19 September 2010

Istiqamah Memegang Kebenaran

Aktivis Hizbut Tahrir Palestina Bernama Muhammad Yang Baru Berumur 16 Tahun

{mosimage}Ia disiksa oleh Otoritas Palestina hanya karena dakwah. Namun siksaan itu dihadapinya dengan gagah berani. Tak sedikit pun ia berkompromi.

Senin 25 Januari 2010 lalu. Muhammad (16 tahun) hanya mengenakan pakaian biasa, belum sempat mengenakan sepatu langsung digelandang masuk ke dalam mobil menuju markas keamanan otoritas Palestina. Bukannya, bertekuk lutut minta ampun agar perlakuan kasar petugas keamanan itu mereda, ia justru menghardik mereka, sehingga pukulan yang mendarat ditubuhnya semakin menjadi.

Karena Dakwah
 Mengapa ia ditangkap dan diperlakukan kasar begitu? Ia ditangkap bukan karena menculik anak gadis orang seperti yang marak di Indonesia saat ini, bukan pula karena terlibat tawuran atau pun narkoba. Remaja tanpa alas kaki itu hanyalah seorang yang telah mendapat pencerahan. Sehingga mempunyai kejernihan tujuan hidup di atas jalan dakwah Islam yang benar. Ia ditangkap lantaran dua hari sebelumnya telah menyebarkan pernyataan Hizbut Tahrir (nasyrah) yang berjudul, Otoritas Palestina yang Tunduk Kepada Yahudi Menculik dan Mengadili Para Aktivis Hizbut Tahrir.

Selama di dalam mobil, polisi tidak henti-hentinya memukuli Muhammad. Karena terlalu sakit, ia pun menjerit. “Cukuplah Allah bagi saya, dan Dia sebaik-baik wakil dalam melawan kalian. Cukuplah Allah bagi saya dalam melawan setiap orang zalim, dan mereka yang murtad!” teriak remaja 16 tahun ini.

Kontan saja mereka semakin marah dan jengkel, serta pukulan mereka semakin keras, sehingga menumbukkan gagang senjatanya ke kepala, punggung, kedua kaki, dan kedua tangan remaja yang tabu mengiba kepada Otoritas antek penjajah zionis Israel itu.

Teguh Pendirian
 Di markas keamanan ia dipertemukan dengan direktur pusat. “Apakah kamu mengakui Otoritas?” tanya sang direktur. “Saya tidak akan pernah mengakui legitimasi Otoritas selamanya!” jawabnya lantang.

Muhammad pun tidak mau mengatakan siapa yang memberikan nasyrah, jumlah dan tempat penyebarannya, ketika direktur pusat menanyakan itu. Kemudian, ia kembali lagi ke pertanyaan semula.

“Karena Otoritas ini dibentuk berdasarkan kesepakatan Oslo, sementara kesepakatan Oslo batal demi hukum (menurut syariah Islam). Sebab, berdasarkan kesepakatan itu, justru Otoritas telah menyerahkan Palestina kepada Yahudi, dan ini merupakan perbuatan haram. Sehingga setiap yang dibangun di atas sesuatu yang haram, maka ia juga haram, dan tidak sesuai syariah (ilegal). Oleh karena itu, bagaimana mungkin saya mengakui legitimasi sesuatu, sementara Allah tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sah, dan bagaimana mungkin saya menentang perintah Allah,” jawab Muhammad.

Lebih lanjut Muhammad mengatakan bahwa Otoritas Palestina malah berdamai dengan Yahudi dan menjaga keamanan Yahudi di satu sisi. Di sisi lain menangkapi, menyiksa, dan bahkan membunuh warga Palestina yang ikhlas yang ingin merdeka dari penjajahan Yahudi. “Kemudian, Anda menginginkan saya mengakui legitimasi semua ini, bodoh benar!” tandasnya.

Kemudian ia memanggil para eksekutor. Mereka mendudukkan Muhammad di atas kursi. Direktur keamanan itu pun kembali menampari Muhammad beberapa kali. Sementara para eksekutornya menarik tangan Muhammad ke belakang kursi, dan memegangnya dengan kuat.

Direktur itu berteriak, “Apakah kamu mengakui legitimasi Otoritas?”. “Tidak! Saya tidak akan pernah mengakuinya!” jawab Muhammad dengan berteriak pula.

Kemudian ia diseret ke ruang investigasi. Lalu, diajukan kepadanya beberapa pertanyaan terkait biodata dan keterkaitannya dengan Hizbut Tahrir. Ia jawab semua itu. Namun ia kembali tidak mau menjawab ketika ditanya soal nasyrah.

Ia pun dijebloskan ke dalam tahanan. Menjelang Shubuh, Direktur Pusat mendatanginya didampingi pasukan pengawal untuk menanyakan tentang pengakuan Muhammad atas legitimasi Otoritas. Namun jawabannya tetap sama.

Kemudian, ia bertanya pada Muhammad, “Apakah kamu yakin dengan apa yang ada dalam nasyrah itu?”. Dengan lantang Muhammad menjawab ia meyakini semua kebenaran yang dikandung oleh semua nasyrah yang dikeluarkan Hizbut Tahrir.

Mendengar itu, Direktur kembali naik pitam. Kemudian, ia dan para pengawalnya memukulinya bertubi-tubi.
Pagi harinya, Muhammad dipindahkan ke Markas Besar Investigasi di Kota Al Khalil Hebron. Di sana ia dijenguk ibunya. “Jangan pernah datang ke sini lagi, dan menemui seseorang di antara bajingan-bajingan di sini. Saya baik-baik saja, dan jangan khawatir tentang keadaan saya,” pesannya kepada ibunda yang sedang sakit itu.

Tolak Perjanjian
Agar bebas dari hukuman, Muhammad harus menandatangi sebuah pernyataan. Namun  ia menolak menandatangani lembar pernyataan yang disodorkan petugas. Mereka kemudian menghadirkan beberapa paman Muhammad yang juga diintimidasi.

Sehingga paman-pamannya pun membujuk dengan mengatakan sikapnya itu akan menambah beban ibu yang sedang sakit, cukup sekali tanda tangan maka Muhammad akan langsung bebas.

“Sungguh! Saya tidak berharap sikap seperti ini datang dari kalian! Ingat, selamanya saya tidak akan pernah tandatangani, sekalipun saya membusuk di dalam penjara,” jawabnya.

“Jika ini yang kamu inginkan, maka bertawakallah pada Allah, niscaya Allah pasti melindungimu,” pesan salah seorang pamannya. Setelah itu mereka pun pergi.

Kemudian, ia dipindahkan ke penjara remaja. Direktur penjara remaja membujuknya agar menandatangani sebuah pernyataan namun ia tetap menolak.

Ia pun dipindahkan ke Jaksa Militer di pusat kota. Selama tiga hari diinterogasi, lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama. Ia  pun tetap konsisten dengan jawabannya.

Sampailah seorang jaksa penuntut umum yang bersikap tenang menanyainya. Jawaban tetap tidak berubah. Sang jaksa pun tiba-tiba menjadi sangat marah. Kemudian ia mencaci maki Hizbut Tahrir, amirnya, dan para aktivisnya.

Sikapnya itu telah membakar kemarahan Muhammad, maka ia pun membalasnya melebihi apa yang jaksa itu katakan. Sang jaksa semakin marah, bahkan ia mengancam kelanjutan pendidikan Muhammad dan masa depannya. Kemudian, ia memerintahkan penjara 15 hari.

Namun beberapa hari kemudian, petugas mengeluarkannya dari sel dan membawa Muhammad kepada jaksa itu lagi. Sang Jaksa bersumpah dan mengancam agar remaja itu mau menandatangani pernyataan.

Kemudian, ia memanggil enam orang pengawalnya. Muhammad dipaksa duduk di atas kursi, yang empat orang memegang tangan kiri Muhammad dan menariknya ke belakang punggung. Yang lain, berusaha menaruh pena di tangannya, namun ia mengepal tangan erat-erat sehingga pena tidak dapat masuk. Tanda tangan gagal lagi didapat.

Selanjutnya, datang wakil jaksa penuntut umum, dan membawa Muhammad ke ruang lain.

Ia mulai berbicara dengan kata-kata yang manis agar Muhammad mau tanda tangan. Namun tetap nihil. Wakil jaksa itu pun mengatakan, “Bertandatanganlah di atas kertas putih ini!”. Muhammad menjawab, “Subhanallah! Saya tidak mungkin menandatangani sesuatu yang tidak jelas!”.

Kemudian ia menyodorkan kertas putih kepada Muhammad, dan berkata, “Tulislah apa yang Anda inginkan, lalu tandatangani.” Muhammad merobek kertas itu. Tidak putus asa, ia memberi Muhammad kertas lain, dan berkata, “Berpikirlah! Tulislah apa yang Anda inginkan, lalu tandatangani”.

Muhammad pun berpikir. Lalu  menulis, Saya yang bertanda tangan di bawah ini, fulan bin fulan, dari kota ini, tinggal di tempat ini, saya begitu bangga dapat bergabung dengan Hizbut Tahrir. Saya memutuskan akan tetap bergabung dengan Hizbut Tahrir, melakukan dakwah kepada kebaikan (Islam), amar makruf nahi mungkar, melakukan perjuangan politik, serangan pemikiran, serta akan selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan Hizbut Tahrir dan aktivitasnya, seperti masirah (unjuk rasa), dan sebagainya.

Ia pun membubuhkan tanda tangan di bawahnya. Wakil jaksa itu memperhatikannya. kemudian aparat itu tampak menghapus beberapa hal yang Muhammad sendiri tidak tahu maksud dari tindakan petugas Otoritas Palestina itu.

Lalu petugas keamanan membawa Muhammad ke sebuah kota yang tidak ia kenali. Melepasnya di pinggir jalan. Ia tidak tahu jalan ke rumah dan tidak punya uang untuk naik kendaraan. Sehingga akhirnya Allah mengirim orang baik dan mengantarnya pulang.[] joko prasetyo ( mediaumat.com )

 

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites