, maka ia wajib ditaati. Siapa saja yang maksiat kepada Allah maka tidak boleh ditaati. Karena itu, taatilah aku selama aku taat kepada Allah. Jika aku maksiat kepada Allah maka anda semua tidak wajib taat kepadaku”.
Kemudian Umar masuk ke rumah (istana). Ia memerintahkan agar semua hiasan istana ditanggalkan. Baju-baju kebesaran khalifah ia jual dan hasil penjualannya dimasukan ke baitul mal. Ia memerintahkan agar diumumkan ke khalayak bahwa : siapa saja yang telah dizhalimi hendaklah ia melaporkannya. Umar tidak membiarkan sedikitpun kekayaan yang ada pada kekuasaan Sulaiman dan apa yang ada di tangan orang-orang yang zalim kecuali ia kembalikan kepada pihak-pihak yang terzalimi. Masyarakat-pun merasa senang dengan kepemimpinannya.
Diceritakan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz selesai berpidato, ia masuk ke dalam rumah untuk beristirahat tidur siang sebentar (qailulah). Tiba-tiba datanglah putra-nya Abdul Malik. Ia bertanya-tanya keheranan: Wahai Amirul Mukminin, apa yang akan anda lakukan? . Umar berkata: Wahai anak-ku. Ayah ingin beristirahat tidur siang sebentar. Maka Abdul Malik berkata: Apakah anda bisa tidur sementara anda belum mengembalikan hak-hak orang-orang yang terzalimi?. Umar-pun berkata: Wahai anaku, tadi malam ayah tidak tidur di rumah paman-mu “Sulaiman”. Nanti jika ayah sudah shalat Zhuhur, ayah akan mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi. Sang anak-pun berkata: Wahai Amirul Mukminin, apakah anda bisa menjamin bahwa anda bisa hidup sampai waktu zhuhur?. Maka Umar bin Abdil Aziz berkata: mendekatlah wahai anak-ku sayang..Maka Adul Malik-pun mendekat. Kemudian Umar memeluknya dan mencium keningnya, seraya berkata: Segala puji hanya milik Allah yan telah mengeluarkan dari tulang rusuk-ku keturunan yang menjadi penolongku dalam menjalankan agama.
Umar Bin Abdul Aziz termasuk al-Khulafa al-Rasyidun Al-Mahdiyyuun
Ali bin Husain berkata: Khulafa al-Mahdiyyin ada tujuh orang, 5 orang telah berlalu, dan tersisa dua orang lagi. Mereka adalah : Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Umar bin Abdul Aziz. Ahmad bin hanbal berkata: Allah akan membangunkan bagi manusia pada setiap seratus tahun orang yang memperbaiki agama bagi umat ini.  Maka kami melihat seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz. Pada seratus tahun kedua adalah Imam Syafi’i.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang adil. Masyrakat-pun merasakan keadilan ini, mereka melihatnya sendiri dan membicarakannya. Umar pernah berkata kepada rakyatnya: Pulanglah ke negeri kalian, aku bisa melupakan kalian di sini. Sungguh aku telah mengangkat para kepala daerah untuk kalian, aku tidak mengatakan bahwa mereka adalah yang terbaik. Siapa saja yang dizalimi oleh kepala daerah-ku maka aku tidak akan mengizinkannya kecuali aku melihat kezalimannya. Demi Allah jika aku dan keluargaku menghalangi harta ini kemudian aku menghalanginya dari kalian maka sungguh aku pasti akan termasuk orang yang kikir. Demi Allah andai saja aku tidak hidup sesuai dengan sunnah dan tidak menjalankan kebenaran maka pasti aku mencintai keluhuran (aku akan bermegah-megahan).
Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim para amil untuk mengajarkan agama kepada masyarakat pedalaman dan membagikan harta. Robbah bin Hibban -ia adalah amil di Madinah- berkata: tidak datang surat-surat kepada kami dari Umar kecuali untuk menghidupkan Sunnah, membagikan harta atau perkara yang baik. Beliau selalu menanyakan tentang keadaan semua kaum muslimin. Suatu hari datanglah sekelompok orang dari Madinah. Khalifah Umar bertanya kepada mereka: apa yang dilakukan oleh orang-orang miskin yang tinggal di daerah ini.., Maka mereka berkata: Wahai Amirul Mukminin : mereka telah dikayakan oleh Allah karena harta yang engkau berikan dari baitul mal.
Diceritakan ada sekelompok orang  yang naik haji mengirim surat kepada Khalifah umar agar Ia memerintahkan pegawainya untuk menutupi bait al-haram, sebagai mana dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Maka Umar-pun menulis surat jawaban kepada mereka yang isinya: bahwa aku memandang lebih baik biaya untuk itu (menutupi ka’bah) aku berikan untuk menutupi perut-perut yang lapar. Umar selalu mengirim harta negara untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Namun harta tersebut dikembalikan lagi karena tidak ada yang mau menerimanya (karena sudah kaya). Umar benar-benar telah mengkayakan masyarakatnya. Di masanya, Umar mencetak uang pecahan dan terdapat tulisan ” Amarollohu bilwafaa wal-adl ” artinya Allah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan berbuat adil.
Ibadahnya
Umar bin Abdul Aziz memiliki sebuah peti yang berisi baju yang terbuat dari bulu dan rantai. Ia memiliki kamar khusus untuk shalat yang tidak dimasuki oleh orang lain. jika telah datang waktu malam, maka ia membuka petinya dan memakai baju serta meletakkan belenggu dilehernya. Ia terus-menerus bermunajat kepada Rabb-nya dan menangis hingga terbit fajar. Khalifah Umar biasa meningkatkan kesungguhanyya setelah wakti Isya paling akhir sebelum witir. Jika telah witir ia tidak berbicara dengan siapapun.  Ia selalu berpuasa senin-kamis, sepuluh pertama bulan dzulhijjah, hari asyura, dan hari arafah. Ia selalu melihat mushaf setiap hari namun tidak sering.
Menangis dan Takut oleh Allah
Suatu hari ada seorang lelaki bernama Ibnu al-Ahtam menemui Umar bin Abdil Aziz, ia terus menerus menasehatinya maka umarpun menangis hingga terjatuh pingsan. Jika beliau membaca al-Qur’an maka pasti menangis. Diriwayatkan bahwa suatu hari Umar menangis bersamanya ada Fatimah. Maka menangislah penghuni rumah. Masing-masing dari mereka tidak mengetahui kenapa yang lain menangis. Kemudian Fatimah bertanya: Wahai Amirul Mukminin karena apa engkau menangis?. Wahai Fatimah aku teringat akan perginya manusia kelak di hari kiamat di hadapan Allah, segolongan pergi ke Surga dan segolongan lagi ke Neraka. Kemudian Umar berteriak dan pingsan. Setiap malam Khalifah Umar selalu mengumpulkan Fuqaha, mereka mengingatkan akan kematian dan hari kiamat, kemudian mereka menangis, seolah-olah di antara mereka ada Jenazah.  Jika Umar ingat mati maka ia akan bergetar seperti menggigilnya burung yang kedinginan. Ia menangis hingga air matanya berlinang membasahi janggutnya.
Wafat dan Wasiatnya kepada Anak-anaknya
Ketika Umar bin Abdil Aziz akan wafat, datanglah sepupu dan mertuanya “maslamah bin Abdil Malik”, ia berkata: Wahai Amirul Mukminin: sungguh engkau telah memutuskan mulut anakmu dari harta ini, engkau telah meninggalkan mereka dalam keadaam miskin. Karena itu harus ada sesuatu yang bisa memperbaiki kehidupan mereka. Jika engkau berwsiat untuk  mereka kepada-ku atau kepada keluarga-mu maka niscaya aku akan menjamin biaya mereka, Insya Allah. Maka Umar berkata: dudukanlah aku. Maka mereka-pun mendudukannya. Umar-pun berkata: segala puji hanya milik Allah, apakah karena Allah anda menakut-nakutiku wahai Masalamah. Adapun yang engaku katakan bahwa aku telah menghalangi mulut anak-anakku dari harta dan aku telah meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, maka sungguh aku tidak menghalangi hak mereka dan aku tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan haknya. Adapun permintaanmu agar aku berwasiat kepada-mu atau keluargaku maka wasiatku untuk keluargaku adalah Allah yang telah menurunkan al-Qur’an. Dialah yang akan mengasihi orang-orang yang shalih. Keturunan Umar hanyalah dua golongan. Pertama orang yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan meberikan kemudahan dalam segala urusannya dan akan memberikan rizki dari yang tidak terduga. Kedua adalah kelompok yang terbenam dalam kemaksiatan, maka aku tidak akan menjadi orang pertama yang mendukung mereka dengan harta untuk maksiat kepada Allah. Kemudian Umar minta agar anak-anaknya dipanggil. Maka datanglah sekitar sepuluh orang anak laki-laki, maka ia-pun mulai memberikan nasihat, seraya berkata: Wahai anak-anakku ayah cenderung pada salah satu di antara dua: yaitu kalian menjadi orang kaya dan ayah kalian masuk neraka atau kalian menjadi faqir dan ayah kalian masuk Surga. Maka jika kalian fakir dan ayah masuk surga lebih ayah cintai dari pada kalian kaya sementara ayah masuk neraka. Wahai anak-anaku berdirilah semoga Allah menjaga kalian dan memberi rizki. []

2 September 2010

Mengagungkan dan Mengamalkan Alquran

Bulan Ramadhan sudah beberapa hari kita jalani. Sebagian ulama berpendapat, Ramadhan adalah bulan agung (syahr ‘azhîm), bulan mulia (syahr ‘ali) dan bulan penuh berkah (syahr mubârak). Di antara keagungan, kemuliaan dan keberkahan bulan Ramadhan karena dalam bulan inilah Alquran diturunkan (QS al-Baqarah [2]: 185), selain karena dalam bulan ini pula biasanya kaum Muslim lebih banyak lagi membaca dan mengkaji Alquran.

Keagungan Alquran. Keagungan Alquran bukan hanya karena ia diturunkan pada bulan yang istimewa, yakni Ramadhan. Keagungan Alquran tentu saja karena ia adalah kalamullah. Sebagai kalamullah, Alquran adalah kitab yang tak ada tandingannya. Allah SWT berfirman (yang artinya): Tidakkah kalian memperhatikan Alquran? Seandainya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan di dalamnya (TQS an-Nisa’ [4]: 82).

Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Jika kalian tetap dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah saja yang serupa dengan Alquran itu, dan ajaklah para penolong kalian selain Allah jika kalian memang orang-orang yang benar (TQS al-Baqarah [2]: 23).

Tidak aneh jika Baginda Rasulullah saw. pun bersabda, “ Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah…” (HR Ahmad).

Keutamaan membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR al-Bukhari).

Rasul juga bersabda, “Orang yang membaca Alquran dan dia menguasainya akan bersama-sama para malikat yang mulia dan baik. Adapun orang yang membaca Alquran secara terbata-bata dan merasakan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Rasul pun bersabda, “Tak ada iri kecuali terhadap dua orang: orang yang Allah beri Alquran, lalu ia mengamalkannya siang-malam; orang yang Allah beri harta, kemudian ia menginfakkannya siang-malam.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dosa Mengabaikan Alquran. Jika membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran dianggap sebagai perbuatan mulia, maka mengabaikan Alquran tentu merupakan perbuatan tercela. Allah SWT berfirman (yang artinya): Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (TQS al-Furqan [25]: 30).

Rasulullah SAW mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan Alquran sebagai mahjûr[an]. Mahjûr[an] merupakan bentuk maf‘ûl, berasal dari al-hujr, yakni kata-kata keji dan kotor. Maksudnya, mereka mengucapkan kata-kata batil dan keji terhadap Alquran, seperti tuduhan Alquran adalah sihir, syair, atau dongengan orang-orang terdahulu (QS al-Anfal [8]: 31). Bisa juga berasal dari al-hajr yakni at-tark (meninggalkan, mengabaikan, atau tidak memedulikan). Jadi, mahjûr[an] berarti matrûk[an] (yang ditinggalkan, diabaikan, atau tidak dipedulikan) (Lihat: at-Thabari, 9/385-386)

Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur’ân (meninggalkan atau mengabaikan Alquran). Di antaranya adalah-menurut al-Qasimi (7/425)-menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak men-tadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya, kemudian berpaling pada lainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau tharîqah yang diambil dari selainnya; sikap tidak mau menyimak dan mendengarkan Alquran; bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar Alquran saat dibacakan, sebagaimana digambarkan Allah SWT (Lihat QS Fushshilat [41]: 26).

Alquran memberi syafaat. Alquran akan memberikan syafaat (pertolongan) pada Hari Kiamat nanti kepada orang yang biasa membaca, mengkaji dan mengamalkannya. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah oleh kalian Alquran karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membaca dan mengamalkannya.” (HR Muslim).

Rasulullah bersabda, “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada Hari Kiamat nanti. Puasa akan berkata, ‘Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat. Karena itu, perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Alquran pun berkata, ‘Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karena itu, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Lalu syafaat keduanya diperkenankan.” (HR Ahmad, al-Hakim dan ath-Thabrani).

Semoga kita yang saat ini sedang berpuasa Ramadhan dan banyak membaca Alquran, termasuk orang yang akan mendapatkan syafaat puasa dan Alquran pada Hari Kiamat nanti. Amin.Wa ma tawfiqi illah billah. [arief b. iskandar]

25 Agustus 2010

Bagaimana Mungkin Doa Kita dikabulkan ?

Al-Qadliy berkata, “Hadits dibawah ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini. Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum muslim untuk berinfak dengan yang rejeki halal, serta larangan untuk berinfak dengan rejeki yang haram. Hadits ini juga menerangkan, bahwa minuman, makanan, pakaian, dan lain-lain harus halal dan terjauh dari syubhat; dan siapa saja yang berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut, dan menjauhi minuman, makanan, dan pakaian yang haram.”[1]
 
Imam al-Hafidz Abu al-’Ala al-Mubarakfuriy, dalam Tuhfat al-Ahwadziy, menyatakan bahwa makna hadits ini adalah, Allah swt suci dari noda, dan tidak akan menerima dan tidak boleh mendekatkan diri kepadaNya, kecuali sejalan dengan makna hadits tersebut.[2]

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thayyib), dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin sebagaimana halnya Ia memerintah para Rasul. Kemudian, Ia berfirman, “Wahai para Rasul, makanlah dari rejeki yang baik-baik, dan berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang engkau ketahui.” Selanjutnya, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku..”, sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”. [HR. Muslim]


[1] Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, hadits no. 1686
[2] Tuhfat al-Ahwadziy bi Syarh Jaami’ al-Tirmidziy, hadits no. 2722

14 Juli 2010

AL-AWWALUN : Para Sahabat Pelopor Kebaikan

“Ya Allah ya Rabbi, jadikanlah Kami Hamba Yang Bisa Menjadi Pelopor Kebaikan Seperti Para Sahabat Rosulullah SAW” 

Yang pertama kali masuk Islam dari golongan wanita dan laki-laki adalah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.
Yang pertama masuk Islam dari golongan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw, jika telah tiba waktu shalat maka beliau keluar menuju lembah-lembah di kota Makkah, dan Ali keluar menyertainya (padahal dia masih berumur sepuluh tahun) secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh ayah dan kaumnya. Lalu mereka berdua melakukan shalat bersama, dan jika waktu sore tiba mereka berdua kemudian pulang.

Yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakar Shiddiq. Rasulullah saw bersabda: Tidaklah aku mengajak seseorang masuk Islam kecuali ia akan berwajah pucat mendengarnya, merasa ragu-ragu, dan berpikir panjang, kecuali Abu Bakar. Ia tidak menunda-nunda masuk Islam ketika aku menceritakan Islam kepadanya, dan juga tidak merasa ragu-ragu. 

Orang yang pertama kali mengeraskan bacaan al-Qur’an di kota Makkah adalah Abdullah bin Mas’ud. Tatkala ia berada di depan para pemuka Quraisy, ia mengeraskan suaranya yang merdu dan membangkitkan minat pendengarnya, ketika membaca firman Allah Swt

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. (TQS. ar-Rahman [55]: 1-6) 

Sampai pada bacaan tersebut, ia dipukuli oleh kaum kafir Quraisy hingga jatuh pingsan. Ketika siuman, ia meminta ijin pada Nabi saw untuk mengulangi lagi apa yang dilakukannya itu pada malam berikutnya.

Wanita yang pertama gugur menjadi syahidah dalam Islam adalah Sumayyah bin Khubbath (Ibu Ammar bin Yasir).

Khatib yang pertama kali menyerukan agama Allah adalah Abu Bakar as-Shiddiq, ketika jumlah kaum Muslim mencapai tiga puluh sembilan orang. Abu Bakar mendesak Rasulullah saw untuk menampakkan Islam secara terang-terangan, maka Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Bakar, jumlah kita masih sedikit”. Abu Bakar terus mendesak hingga akhirnya Rasulullah saw muncul dan kaum Muslim berpencar di beberapa sisi masjid. Abu Bakar kemudian berdiri menjadi khatib, sedang Rasulullah saw duduk mendengarkannya, sehingga Abu Bakar menjadi khatib pertama yang menyeru kepada Allah dan Rasulullah saw. Kaum musyrikin sangat marah kepada Abu Bakar dan kaum Muslim. Mereka memukulinya dengan sangat hebat. Abu Bakar diinjak-injak. Si fasik, Utbah bin Rabiah, mendekati beliau, kemudian ia memukulnya dengan dua sepatunya, yang meninggalkan bekas luka di wajah Abu Bakar sehingga sukar diketahui rupa hidung di wajahnya.

Pedang yang pertama kali dihunus dalam Islam, adalah pedang Zubair bin Awwam. Di masa-masa awal kemunculan Islam, tersiar kabar bahwa Rasululllah saw telah dibunuh. Yang dilakukan Zubair tidak lain kecuali segera menghunus pedangnya, kemudian dia mengitari jalanan Makkah bagaikan badai topan. Dan di daerah Makkah bagian atas dia bertemu dengan Rasulullah saw, yang segera menanyainya tentang apa yang terjadi? Zubair mengabarkan berita tersebut kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw mendoakannya agar kebaikan diperuntukkan bagi dirinya dan kemenangan bagi pedangnya.

Rumah yang pertama kali digunakan untuk mengemban dakwah Islam adalah rumah Arqam bin Abi al-Arqam, yang berada di Bukit Shafa. Rumah itu seringkali digunakan Nabi Muhammad saw untuk duduk mengajarkan Islam. Rasulullah saw terus mengajarkan Islam di rumah Arqam hingga jumlah kaum Muslim mencapai empat puluh orang. Lalu mereka keluar menampakkan seruan kepada Allah.

Orang yang pertama kali berhijrah ke Habsyah; dialah Utsman bin Affan bersama isterinya Ruqayyah binti Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Rasulullah saw, bahwasanya Utsman merupakan orang yang pertama kali berhijrah menyelamatkan agama Allah bersama keluarganya setelah Nabi Luth as.

Darah yang pertama kali tumpah dalam Islam. Di masa permulaan dakwah Islam, ketika itu Sa’ad bin Abi Waqash bersama beberapa orang sahabatnya sedang melaksanakan shalat di salah satu lembah di Makkah. Keberadaan mereka diketahui beberapa orang kaum musyrikin. Kaum musyrikin kemudian menentang dan mencela apa yang mereka lakukan, hingga akhirnya terjadi perkelahian diantara mereka. Pada saat itu, Sa’ad memukul salah seorang kaum musyrikin dengan rahang unta sehingga orang itu terluka (dan mati terbunuh), dan itulah darah yang pertama kali tumpah dalam Islam.

Duta pertama dalam Islam, adalah Mush’ab bin Umair. Rasulullah saw memilihnya untuk menjadi duta beliau, yang dikirim ke Madinah dalam rangka memahamkan dan mengajarkan agama Islam kepada kaum Anshar, menyeru penduduk Yatsrib kepada Islam, dan mempersiapkan Madinah menyongsong terjadinya hijrah, padahal disisi beliau ada beberapa sahabat yang lebih tua umurnya dan lebih dekat hubungannya daripada Mush’ab. Mush’ab bin Umair ra mengemban amanat itu dengan dibantu oleh nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya berupa akal yang cerdas dan perilaku yang mulia. Ia berhasil menjalankan misinya, dimana penduduk Madinah masuk Islam dan menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya. 

Yang pertama kali membangun masjid adalah Utsman bin Affan.

Yang pertama kali menjadikan rumahnya sebagai masjid yang digunakan untuk shalat adalah Ammar bin Yasir.

Orang Anshar yang pertama kali masuk Islam adalah As’ad bin Zurarah al-Anshari. As’ad bin Zurarah dan Dzakwan bin Abdi Qais berangkat ke Makkah. Di sana mereka berdua bertengkar dengan Utbah bin Rabiah. Mereka berdua mendengar kabar tentang Rasulullah saw dan mendatanginya, lalu Rasulullah saw menyampaikan Islam dan membacakan al-Qur’an dihadapan keduanya. Kemudian mereka berdua masuk Islam dan tidak mendekati Utbah bin Rabiah lagi. Keduanya lalu pulang ke Madinah, dan menjadi orang yang pertama kali pulang ke Madinah membawa Islam.

Orang yang pertama kali memegang tangan Rasulullah saw pada malam Bai’at al-’Aqabah kedua adalah al-Barra bin Ma’rur. Al-Barra memegang tangan Rasulullah saw dan berkata: “Ya, demi Zat yang mengutusmu menjadi seorang Nabi dengan membawa agama yang haq, kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi anak isteri kami. Bai’atlah kami wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya kami adalah ahli perang, ahli senjata, yang selalu kami wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya”. 


19 Juni 2010

Meraih Keutamaan Tanpa Melupakan Kewajiban

Ada beberapa perkara yang sisi lahiriahnya adalah keutamaan, sedangkan sisi ‘batiniah’-nya adalah kewajiban: (1) membaca Alquran adalah keutamaan, mengamalkan isinya adalah kewajiban; (2) bergaul dengan orang-orang shalih adalah keutamaan, sementara meneladani keshalihan mereka adalah kewajiban; (3) ziarah kubur adalah keutamaan, sementara mempersiapkan bekal (dengan memperbanyak amal-amal shalih) sebelum masuk ke alam kubur adalah kewajiban. Demikian menurut Sayidina Utsman bin Affan ra dalam suatu riwayat, sebagaimana dikutip Imam an-Nawawi dalam sebuah kitabnya.

Melalui pesan Utsman di atas setidaknya kita memahami: Pertama, penting membaca Alquran, tetapi lebih penting lagi mengamalkan isinya; penting untuk selalu bergaul dengan orang-orang shalih, namun lebih penting lagi meneladani keshalihan mereka; penting untuk melakukan ziarah kubur, tetapi lebih penting lagi adalah mempersiapkan amal shalih untuk bekal di alam kubur.

Alasannya jelas. Bagaimanapun kewajiban harus lebih didahulukan daripada keutamaan. Sebab, tentu tak ada keutamaan jika yang wajib ditinggalkan, meski yang sunnah dikerjakan. Bagi seorang Muslim, membaca Alquran, misalnya, adalah sunnah dan keutamaan. Namun, jika isi Alquran yang ia baca tak diamalkan, tentu membacanya tidak lagi menjadi keutamaan bagi dirinya; sekadar menjadi ‘hiasan’, tetapi tak mendatangkan manfaat atau keberkahan. Sebab, bukankah Alquran Allah turun agar dijadikan pedoman, bukan sekadar dijadikan bacaan? Allah SWT bahkan telah mencela orang-orang yang mengabaikan isi Alquran (Lihat: QS al-Furqan [25]: 30). Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufassir dikategorikan sebagai tindakan mengabaikan Alquran. Di antaranya adalah tidak mengamalkan serta mematuhi perintah dan larangannya (Ibn Katsir, I/1335); tidak mau berhukum dengannya (Wahbah Zuhaili, IXX/61).

Saat ini banyak Muslim yang sering mengutamakan hal-hal yang sunnah, seraya mengabaikan perkara-perkara yang wajib. Mereka lebih menomorsatukan hal-hal yang sesungguhnya hanya merupakan keutamaan, sementara mereka menomorduakan hal-hal yang sesungguhnya merupakan kewajiban.

Mungkin kita pernah atau malah sering menyaksikan pemandangan berikut: seseorang rajin menghadiri majelis-majelis dzikir, tetapi dalam bekerja kepada orang lain ia sering mangkir; seseorang banyak melafalkan kalimat-kalimat thayyibah, namun banyak pula ia melakukan ghibah; seseorang rajin menunaikan shalat-shalat sunnah, tetapi rajin pula melakukan perkara-perkara bid’ah; seseorang biasa berpuasa senin-kamis, tetapi biasa pula bersikap pragmatis (tak peduli halal-haram); seseorang rajin bersedekah, namun tak peduli nafkahnya ia peroleh dari jalan yang salah; seseorang berkali-kali melakukan ibadah umrah, tetapi tak sekalipun ia mau saat diajak berdakwah; seseorang rajin membaca Alquran, namun perintah dan larangan yang ada di dalamnya sering ia abaikan; seseorang mengklaim cinta dan banyak bershalawat kepada Nabi SAW namun terhadap nasib Islam yang beliau bawa dan masa depan umatnya ia tak peduli; seseorang biasa  menyantuni fakir-miskin dan kaum dhuafa, namun biasa pula ia makan dari uang hasil riba; seseorang bergelar haji bahkan ke Makkah lebih dari sekali tetapi terhadap tetangganya yang miskin sering tak peduli; seseorang selalu berusaha menjaga citra dan kehormatan diri, namun auratnya ia pamerkan ke sana-kemari dan perilakunya tak terpuji; seseorang menjadi donatur kegiatan keagamaan/sosial di sana-sini, namun hartanya ternyata hasil korupsi. Demikian seterusnya hingga kita sering menyaksikan hal-hal yang saling berkontradiksi.

Padahal Allah SWT pun jelas telah mengutamakan kewajiban daripada perkara-perkara yang sunnah. Dalam sebuah hadits qudsi dinyatakan bahwa Allah SWT telah berfirman, “Tidak ada bentuk taqarrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada (mengerjakan) apa yang Aku wajibkan kepadanya. Seorang hamba terus-menerus bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…” (HR al-Bukhari).

Melalui hadits qudsi ini, jelas Allah SWT menghendaki setiap Mukmin bertaqarrub kepada-Nya: pertama-tama dengan melaksanakan semua kewajiban, baik berupa fardlu ‘ain maupun fardlu kifayah; kemudian melengkapinya dengan menunaikan amalan-amalan sunnah. Dengan itu, keutamaan  bisa kita raih, dan kewajiban pun bisa kita tunaikan. Dengan itu pula, akan sempurnalah taqarrub kita kepada-Nya. Wa mâ tawfîqî illâ billâh. []  


arief b. iskandar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites