Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

7 Januari 2012

Vatikan, Bukan Sekadar Kota Suci, Tapi Negara Berdaulat

Hj Irena Handono,  Pakar Kristologi, 
Pendiri Irena Center


Tak banyak yang tahu, terutama dari kalangan Muslim, sebenarnya Vatikan bukanlah sekadar sebuah “kota suci agama” seperti halnya kita memandang kota suci umat Islam, Makkah.

Vatikan adalah sebuah negara yang terletak di dalam kota Roma, Italia. Yang mungkin lebih tepat dikatakan sebuah negara dalam negara. Negara Vatikan adalah negara yang terkecil di dunia, dengan luas wilayah kurang dari 1 km², atau hanya 0,44 km². Negara yang independen dan berdaulat seperti layaknya negara-negara besar lainnya. Dan tergabung dalam negara-negara PBB. Vatikan dikepalai oleh pemegang kekuasaan negara tertinggi yang disebut Paus.

Bukti bahwa Vatikan adalah sebuah negara berdaulat yang sejajar dengan negara-negara lain, di antaranya:

Pemerintahan Teokrasi

Vatikan sebagai negara tak pernah tersentuh pada tuntutan untuk menerapkan demokrasi, seperti halnya negara-negara lain yang ‘dipaksa’ untuk menerapkan demokrasi.  Sistem pemerintahan Vatikan adalah teokrasi, di mana kekuasaan tertinggi berada pada Paus, bukan pada Kitab suci atau wahyu Tuhan. Paus sendiri merupakan representasi dari Tuhan (Yesus) di bumi yang mempunyai sebutan The Holy Father atau Bapa Suci dan mempunyai status Infalibilitas Paus yang berarti ia terjaga dari dosa, “Pope do not wrong”.

Konklaf

Fungsi kepala negara Vatikan, yaitu Sang Paus tidak diwariskan tetapi dipilih untuk seumur hidup oleh Dewan Kardinal. Anggota dewan Kardinal yang dapat memilih adalah mereka yang berumur di bawah 80 tahun. Pemilihan kepala negara/Paus baru dilakukan jika Paus sebelumnya telah meninggal. Sehingga saat itu juga dewan Kardinal berkumpul dalam ritual pemilihan Paus baru yang disebut Konklaf. Sebuah ritual pemilihan Paus dengan cara voting yang dilakukan dalam ruang tertutup di Kapel Sistina. Pintu ruang dikunci dari luar dan para Kardinal di dalam terputus segala komunikasi dari luar bahkan tanpa listrik sedikitpun. Gembok pintu akan dibuka setelah ada tanda berupa asap yang keluar jika sudah ada keputusan nama Paus terpilih.  Penggambaran pemilihan Paus ini sangat jelas dalam film yang diangkat dari novel Dan Brown: “Angel and Demon”.

Diplomat

Sebagai negara berdaulat, Vatikan juga mempunyai hak untuk mengirim dan menerima diplomat. Kantor kedutaan besar negara-negara untuk Vatikan, berkedudukan atau ‘menumpang’ di kota Roma-Italia karena tidak ada tempat di Vatikan. Dengan demikian ada sebuah situasi paradoksal di mana Italia mempunyai perwakilan di wilayahnya sendiri. Indonesia juga memiliki perwakilan di Roma untuk Vatikan.

Militer dan Polisi

Untuk militer, Vatikan memiliki Garda Swiss yang pada 22 Januari 1506 diresmikan oleh Paus Julius II sebagai pengawal tetap kepausan. Mereka terdaftar di dalam daftar tahunan kepausan, Annuario Pontifico. Dahulu para Paus sebelumnya selalu menyewa tentara bayaran dan yang paling sering disewa adalah tentara dari Swiss.

Pada akhir tahun 2005, Garda Swiss berkekuatan 134 anggota. Penerimaan anggota baru berdasarkan persetujuan khusus antara Vatikan dan Negara Swiss, dan terbatas hanya bagi warga negara Swiss laki-laki yang beragama Katolik. Garda Palatine dan Garda Kemuliaaan dibubarkan oleh Paus Paulus VI di tahun 1970. Garda Palatine didirikan pada mulanya sebagai kekuatan bersenjata untuk membela negara-negara yang tunduk pada Paus. Vatikan juga memiliki Corpo della Gendarmeria berperan sebagai kekuatan kepolisian. Gendarmeria bertanggung jawab atas ketertiban publik, penegakan hukum, pengendalian massa dan lalu-lintas, serta penyelidikan kriminal di Vatikan.

Kementerian, Gubernur

Kardinal diangkat secara langsung oleh Paus sebagai pembantu dan sebagai dewan penasihat Paus. Ada Kardinal yang bertempat  tinggal  di  Negara Vatikan, yang biasanya memimpin suatu Konggregasi (Kementerian) dan ada pula yang bertempat  tinggal  di  luar Vatikan yang memimpin sebuah Keuskupan Agung atau setingkat gubernur yang memimpin provinsi dalam struktur pemerintahan. Keuskupan Agung membawahkan beberapa keuskupan di bawahnya.

Maka selain perangkat yang terdapat di dalam negeri, Vatikan juga mempunyai perangkat pemerintahan yang berada di luar Vatikan dan bahkan tersebar di seluruh dunia. Mereka ini disebut sebagai Uskup yakni pemimpin dari sebuah Gereja Katedral. Menurut data laporan tahunan Vatikan The 2011 Pontifical Yearbook, disebutkan ada  2.956 keuskupan di seluruh dunia.
Yang perlu dicermati, menurut aturan Gereja, Kardinal itu bukan  jabatan  atau  pangkat  di atas  Uskup,  maka boleh  seorang  Pastor  biasa diangkat menjadi Kardinal, bahkan seorang awam (dalam arti tidak  ditahbiskan sebagai  imam  atau  biarawan)  dapat  saja diangkat menjadi Kardinal,  asal  Katolik   dan   laki-laki.

Warga Negara

Seluruh penganut Katolik di dunia adalah warga negara Vatikan yang terikat hukum-hukum Vatikan melalui gereja-gereja Katolik. Bukti dari kewarganegaraan ini adalah surat baptis yang dimiliki oleh setiap penganut Katolik. Maka sesungguhnya umat katolik memiliki kewarganegaraan ganda. Warga Negara Vatikan dan negara yang sedang didiaminya. Ini yang tidak disadari oleh umum.[mediaumat.com] 

4 Januari 2012

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

Kaum Muslim di negeri Syam tidak berhenti terus berjuang untuk mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zhalim, Bashar al-Assad. Setelah ribuan kaum Muslim syahid dibantai pasukan rezim, puluhan ribu kaum Muslim di Homs, salah satu pusat revolusi di Suriah, berkumpul di pusat kota untuk berikrar, menyatakan bahwa pertolongan bukan datang dari Liga Arab, Amerika, Obama, atau Erdogan melainkan datang dari Allah.

Puluhan ribu kaum Muslim berkumpul di Homs pada hari Selasa, 27 Desember 2011 bersamaan dengan pemakaman salah seorang ulama yang syahid setelah ditembak rezim berkuasa. Aksi massa ini juga bertepatan dengan kedatangan tim pemantau Liga Arab yang telah dibeli rezim untuk memastikan stabilitas Suriah.

Warga di Homs, salah satu tempat di mana rezim melakukan pembantaian atas warga yang menentang rezim, menegaskan bahwa pertolongan datang bukan dari Liga Arab, Tim Pemantau, Amerika, Obama atau Sarkozy.

Mereka berikrar, bersumpah demi Allah Yang Maha Agung, bahwa mereka akan melindungi perempuan mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, para ulama, dan para syuhada hingga titik darah terakhir.

"Liga Arab, Tim Pemantau, rezim Suriah, Amerika, Obama, Sarkozi, dan siapa pun yang mendengar.. Kemenangan datang dari siapa?" tanya seorang pemuda yang memimpin puluhan ribu. "Dari Allah!" jawab kerumunan kaum Muslim sambil merapatkan barisan.

"Wahai para pemuda saya berbicara dengan al-Jazeera, seluruh dunia akan melihat anda katakan pada mereka adakah orang yang menanti kemenangan dari Obama?" tanyanya lagi

Secara serentak dan tegas, seluruh kerumunan kaum Muslim menjawab "Tidak!"

Dengan penuh keyakinan mereka menyatakan bahwa pertolongan datang dari Allah. Mereka pun secara bersamaan membaca surat an-Nasr yang menyatakan ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan, manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.

Partai Baath telah menguasai Suriah secara diktator dan dengan tangan besi selama lima dekade. Rezim ini dengan semua kekuatan yang dimilikinya terus-menerus melakukan tindakan kejam dan brutal terhadap rakyatnya untuk tetap berkuasa.

Selama lebih dari lima dekade itu, keluarga al-Assad telah menjalankan salah satu pemerintah paling kejam di Timur Tengah serta menindas rakyat Suriah. Selama waktu yang sama, Suriah telah digunakan sebagai negara mitra oleh kekuasaan Barat untuk mempertahankan kepentingan mereka di wilayah tersebut dengan melakukan operasi terencana di Libanon dan Irak dan dengan melindungi Israel.

Dalam perbudakan bagi tuan Amerika, rezim al-Assad telah menjalankan salah satu kediktatoran paling kejam, melakukan pembantaian, termasuk pembantaian di Hama, menewaskan 40.000 orang dan pembantaian terhadap para demonstran tahun in.

Sekalipun ditakuti dengan pembantaian, kaum Muslim Syam semakin berani dan tidak takut lagi untuk terus berbicara di hadapan penguasa dzalim budak Amerka tersebut. Sebuah video tentang ikrar puluhan ribu kaum Muslim tersebut dengan jelas menggambarkan fakta yang terjadi di Suriah, bahwa Islam memimpin revolusi. Fakta ini tentu saja akan sulit ditemukan dalam beberapa media Barat yang berusaha menutupi fakta kebangkitan Islam di bumi Syam tersebut.

Demikianlah, kejadian di Syam ini mengingatkan kita kepada Rasulullah Saw. tercinta yang telah menjelaskan kesucian tanah Syam ini sesuai riwayat Imam At-Tirmidzi dari shahabat Zaid bin Tsabit Al-Anshari RA yang menyatakan bahwa, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

‘Betapa diberkahinya Syam ! Betapa diberkahinya Syam !’ Lalu orang-orang bertanya,’Bagaimana ia diberkahi wahai Rasulullah ?’ Nabi menjawab,‘Para malaikat membentangkan sayapnya di atas Syam, dan para nabi telah membangun Baitul Maqdis (Al Quds).” Ibnu Abbas menambahkan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Dan para nabi tinggal di Syam, dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR At Tirmidzi). [f/z/fa/m/syababprod/syabab.com/www.taman-langit7.co.cc]

 Lihat Video:

3 Januari 2012

Refleksi Dunia Islam 2011: Menanti Gelombang ke-5 Dunia Islam, Tegaknya Khilafah

oleh: Farid Wadjdi Ketua Lajnah Siyasiyah Hizbut Tahrir Indonesia 
 
Penjajahan Barat di Dunia Islam 

Tahun 2011 telah berlalu. Secara umum tidak banyak perubahan mendasar yang terjadi di dunia Islam. Negeri-negeri Islam masih menjadi objek imperialisme negara-negara Kapitalisme dunia. Irak, Afghanistan, dan Pakistan masih diduduki. Pangkalan militer Amerika tersebar di antero dunia Islam terutama di Timur Tengah. Cerminan pendudukan Amerika yang disetujui para bonekanya.

Meskipun Amerika menarik pasukannya dari Irak pada Desember ini, negara itu malah memperkuat posisinya di negara-negara Timur Tengah. Ketua Gabungan Kepala Staf mengatakan kepada anggota Kongres bahwa Amerika Serikat harus memperkuat kehadiran militernya di Kuwait untuk melawan pengaruh Iran yang terus tumbuh di Irak dan kawasan Teluk. Amerika Serikat, yang memiliki 29 ribu tentara di Kuwait, 7 ribu di Bahrain dan Qatar, 3 ribu di UAE, dan 258 militer di Arab Saudi, menginginkan Kuwait untuk mengakomodasi tentaranya yang ditarik dari Irak, yang jumlahnya diperkirakan 24 ribu tentara

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Leon mengatakan Kamis (13/10) kepada para anggota parlemen bahwa sepuluh ribu pasukan AS akan ditarik dari Afghanistan sebelum akhir tahun ini seperti yang direncanakan, namun 23 ribu orang tentara yang dikirim oleh Barack Obama ke Afghanistan akan tetap menduduki wilayah itu sampai musim panas 2012.

Di bidang ekonomi, negeri Islam yang kaya menjadi obyek eksploitasi perusahan-perusahan negara Imperialis dari Maroko hingga Maruke. Sementara rakyat dunia Islam , sebagian besar hidup miskin.

Amerika juga masih menggunakan rezim-rezim represif yang menjadi bonekanya untuk menekan perjuangan syariah dan Khilafah. Seperti yang terjadi di Uzbekistan, Tajikistan, Kazhastan, Bangladesh, dan Pakistan.

Situs uznews.net mempublikasikan sebuah laporan dengan judul: “Penyiksaan Terus Menyertai Para Tahanan Yang Dituduh Melakukan Kejahatan Keagamaan“. Para aktivis hak asasi manusia melaporkan kasus-kasus baru, seperti penyiksaan, dan pemalsuan tuduhan-tuduhan baru di penjara-penjara Uzbekistan terhadap orang-orang dipenjara karena alasan keagamaan dan orang-orang yang masa hukumannya hampir habis. Ketua Kelompok Inisiatif Independen Hak Asasi Manusia Uzbekistan (IGNPU), Surat Ikramov mengangkat bahwa kasus baru ini menimpa dua orang bersaudara dituduh menjadi anggota Hizbut Tahrir.

Rezim Kazahstan pada tanggal 22/9/2011 mengeluarkan undang-undang yang berisi larangan melakukan shalat di lembaga-lembaga dan departemen-departemen pemerintah. Termasuk melarang melakukan syiar Islam apapun di tempat-tempat milik pemerintah ini. Berdasarkan undang-undang ini semua masjid dan tempat-tempat pelaksaan shalat di semua tempat milik pemerintah tersebut harus ditutup.

Adapun di Bangladesh, sebagaimana dilaporkan situs islamtoday.net (18/1/2011) dengan mengutip Surat kabar The Guardian terungkap keterlibatan intelijen Inggris pada pusat-pusat penyiksaan di Bangladesh, yang diadopsi oleh pemerintah untuk Partai Buruh Inggris. Menurut laporan yang dibuat oleh Jacqui Smith, mantan Menteri Dalam Negeri Inggris, bahwa ia sangat khawatir tentang penggunaan penyiksaan di Bangladesh oleh badan-badan intelijen Inggris. Yang menjadi objek penyiksaan di Bangladesh disamping lawan politik penguasa , adalah aktifis Islam Hizbut Tahrir yang memperjuangkan tegaknya syariah Islam.

Nasib Muslim Minoritas

Sementara itu monoritas muslim di daerah-daerah yang mayoritas dikuasai oleh orang-orang kafir nasibnya sangat menyedihkan. Pembantaian, diskriminasi, pelecehan, merupakan perkara yang berulang yang dialami kaum muslimin Rusia, muslim Pattani di Thailand (rezim Budha), muslim di India ,Khasmir, dan Srilanka (rezim Hindu), muslim di Moro (Philipina), muslim di Xianjiang (China Selatan).

Menurut Situs islamtoday.net (12/8/2011) berdasarkan laporan Pew Forum on Religion and Public Life mengungkap bahwa kaum Muslim dilecehkan di 117 negara, termasuk negara-negara Eropa yang melarang cadar (niqâb) dan adzan. Cina adalah negara yang paling memaksakan pembatasan kebebasan beragama dan pelaksanaan ritual-ritual keagamaan, dan kemudian disusul Prancis yang menempati urutan ketiga karena melarang cadar (niqâb).

Muslim Uighur dihalangi untuk menunaikan ibadah haji. “Kita tidak bisa mendapatkan paspor,” kata Mehmet Ali, bukan nama sebenarnya, kepada surat kabar The Hindutimes.com, Senin (31/10).Mehmet mengatakan untuk berhaji, Muslim Uighur harus membayar 70 ribu Yuan. Bukan harga yang mereka persoalkan, namun kesulitan permohonan paspor yang menjadi masalah. Pemerintah Cina dengan sengaji mempersulit permohonan paspor untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Situs almokhtsar.com,(23/11/2011) memberitakan penghancuran sebuah masjid di distrik Mullaitivu, di Provinsi Utara Sri Lanka oleh kaum ekstrimis Hindu, lalu dibangun sebuah pusat Hindu untuk meditasi dan tempat yoga. Padahal, kaum Muslim sudah tinggal di daerah ini sejak tahun 1965, dan jumlah keluarga Muslim ada 165 keluarga pada saat itu. Masjid Firdaus selama ini menjadi tempat kaum muslim menjalankan shalat lima waktu 
Nasib Muslim di Negara Barat

Nasib yang sama dialami kaum muslim di negara-negara yang mengklaim demokratis dan menyunjung HAM. Islamophobia yang bercampur dengan Xenophobia meningkat di Eropa. Dukungan terhadap kelompok ultranasionalis pun meningkat.Mulai dari pelemparan masjid, penghinaan terhadap Rosulullah SAW, tindakan kriminalitas karena agama dan ras, hingga tindakan resmi negara seperti pelarangan menggunakan busana muslimah (niqab), pelarangan pembangunan masjid. Semua dilakukan atas nama keamanan negara dan kewajiban negara mempertahankan sukulerisme.

Menurut FBI bahwa kejahatan dan pelanggaran ringan terhadap umat Islam mengalami peningkatan sebesar 50% antara 2009 dan 2010. Situs berita islamtoday.net (15/11/2011) melaporkan statistik dari FBI jumlah total tindak kekerasan terhadap kaum muslim meningkat dari 107 pada 2009 menjadi 160 pada 2010, yakni naik 49%.

Badan Intelijen Pusat AS (CIA) memberikan bantuan kepada Kepolisian Distrik New York (NYPD) untuk memata-matai warga Amerika, khususnya Muslim. Sejak serangan 11 September, dengan bantuan CIA, NYPD mengirim petugas yang menyamar ke lingkungan minoritas sebagai bagian dari program pemetaan manusia, kantor berita AP melaporkan Rabu (24/8).

Majalah satir Prancis Charlie Hebdo mengangkat Nabi Muhammad sebagai “pemimpin redaksi” untuk terbitan terbaru guna menandai kemenangan Partai Islamis Ennahda di Tunisia. Majalah itu akan diganti nama menjadi Sharia Hebdo. ”Untuk merayakan kemenangan Partai Islamis Ennahda di Tunisia, Charlie Hebdo mengangkat Muhammad sebagai pemimpin redaksi dalam edisi mendatang,” kata majalah itu dalam satu pernyataan

Yang menarik , meskipun terjadi stigmanisasi yang massal dan sistematis terhadap ajaran Islam dan kaum muslimin. Jumlah pendudukan Eropa dan Amerika yang masuk Islam semakin bertambah. Terutama wanita eropa berpendidikan menengah keatas. Berdasarkan hasil penelitian lembaga penelitian Inggris “Faith Matters” menunjukkan bahwa angka warga Inggris yang memeluk sebenarnya mencapai 100 ribu, di mana setiap tahunnya ada 5000 orang baru yang memeluk Islam.

Padahal selama ini yang sering kali menjadi obyek penghinaan adalah syariah Islam yang berkaitan dengan wanita. Ajaran Islam yang bersumber dari Allah SWT, yang sesuai dengan fitrah , dan memuaskan akal manusiak karena dibangun atas dasar prinsip tauhid (keesaan Allah SWT) , mampu mengalahkan sterotif negatif yang berupaya dibangun untuk menjauh masyarakat dari Islam.

Syariah Islam yang komprehensif yang dipraktikkan meskipun secara parsial seperti ajaran kasih sayang dalam keluarga, integritas untuk menjaga kehormatan wanita dan keluarga, menghormati yang tua, hingga pakaian muslimah yang menjauhkan wanita dari sikap ekploitasi keji kapitalisme telah memikat banyak pihak untuk memeluk ajaran Islam.

Arah Perubahan Di Timur Tengah

Yang sangat membedakan dunia Islam adalah perkembangan di Timur Tengah. Berupa kejatuhan rezim-rezim represif. Di awali dari tumbangnya Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, mundurnya Mubarak di Mesir, hingga berakhirnya rezim represif Gadzafi secara tragis di Libya. Saat ini beberapa wilayah masih terus bergolak seperti Yaman dan Suriah. Negara-negara yang selama ini dikenal benar-benar ‘under control’ penguasanya pun dipastikan akan turut bergoyang seperti Yordania, Saudi Arabia, Bahraian, dan lain-lain.

Gerakan rakyat yang bergerak penuh dengan keberanian mampu menumbangkan para rezim ini. Meskipun ditengah jalan , arah perubahan di bajak oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Perubahan diarahkan ke demokratisasi. Tanpa malu AS pun mengklaim dirinya sebagai pahlawan yang mendorong perubahan di Timteng. Meskipun nyata-nyata , negara bengis ini yang selama ini mendukung rezim represif . Mereka kemudian berubah arah seakan memihak rakyat , setelah melihat para bonekanya tidak lagi bisa dimanfaatkan.

Namun Barat tahu, bahwa perubahan di Timur Tengah, tidak bisa dilepaskan dari faktor Islam yang telah menjadi cultur dan syu’ur kaum muslimin disana. Tidak mengherankan kalau mereka membungkus tawaran ide-ide kapitalisme dengan Islam. Muncullah istilah ad daulah al Madaniah (negara madani/civil society), al islam al mu’tadil ( Islam moderat) yang merupakan istilah racun (poison words). Sebab inti dari semua ide itu adalah penerimaan terhadap sistem sekulerisme ,demokrasi, dan pluralisme yang bertentangan dengan Islam. Yang mereka maksud dengan Islam moderat adalah Islam yang mengakomodasi pemikiran Barat seperti demokrasi , Ham dan Pluralisme. Dan yang menerima kebijakan penjajahan Barat atas nama keterbukaan dan sikap inklusif .

Pertanyaannya berhasilkah Barat dengan strategi ini ? Apakah akan membawa perubahan berarti bagi masyarakat Timur Tengah ? Jawabannya sangat jelas. Barat akankembali gagal. Dan tawaran ide-ide Barat yang berbungkus Islam pun akan gagal. Sebab semuanya tetap melestarikan penjajahan Barat yang menjadi pangkal persoalan utama di Timur Tengah dan negeri Islam. Melestarikan ideologi kapitalisme dan campur tangan asing.

Sayangnya, Partai-partai pemenang pemilu –berbasis Islam- justru terjebak pada tekanan Barat denganmengusung ide-ide Barat seperti demokrasi, liberalisme dan pluralisme. Partai an Nahdha yang menang di Tunisia berjanji tidak akan mengubah sekulerisme yang sudah menjadi asas negara di Tunisia. Sebagaimana dikutip dari situs http://english.alarabiya.net (5/11) Partai an Nahda yang akan memerintah di Tunisia pasca tumbangnya Zainal Abidin bin Ali akan fokus pada demokrasi, hak asasi manusia dan ekonomi pasar bebas dalam rencana perubahan konstitusi. Partai ini tidak akan menggunakan agama sebagai rujukan teks dan rancangan yang konstitusi yang akan disusun dan tetap menjamin Tunisia sebagai negara sekuler .

Beberapa partai yang berbasis Islam pun melakukan kerjasama rahasia dengan negara-negara Barat. Sebuah tindakan bunuh diri secara politis. Secara hukum syara’ juga adalah haram bekerjasama dengan negara-negara muhariban fi’lan yang telah membunuh jutaan kaum muslimin dan merampok kekayaan alam dunia Islam. Sekali lagi, Tanpa syariah dan Khilafah , akan pasti gagal, sekali lagi pasti gagal. Sebab hanya penegakan syariah Islam dan Khilafah yang bersumber dari Allah SWT lah yang akan menyelesaikan persoalan dunia Islam termasuk di Timur Tengah.

Hanya dengan menerapkan syariah Islam-lah secara total yang merupakan bukti keimanan kepada Allah SWT dan ketaqwaan , kemenangan akan diraih. Hal ini ditegaskan Allah SWT.Dalam Al Qur’an QS A’raf 96 Allah SWT berfirman : Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, sungguh kami akan membukakan bagi mereka pintu berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan(ayat-ayat Kami), maka kami menyiksa mereka karena perbuatan mereka.

Menanti Gelombang ke-5

Insya Allah umat pasti akan memasuki gelombang terakhir dari perjalanan umat Islam pasca runtuhnya Khilafah Islam tahun 1924. Sebutlah gelombang I merupakan era ketika pemerintah kolonial mengokohkan penjajahan negeri-negeri Islam secara langsung.

Mereka mengirim pasukan-pasukan kolonial ke negeri-negeri Islam. Namun mereka menyadari cara seperti ini pasti berujung kegagalan. Kaum muslim akan mudah bergerak, karena musuh mereka jelas di depan mata yaitu tentara-tentara asing. Disamping juga membutuhkan biaya yang mahal.

Gelombang ke-dua, adalah ketika penjajah Barat , memberikan kemerdekaan ‘semu’ kepada negeri-negeri Islam. Semu karena mereka belum benar-bener memberikan kemerdekaan. Pasukan kolonial sebagain besar menarik diri dari negeri Islam. Namun penjajahan tetap berlangsung melalui penguasa-penguasa boneka anak negeri Islam sendiri. Mereka pun memastikan yang berlaku bukanlah syariah Islam tapi sistem Barat.

Kemudian masuklah umat Islam pada gelombang ketiga. Saat, penguasa-penguasa boneka Barat bertindak represif terhadap rakyatnya sendiri. Karena mereka lebih mengutamakan melayani tuan-tuan imperialisme mereka. Untuk mendapat dukungan negara-negara Barat mereka mempersilahkan kekayaan alam negeri Islam dieksploitasi sementara rakyatnya miskin. Sementara setiap upaya perjuangan syariah Islam ditindak secara represif, karena hal ini akan mengancam kepentingan penjajahan.

Mereka menangkapi,menyiksa, membunuh, para pejuangan syariah Islam. Penguasa tipe seperti ini silih berganti di negeri Islam baik berupa raja atau pun presiden atau perdana menteri. Diantaranya adalah Suharto di Indonesia, Saddam Husain di Irak, Husni Mubarak di Mesir , Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, termasuk Gadzdzafi di Libya. Rezim inipun tumbang.

Masuklah umat Islam pada gelombang keempat, dimana Barat terpaksa memberikan demokrasi yang mereka bungkus dengan istilah-istilah Islam. Mereka berusaha menyesatkan kaum muslim. Tapi hal ini juga akan gagal. Kondisi kegagalan ini diperkuat dengan semakin melemahnya negara-negara utama kapitalism dunia seperti Amerika Serikat dan Eropa. Krisis di negara Barat akan membuat mereka tidak bisa mendukung sepenuhnya penguasa-penguasa boneka baru yang menjadi andalan mereka.

Insya Allah, umat Islam akan masuk gelombang kelima. Dimana rakyat tidak lagi bisa ditipu. Mereka menyadari bahwa sistem apapun yang berasal dari ideologi Barat penjajah tidak akan memberikan kebaikan. Baik itu dibungkus dengan istilah Islam atau kata-kata penyesatan lain atau tidak. Umat pada gilirannya akan dengan tegas menolak demokrasi,pluralisme, liberalisme , dan ide-ide sesat lainnya.

Saat itulah , umat hanya akan percaya kepada Islam dengan syariah dan Khilafahnya. Umat tidak ada pilihan lain saat itu kecuali mendukung tegaknya syariah dan Khilafah. Umatpun akan memberikan kepercayaan mereka sepenuhnya kepada kelompok dakwah yang dengan serius selama ini memperjuangkan syariah dan Khilafah. Mereka tidak lagi percaya kepada ulama-ulama salatin yang menjadi kaki tangan penjajahan. Saat itulah tegaknya Khilafah sudah di depan mata. Insya Allah ! (eramuslim.com, 21/12/2011)

Da’wah Penghambaan Kepada Allah Semata Dan Menjauhi Semua Thaghut

Dalam salah satu tulisannya, Sayyid Qutb rahimahullah menulis sebagai berikut:

“Da'wah Islam yang dilakukan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم hanyalah merupakan mata rantai terakhir dari serentetan da'wah, yang panjang, yang menyeru kepada Islam, yang dilakukan oleh serombongan para Rasul yang mulia ‘alaihimus-salaam. Sepanjang sejarah manusia, tujuan da'wah itu hanya satu saja. Yaitu: mengenalkan manusia kepada Ilah mereka yang satu, Ilah mereka yang sesungguhnya, menegaskan bahwa mereka adalah hamba Ilah mereka yang satu, dan menghilangkan ke-ilah-an makhluk.

Selain dari beberapa gelintir manusia pada saat-saat tertentu dalam sejarah, manusia tidak pernah mengingkari prinsip ketuhanan, atau menolak adanya Ilah sama sekali. Hanya mereka tersalah dalam mengenal hakekat Ilah mereka yang hak itu. Atau mereka perserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu ilah yang lain, baik dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ). Kedua bentuk ini adalah sama saja syiriknya, karena keduanya mengeluarkan manusia dari agama Allah سبحانه و تعالى , sebagaimana yang telah mereka kenal dari tangan setiap Rasul. Kemudian manusia itu mengingkari Rasul kalau masa telah berjalan agak lama. Manusia kembali kepada kejahiliyahan yang tadinya Rasul itu telah mengeluarkan mereka dari padanya. Manusia kembali mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى sekali lagi. Hal ini terjadi baik dalam kepercayaan dan peribadatan, baik dalam hal kepengikutan dan kepenguasaan, mau­pun dalam kedua hal itu sekaligus.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 66)

Jelas sekali sebagaimana ditulis oleh Sayyid Qutb di atas bahwa Sepanjang sejarah manusia, tujuan da'wah itu hanya satu saja. Yaitu: mengenalkan manusia kepada Ilah mereka yang satu, Ilah mereka yang sesungguhnya, menegaskan bahwa mereka adalah hamba Ilah mereka yang satu, dan menghilangkan ke-ilah-an makhluk.

Tujuan da’wah seperti ditegaskan beliau di atas sangat sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an dimana Allah سبحانه و تعالى menegaskan bahwa para Nabi dan Rasul Allah semua menyerukan kaumnya masing-masing pesan abadi yang serupa:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu."(QS An-Nahl 36)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ أَنْ لا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah.”(QS Hud 25-26)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا مُفْتَرُونَ

“Dan kepada kaum Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.”(QS Hud 50)

Inilah pesan sepanjang zaman yang menjadi inti da’wah Islam. Yaitu mengajak setiap manusia untuk memfokuskan ibadah hanya kepada Allah سبحانه و تعالى seraya meninggalkan berbagai ilah atau thaghut yang merupakan musuh para Nabiyullah ‘alaihimussalam. Demikianlah yang diungkapkan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam kepada kaumnya:

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam.”(QS Asy-Syuara 75-77)

Selanjutnya Sayyid Qutb menulis: “Selain dari beberapa gelintir manusia pada saat-saat tertentu dalam sejarah, manusia tidak pernah mengingkari prinsip ketuhanan, atau menolak adanya Ilah sama sekali. Hanya mereka tersalah dalam mengenal hakekat Ilah mereka yang hak itu.Menurutnya, manusia pada umumnya tidak mengingkari prinsip ketuhanan atau menolak adanya ilah sama sekali. Artinya, sekedar mengaku ber-ilah bukanlah hal yang istimewa, sebab pada umumnya manusia memang mengakui adanya ilah bagi mereka. Tetapi mereka sering tersalah di dalam mengenal, memahami dan memuliakan ilah yang hak itu.

Malah lebih lanjut beliau menulis: “Atau mereka perserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu ilah yang lain, baik dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ).Sering pula terjadi bahwa manusia memperserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu atau beberapa ilah lainnya. Artinya manusia menjadikan bersama Allah سبحانه و تعالى partner yang disetarakan, disejajarkan atau disandingkan dengan Allah سبحانه و تعالى Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dzat yang tidak bisa diserupakan dengan apapun dan siapapun. Dzat yang menjadi tempat bergantung segenap makhluk di langit maupun di bumi dan semua yang ada di antara keduanya. Dan sialnya lagi, manusia menyekutukan Allah سبحانه و تعالى bukan saja dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), yang mana hal ini sudah sangat diketahui dan diwaspadai oleh banyak muslim sebagai suatu dosa besar yang tidak bakal bisa diampuni Allah سبحانه و تعالى.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa 116)

Sudah relatif banyak muslim yang faham bahwa dalam hal keyakinan (di dalam hati) atau peribadatan (seperti sholat atau bersujud) dia mestilah mengesakan Allah سبحانه و تعالى semata. Allah سبحانه و تعالى tidak mereka dua-kan, tiga-kan atau lebih di dalam hatinya. Dia tahu itu adalah salah satu bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik. Dia juga tahu bahwa jika dia ruku atau sujud di hadapan sesuatu atau seseorang selain Allah سبحانه و تعالى berarti itu merupakan bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik. Setiap muslim –pada umumnya- sadar dan waspada untuk tidak mempartnerkan Allah سبحانه و تعالى dalam aspek keyakinan dan peribadatan. Ini sudah jelas.

Namun Sayyid Qutb kemudian memperingatkan kita bahwa dosa mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى tidak hanya terjadi dalam aspek keyakinan dan peribadatan. Ia menulis: “...maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ). Jadi, juga termasuk dosa tak terampuni –yakni syirik- bila seorang muslim men-dua-kan atau lebih Allah سبحانه و تعالى dalam aspek kepenguasaan dan kepengikutan. Artinya, bila ada seorang yang mengaku muslim tetapi ia rela atas kepenguasaan fihak selain Allah سبحانه و تعالى maka ia telah terlibat dalam salah satu bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik. Begitu pula, bila ada seorang yang mengaku muslim namun rela menyerahkan kepengikutan atau ketaatannya kepada fihak selain Allah سبحانه و تعالى berarti ia telah terlibat dalam salah satu bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik.

Sehingga di bagian lain tulisannya, Sayyid Qutb menulis: Inilah bentuk da'wah yang menyeru kepada Allah sepanjang perputaran sejarah manusia. Tujuannya adalah "Islam". Atau penyerahan. Penyerahan hamba kepada Rabb hamba itu. Melarang mereka untuk menyembah hamba (manusia) yang lain dan menyuruh mereka untuk hanya menyembah Allah saja. Mengeluarkan manusia dari lingkaran kekuasaan hamba dan memasukkan mereka kepada lingkaran Allah dalam hal kepenguasaan, hukum, nilai dan tradisi. Dalam segala segi persoalan kehidupan. Tentang persoalan inilah Islam datang dengan perantaraan Muhammad صلى الله عليه و سلم . Sebagaimana dahulunya Islam telah datang di tangan para Rasul yang mulia Islam datang untuk mengembalikan manusia kepada penguasaan Allah.

Kekuasaan yang mengatur hidup manusia haruslah kekuasaan yang mengatur adanya manusia itu. Manusia tidak boleh menyeleweng dan mengadakan sistim sendiri, kekuasaan sendiri, kebijaksanaan sendiri, lain dari sistim, kekuasaan dan kebijaksanaan (Allah) Yang telah mengatur seluruh alam semesta. Dia (Allah) yang bahkan telah mengatur adanya manusia itu sendiri dalam kehidupan mereka yang di luar kehendak mereka. Manusia tunduk kepada undang-undang fitri yang telah dibuat Rabb dalam penciptaan dan pertumbuhan mereka, dalam sehat-sakitnya mereka, dan da­lam hidup-matinya mereka. Sebagaimana halnya manusia itu harus tunduk kepada undang-undang ini dalam persatuan sosial mereka dan kepada akibat yang mereka derita sebagai hasil kebebasan gerakan mereka sendiri. Mereka tidak sanggup merubah sunnatullah dalam hal peraturan alam-semesta yang me­ngatur alam semesta ini dan tindak-tanduknya.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 67)

Berdasarkan itu, maka sepatutnya setiap manusia memeluk dienullah Al-Islam, menerima syariat Allah سبحانه و تعالى dan tunduk kepada hukum Al-Qur’an bila ia ingin menjalani hidup yang selaras antara aspek fitri dirinya yang tunduk kepada sunnatullah aturan Allah سبحانه و تعالى yang berlaku di alam semesta, dengan aspek iradi (kehendak) yang membebaskan dirinya memilih antara menjadi mu’min taat atau kafir ingkar kepada Allah سبحانه و تعالى Rabb semesta alam. Bila ia memilih menjadi mu’min taat berarti ia bakal menjalani kehidupan yang selaras dan serasi dengan gerak alam dan gerak fisik dirinya. Bila ia memilih menjadi kafir yang ingkar kepada Allah سبحانه و تعالى , maka ia menjalani kehidupan yang kontradiktif dengan gerak fisik dirinya dan dengan gerak alam yang melingkupinya.

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah (Al-Islam), padahal kepada-Nya-lah “aslama” (berserah diri) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.”(QS Ali Imran 83)

Oleh karena itu Sayyid Qutb selanjutnya menulis: “Tetapi faham jahiliyah yang berdasarkan berkuasanya manusia atas manusia, dan dengan begitu telah menyeleweng dari wujud adanya alam semesta dan bertentangan antara sistim segi iradi dan segi fitri dari kehidupan manusia, maka faham jahiliyah seperti inilah yang telah dihadapi oleh setiap Rasul yang menyeru kepada Islam, terhadap penyerahan diri kepada Allah saja. Faham ini pulalah yang telah dihadapi Rasulullah صلى الله عليه و سلم ketika beliau berda'wah.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 67)

Kutipan paragraf buku Petunjuk Jalan di atas menegaskan bahwa setiap Rasul yang menyeru kepada Islam selalu berhadapan dengan “faham jahiliyah yang berdasarkan berkuasanya manusia atas manusia”. Setiap Nabi dan Rasul yang menyeru manusia agar hanya menghamba kepada Allah سبحانه و تعالى serta menjauhi segenap ilah dan thaghut senantiasa bertolak-belakang dengan seruan jahiliyah apapun yang pada intinya berdasarkan penghambaan manusia atas sesama manusia lainnya. Apapun nama seruan atau faham jahiliyah tersebut.

Oleh karena itu kita dapati dewasa ini kaum muslimin yang peduli menegakkan tauhid secara murni dan konsekuen tidak dapat menerima berbagai faham dan ideologi bikinan manusia, apapun nama dan bentuknya. Sebab setiap faham dan ideologi selain Islam pastilah bukan dari Allah سبحانه و تعالى , sehingga di dalamnya mesti mengandung keharusan mengakui berkuasanya manusia atas manusia lainnya. Misalnya faham demokrasi, di dalamnya ada segelintir orang yang diberikan wewenang serta kekuasaan untuk menetapkan hukum dan perundang-undangan agar diberlakukan dan wajib ditaati oleh sekian banyak manusia di luar mereka yang disebut rakyat kebanyakan. Padahal segelintir orang tersebut tidak menetapkan hukum dan perundang-undangan berlandasakan hukum tertinggi dan tanpa cacat, yakni hukum Allah سبحانه و تعالى . Mereka wajib dan hanya boleh menetapkan hukum dan perundang-undangan di dalam bingkai faham dan ideologi bikinan manusia yang disebut Konstitusi atau Nasionalisme.

Berarti sekian banyak manusia (baca: rakyat) tersebut diwajibkan mengakui kekuasaan segelintir manusia atas diri mereka semua. Inilah hakekat jahiliyah. Berarti segelintir manusia tadi telah memainkan peran sebagai Rabb selain Allah سبحانه و تعالى . Sebab di dalam Islam, hak menetapkan hukum, menetapkan mana yang halal dan mana yang haram hanyalah milik Allah سبحانه و تعالى .

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ

“…menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…”(QS. Al An’am 57)
Sedangkan rakyat kebanyakan tersebut berarti telah menyerahkan kekuasaan dan ketaatan mereka kepada fihak selain Allah سبحانه و تعالى . Dan itu berarti mereka telah memilih untuk meninggikan hukum selain hukum Allah سبحانه و تعالى . Padahal di dalam Al-Qur’an Allah سبحانه و تعالى hanya menawarkan dua pilihan saja dalam urusan berhukum. Yakni hukum Allah سبحانه و تعالى atau hukum jahiliyah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah 50)

Dan begitu rakyat menolak untuk mengutamakan hukum Allah سبحانه و تعالى alias menerima hukum jahiliyah, maka Allah سبحانه و تعالى segera memvonis mereka telah bertahkim kepada hukum thaghut, padahal orang-orang yang mengaku beriman telah diperintahkan oleh Allah سبحانه و تعالى untuk mengingkari thaghut, jangan hendaknya meninggikan, memuliakan apalagi meng-ilahkan thaghut...!

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ
يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”(QS An-Nisa 60)

Kemudian yang membuat kita menjadi sangat prihatin melihat keadaan ini ialah karena Sayyid Qutb menyatakan: “Selain dari beberapa gelintir manusia pada saat-saat tertentu dalam sejarah, manusia tidak pernah mengingkari prinsip ketuhanan, atau menolak adanya Ilah sama sekali. Hanya mereka tersalah dalam mengenal hakekat Ilah mereka yang hak itu. Atau mereka perserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu ilah yang lain, baik dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ). Kedua bentuk ini adalah sama saja syiriknya, karena keduanya mengeluarkan manusia dari agama Allah سبحانه و تعالى , sebagaimana yang telah mereka kenal dari tangan setiap Rasul.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 66)

Baik seseorang mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى dalam bentuk kepercayaan dan peribadatan maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan, maka kedua bentuk ini adalah sama saja syiriknya. Na’udzubillahi mindzaalika...!

Ya Allah, jadikanlah kami sebagaimana para pemuda Kahfi yang menyerukan dan istiqomah dengan seruan lantang kalimat al-haq sebagai berikut:

رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
 
"Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran".(QS Al-Kahfi 14)
 
(eramuslim.com/www.taman-langit7.co.cc)
 

Syariat Islam Mengakomodasi Keragaman dan Kebhinekaan

Formalisasi syariat Islam dianggap sebagai ancaman bagi kebhinekaan.Lantas, benarkah bila syariat Islam diterapkan, semua orang dipaksa memeluk agama Islam?  Benarkah formalisasi syariat Islam akan diiringi dengan penyeragaman (uniformisasi) agama, budaya, pemikiran, dan pandangan hidup?  Benarkah akan terjadi peminggiran peran kelompok minoritas jika syariat Islam diterapkan dalam koridor negara?

Berikut paparan mengenai penerapan syariat Islam di tengah keragaman agama, keyakinan, dan budaya, ditinjau dari sisi sejarah dan nash-nash syariat. Juga mengetengahkan cara pandang dan solusi Islam terhadap keragaman budaya, agama, dan pemikiran.

Inklusivitas Masyarakat Islam 

Tatkala Rasulullah SAW menegakkan Daulah Islam (Negara Islam) di Madinah, struktur masyarakat Islam saat itu tidaklah seragam.  Masyarakat Madinah dihuni oleh kaum Muslim, Yahudi, Nashrani, dan juga kaum Musyrik.  Namun, mereka bisa hidup bersama dalam naungan Daulah Islamiyyah dan di bawah otoritas hukum Islam.  Entitas-entitas selain Islam tidak dipaksa masuk ke dalam agama Islam atau diusir dari Madinah. Mereka mendapatkan perlindungan dan hak yang sama seperti kaum Muslim.  Mereka hidup berdampingan satu dengan yang lain tanpa ada intimidasi dan gangguan.  Bahkan Islam telah melindungi "kebebasan mereka" dalam hal ibadah, keyakinan, dan urusan-urusan privat mereka. Mereka dibiarkan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan mereka.

Masyarakat Islam yang inklusif seperti ini terlihat jelas dalam Piagam Madinah yang dicetuskan oleh Rasulullah SAW.   Dalam klausul 13-17 Piagam Madinah disebutkan sebagai berikut, "Orang mukmin tidak boleh membunuh orang mukmin untuk kepentingan orang kafir, juga tidak boleh menolong orang kafir dalam memusuhi orang mukmin. Janji perlindungan Allah adalah satu. Mukmin yang tertindas dan lemah akan memperoleh perlindungan hingga menjadi kuat. Sesama mukmin hendaknya saling tolong menolong. Orang-orang Yahudi yang mengikuti langkah kami (Muhammad), mereka memperoleh perlindungan dan hak yang sama; mereka tidak akan dimusuhi dan tidak pula dianiaya. Perjanjian damai yang dilakukan oleh orang-orang mukmin haruslah merupakan satu kesepakatan.Tidak dibenar-benarkan seorang mukmin mengadakan perdamaian dengan meninggalkan yang lain dalam keadaan perang di jalan Allah, kecuali telah disepakati dan diterima bersama."

Kaum Yahudi yang disebut dalam piagam ini adalah orang-orang Yahudi yang ingin menjadi bagian dari penduduk negara Islam. Mereka mendapatkan perlindungan dan hak muamalah yang sama sebagaimana kaum Muslim. Sebab, mereka merupakan bagian dari rakyat negara Islam yang berhak mendapatkan perlindungan dan dipenuhi haknya. Dalam Piagam Madinah tersebut disebutkan nama-nama kabilah Yahudi yang mengikat perjanjian  dengan Rasulullah SAW (menjadi bagian Daulah Islamiyyah), yakni Yahudi Bani 'Auf, Yahudi Bani Najjar, dan sebagainya.

Kelompok pluralis sendiri mengakui masyarakat Madinah sebagai model masyarakat inklusif. Bahkan, mereka menyepadankan masyarakat Madinah dengan civil society atau masyarakat plural. Walaupun penyepadanan masyarakat Madinah dengan civil society ini tidaklah tepat, hanya saja,  pengakuan kaum pluralis terhadap masyarakat Madinah sebagai masyarakat yang inklusif justru membuktikan bahwa mereka sebenarnya meyakini bahwa Daulah Islamiyyah menjamin dan melindungi keragaman, dan sama sekali tidak menghendaki adanya uniformisasi.  Lantas, mengapa sekarang mereka justru membuat isu;  penerapan syariat Islam dalam koridor negara akan mengancam keberagaman dan kebhinekaan? Mengapa pula mereka getol menyebarkan isu uniformisasi dan eksklusifitas bila syariat Islam diformalisasikan dalam undang-undang negara?  Lalu, di mana letak konsistensi mereka dalam berpendapat?

Setelah kekuasaan Daulah Islamiyyah meluas di jazirah Arab, Nabi SAW memberikan perlindungan atas jiwa, agama, dan harta penduduk Ailah, Jarba', Adzrah, Maqna, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.  Nabi SAW juga memberikan perlindungan, baik harta, jiwa, dan agama penduduk Khaibar yang mayoritasnya beragama Yahudi. Beliau juga memberikan perlindungan kepada penduduk Juhainah, Bani Dlamrah, Asyja',  Najran, Muzainah, Aslam, Juza'ah, Jidzaam, Qadla'ah, Jarsy, orang-orang Kristen yang ada di Bahrain, Bani Mudrik, dan Ri'asy, dan masih banyak lagi.

Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Rabi’ bin Khudaij, bahwasanya ia berkata, “Seorang laki-laki dari Anshor terbunuh di Khaibar.  Walinya menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa itu kepada beliau SAW.  Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, “Kamu harus menghadirkan dua orang saksi yang menyaksikan pembunuhan atas saudaramu.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah di sana tidak ada seorangpun dari kaum Muslim akan tetapi hanya ada orang-orang Yahudi yang kadang-kadang bisa berbuat lebih kejam daripada ini.  Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah 50 orang dari mereka Yahudi, dan suruhlah mereka bersumpah. Setelah itu, Rasulullah SAW membayarkan diyat pembunuhan kepada wali pihak yang terbunuh."

Saat itu, Khaibar telah menjadi bagian Negara Islam, dan penduduknya didominasi oleh orang-orang Yahudi. Ketika orang—orang Yahudi bersumpah tidak terlibat dalam pembunuhan, Rasulullah SAW pun tidak menjatuhkan vonis kepada mereka.  Bahkan, beliau SAW membayarkan diyat atas peristiwa pembunuhan di Khaibar tersebut.  Hadits ini menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW menegakkan keadilan hukum bagi warga negaranya tanpa memandang lagi perbedaan agama, ras, dan suku.  Adapun non Muslim yang hidup di bawah kekuasaan Islam, mereka tunduk dan patuh terhadap syariat Islam yang telah ditetapkan sebagai hukum negara.   Mereka juga mendapatkan perlindungan dalam menjalankan peribadatan, dan keyakinan mereka.  Mereka tidak dipaksa untuk memeluk Islam, atau diperintah untuk melenyapkan truth claim atas agama dan keyakinan yang mereka anut.  Malah, mereka diberi kebebasan untuk menjalankan seluruh aktivitasnya sesuai dengan koridor hukum negara (syariat Islam).

Fragmen sejarah di atas membuktikan, bahwa formalisasi syariat Islam bukanlah ancaman bagi keberagaman, kebhinekaan, dan kelompok minoritas.

Zaman Kekhilafahan Islam

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, tugas kenegaraan dan pengaturan urusan rakyat dilanjutkan oleh para khalifah. Kekuasaan Islam pun meluas hingga mencakup hampir 2/3 dunia.  Kekuasaan Islam yang membentang mulai dari Jazirah Arab, jazirah Syam, Afrika, Hindia,  Balkan, dan Asia Tengah itu, tidak mendorong para Khalifah untuk melakukan uniformisasi warga negara, maupun upaya-upaya untuk memberangus pluralitas. Padahal, dengan wilayah seluas itu, Daulah Islam memiliki keragaman budaya, keyakinan, dan agama yang sangat besar, dan sewaktu-waktu bisa memunculkan "konflik agama".   Akan tetapi,   hingga kekhilafahan terakhir Islam, tak ada satupun pemerintahan Islam yang mewacanakan adanya uniformisasi (keseragaman), atau berusaha menghapuskan pluralitas agama, budaya, dan keyakinan dengan alasan untuk mencegah adanya konflik.

Bahkan, penerapan syariat Islam saat itu, berhasil menciptakan keadilan, kesetaraan, dan rasa aman bagi seluruh warga negara, baik Muslim maupun non Muslim.   Dalam bukunya Holy War, Karen Amstrong menggambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Umar bin Khathathab kira-kira sebagai berikut, "Pada tahun 637 M,  Umar bin Khaththab memasuki Yerusalem dengan dikawal oleh Uskup Yunani Sofronius.   Sang Khalifah minta agar dibawa segera ke Haram al-Syarif, dan di sana ia berlutut berdoa di tempat Nabi Mohammad SAW melakukan perjalanan malamnya.  Sang uskup memandang Umar penuh dengan ketakutan.  Ia berpikir, ini adalah hari penaklukan yang akan dipenuhi oleh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel.  Pastilah, Umar ra adalah sang Anti Kristus yang akan melakukan pembantian dan menandai datangnya Hari Kiamat. Namun, kekhawatiran Sofronius sama sekali tidak terbukti." Setelah itu, penduduk Palestina hidup damai, tentram, tidak ada permusuhan dan pertikaian, meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda, Islam, Kristen, dan Yahudi.

Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi.  Ketika mereka berhasil menaklukkan Palestina, kengerian, teror, dan pembantaian pun disebarkan hampir ke seluruh kota.  Selama dua hari setelah penaklukkan, 40.000 kaum Muslim dibantai.  Pasukan Salib berjalan di jalan-jalan Palestina dengan menyeberangi lautan darah.   Keadilan, persatuan, dan perdamaian tiga penganut agama besar yang diciptakan sejak tahun 1837 oleh Umar bin Khaththab hancur berkeping-keping.   Meskipun demikian, ketika Shalahuddin al-Ayyubiy berhasil membebaskan kota Quds pada tahun 1187 Masehi, beliau tidak melakukan balas dendam dan kebiadaban yang serupa.  Karen Armstrong menggambarkan penaklukan kedua kalinya atas Yerusalem ini dengan kata-kata berikut ini, "Pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya, dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi.  Dia tidak berdendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang Alquran anjurkan (16:127), dan sekarang, karena permusuhan dihentikan, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194)". 

Di Andalusia, kaum Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan selama berabad-abad, di bawah naungan kekuasaan Islam.  Tidak ada pemaksaan kepada kaum Yahudi dan Kristen untuk masuk ke dalam agama Islam.  Sayangnya, peradaban yang inklusif dan agung ini berakhir di bawah mahkamah inkuisisi kaum Kristen ortodoks.   Orang-orang Yahudi dan Muslim dipaksa masuk agama Kristen.  Jika menolak mereka diusir dari Andalusia, atau dibantai secara kejam dalam peradilan inkuisisi.

Pada tahun 1519 Masehi, pemerintahan Islam memberikan sertifikat tanah kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia.

Pemerintah Amerika Serikat pun pernah mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada Khilafah Islamiyyah atas bantuan pangan yang dikirimkan kepada mereka pasca perang melawan Inggris pada abad ke 18.

Surat jaminan perlindungan juga pernah diberikan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari suaka politik ke Khalifah pada tanggal 30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H.

Pada tanggal 13 Rabiul Akhir 1282/5 September 1865, khalifah memberikan izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah khalifah.  Sebab, di Rusia mereka tidak mendapatkan kesejahteraan hidup.

Inilah sebagian fragmen sejarah yang menunjukkan, bahwa penerapan syariat Islam dalam koridor Negara tetap melindungi dan metolerir adanya keragaman dan kebhinekaan.  Tidak ada uniformisasi, tidak ada pemberangusan terhadap pluralitas, tidak ada pemaksaan atas non Muslim untuk masuk Islam, dan tidak ada pengusiran terhadap non Muslim dari wilayah kekuasaan Islam. Yang terjadi justru, perlindungan terhadap non Muslim, Lebih dari itu, pemerintah Islam dengan syariat Islamnya benar-benar telah mewujudkan gagasan masyarakat inclusive tanpa menghapus truth claim agama, dan tanpa melakukan uniformisasi dan intimidasi.

Lalu, mengapa penerapan syariat Islam dalam koridor negara selalu dikesankan dengan upaya-upaya uniformisasi, pengusiran terhadap non Muslim, eksklusifitas, dan penghancuran terhadap pluralitas?   Bukankah kesan tersebut jelas-jelas keliru dan bertentangan dengan realitas sejarah? Barangkali, yang menyebarkan isu ini adalah orang yang awam terhadap sejarah Islam; barangkali a histories dan tidak jujur terhadap sejarah; atau barangkali ini adalah isu politis yang ditujukan untuk menghambat penerapan syariat Islam dalam koridor negara.(mediaumat.com)


Penduduk Miskin Jabar Bertambah

Meski secara persentase menurun, jumlah warga miskin di Jawa Barat justru meningkat. Pendatang dari luar provinsi dituding sebagai penyumbang tambahan jumlah penduduk miskin.

“(Penduduk miskin) naik 2.180 orang pada September 2011,” kata Kepala Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Lukman Ismail, Senin (2/1).

Kenaikan ini dihitung dari data sebelumnya yang dilansir Maret 2011. Per September 2011, penduduk miskin terdata 4.650.810 orang. Sementara pada Maret 2011, angkanya adalah 4.648.630 jiwa.

Lukman mengatakan, kemiskinan juga sangat dipengaruhi nominal garis kemiskinan. Nominal ini adalah angka rata-rata pengeluaran per kapita per bulan, yang dianggap mencukupi kebutuhan minimal.

Dari Maret-September 2011, kata Lukman, terdata kenaikan rata-rata nominal garis kemiskinan sebesar 2,73 persen, dari Rp 220.098 pada Maret 2011 menjadi Rp 226.097 pada September 2011.

“Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan masih besar,” kata Lukman. Yaitu mencapai 70,18 persen untuk perkotaan, dan 75,83 persen di pedesaan. Rata-rata andil makanan terhadap garis kemiskinan adalah 72,83 persen.

Data BPS menyebutkan pula, semakin banyak penduduk perdesaan yang jatuh miskin. Dalam rentang Maret-September 2011, penduduk miskin di pedesaan bertambah 28.520 orang. Meskipun, lagi-lagi secara persentase mengalami penurunan, dari 56,51 persen pada Maret 2011 menjadi 43,49 persen pada September 2011.

Sedangkan penduduk miskin di perkotaan, jumlahnya berkurang 26.340 orang. Namun dari sisi persentase, turun tipis dibandingkan Maret 2011. Yaitu dari 57,11 persen menjadi 56,51 persen. Kesenjangan penduduk miskin dengan orang tak miskin, baik di perkotaan di perdesaan, tetap curam dengan mencatatkan penurunan tipis persentase. (republika.co.id, 2/1/2012)

3 Desember 2011

Hakikat Cinta Kepada Allah Swt

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan tentang segala sesuatu dengan Kehalusan Kuasa-Nya dan Keindahan Kreasi-Nya. Dia memperindah ciptaan-Nya dan menghadirkan seluruh entitas dalam bentuk yang tidak pernah ada sebelumnya. Tidak ada sekutu bagi-nya dalam penciptaan. Alangkah bahagianya jika seseorang berhasil meraih dan menggapai cinta Allah swt. Sebab, bila seseorang berhasil mendapatkan cinta Allah, maka hidupnya akan dituntun dan dibimbing oleh Allah swt. Allah akan membimbing penglihatannya tatkala dirinya melihat; Allah akan membimbing pendengarannya, manakala ia mendengarkan. Sebaliknya, betapa menyakitkan bila kita merasa mencintai dan dicintai oleh Allah, akan tetapi cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan. Kita merasa mendapatkan kecintaan Allah, akan tetapi sebenarnya kita tidak pernah mendapatkan kecintaan dari Allah swt.

Betapa banyak orng sibuk mengerjakan perbuatan2 tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Ada diantara manusia yg menyendiri di tengah hutan, jarang makan-minum, bahkan mandi; menjauhi anak-isterinya dan sanak keluarganya. Ia beranggapan bahwa dgn cara ini ia akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Kita juga menyaksikan ada diantara manusia yg melakukan ritual2 tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Ada yg berpuasa tiga hari tiga malam tanpa putus2, bahkan ada yg sampai 40 hari 40 malam. Ada pula yg sibuk membaca kalimat2 dzikir, mengunjungi kuburan para nabi dan wali, membaca riwayat hidup Rasulullah saw, dan sebagainya.

Akan tetapi, apakah dgn cara2 seperti itu mereka akan mndapatkan kecintaan dari Allah swt? Lalu, bagaimana cara kita meraih dan menggapai kecintaan dari Allah swt; agar cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan dan tidak hanya sebatas merasa mencintai Allah swt, namun Allah sama sekali tidak mencintai kita.

Allah swt telah memberikan petunjuk yg sangat jelas, bagaimana cara mendapatkan kecintaanNya. Allah swt telah berfirman, artinya:

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Qs.Ali Imron : 31]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir Ibnu Katsir menyatakan, Ayat ini merupakan pembukti, Siapa saja yang mengaku mencintai Allah swt, namun ia tidak berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw, maka orang tersebut hanya berdusta saja. Dirinya diakui benar-benar mencintai Allah, tatkala ia mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw, baik dalam perkataan, perbuatan, dan persetujuan beliau saw. Jika teruji bahwa ia benar-benar mencintai Allah, yakni dengan cara menjalankan seluruh ajaran Muhammad saw, maka Allah akan balas mencintai orang tersebut. Rasul saw bersabda:

Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan maka perbuatan itu tertolak. (Muttafaq'alaihi)

Para ahli hikmah telah menyatakan,âPerkara yang hebat bukanlah kamu [merasa] mencintai Allah, akan tetapi, kalian benar-benar dicintai [oleh Allah swt].

Imam Hasan al-Bashriy pernah berkata, Ada suatu kaum merasa bahwa mereka telah mencintai Allah swt, lalu, Allah swt menguji mereka dengan firmanNya, Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Qs.Ali Imron : 31]

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, Bukankah agama ini adalah cinta dan benci karena Allah swt?

Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan, Jika kalian mengikuti sunnah Rasulullah saw, maka kalian akan mendapatkan keberkahan hidup.

Atas dasar itu, jika kita hidup sesuai dgn sunnah Rasulullah saw, maka kita pasti akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, dan kita juga pasti akan mendapatkan ampunan dari Allah swt.

Dari uraian Imam Ibnu Katsir di atas jelaslah bagi kita, jika seseorang ingin meraih dan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, kita mesti berbuat dan berperilaku sesuai tuntunan Islam. Jika kita berjalan sesuai dengan ajaran yg dibawa Muhammad saw, tentu kita akan dicintai oleh Allah swt. Sebaliknya, meskipun kita merasa mencintai dan dicintai Allah swt, kita tidak akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, selama tidak berjalan sesuai dgn ajaran Muhammad saw.

Atas dasar itu, kita tidak boleh membuat tatacara atau ritual tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran ataupun ritual apapun yg tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw tidak mungkin mengantarkan kita untuk meraih cinta Allah swt. Hanya dgn menjalankan ajaran Islam secara konsisten dan konsekuen. Kita akan mendapat kecintaan dari Allah swt.

Jelaslah kini, hanya ada satu cara untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt. yaitu, selalu menjaga keimanan dan berperilaku sesuai dgn ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw. Seorang yg mencintai Allah swt akan berusaha dgn segenap tenaga untuk menerapkan aturan2 Allah swt, baik yg brhubungan dgn masalah ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Sayangnya, saat ini kita tidak mampu lagi menerapkan aturan2 Allah swt dikarenakan tidak ada institusi yg menjaminnya. Penerapan syariat Islam dalam bingkai negara (Khilafah) masih jauh di atas kenyataan. Padahal, penerapan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah, sekaligus jalan pembuka untuk meraih cinta Allah. Bagaimana kita bisa merasa dicintai Allah swt sementara itu kita mencampakkan aturan2-Nya dan menerapkan pranata2 kufur? Pastinya, bukan kecintaan yg kita dapat, akan tetapi laknat dan kebencian yg akan kita sandang. Na'udzu billahi min dzaalik

Ada baiknya kita renungkan sabda beliau (Saw) ini:

"Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya."(HR. Al Hakim) Wallahua'alam. [CSA] 

29 November 2011

Para Imam di Libya Menuntut Penerapan Syariah Islam

Puluhan imam dan simbol-simbol Islam di Libya, pada hari Senin (28/11) menuntut agar Konstitusi bagi negara Libya yang baru berasaskan prinsip-prinsip syariah Islam.

Para imam menghimbau-selama konferensi yang diadakan oleh Kementerian Urusan Islam Libya, pada hari Senin di Tripoli, yang dihadiri oleh 250 ulama Muslim-kepada Majelis Transisi Nasional untuk melucuti senjata yang tersisa di tangan kaum revolusioner yang mereka sebut dengan “mujahidin”.

Jaringan berita Amerika “ABC News” menyebutkan bahwa para peserta konferensi yang memfokuskan pada pembahasan masalah-masalah mendesak di kancah Libya, menyerukan untuk mengakhiri ketegangan antara suku-suku Libya satu dengan yang lainnya.

Sementara Ketua Majelis Transisi Nasional, Mustafa Abdul Jalil  menegaskan dalam pidato yang disampaikan pada saat mengumumkan kemerdekaan Libya dari rezim Kolonel Muammar Gaddafi setelah kematiannya pada Oktober lalu, bahwa prinsip-prinsip syariah Islam moderat akan menjadi sumber utama Konstitusi dan perundang-undangan bagi Libya yang baru (islamtoday.net, 28/11/2011).

Imam Masjidil Haram Bicara Tentang Kebutuhan pada Khilafah Serta Kerusakkan Demokrasi pada Anak Muda

Semua sistem pemerintahan di seluruh dunia berada dalam konflik langsung dengan sistem pemerintahan Islam, sistem Khilafah. Tidak ada Khilafah di setiap bagian dunia hari ini di sisi Allah Swt yang telah mengirim manusia sebagai Khalifah-Nya. Imam Ka'bah Dr. Saud bin Ibrahim Ashareem mengungkapkan pemikirannya ketika berbicara dalam sebuah konferensi press di Mumbai, Jumat, 25/11/2011.

Imam yang bernama lengkap Dr. Syeikh Abu Ibrahim Sa'ud ibn Ibrahim ibn Muhammad ash-Shuraim An-Najdimengatakan bahwa karena ketidaktahuan generasi hingga mereka terjerumus ke dalam nilai-nilai demokrasi. Ia lebih jauh mengatakan bahwa ada kebutuhan untuk membuat mereka menyadari ajaran Islam dalam rangka mengubah gaya hidup mereka karena sistem demokrasi telah membuat pikiran anak-anak muda bebas menyebabkan mereka mengabaikan Peradaban Islam serta mengadopsi ketidaktaatan.

Mengungkapkan kesukaannya untuk India, ia mengatakan bahwa dia ingin mengunjungi negeri itu lagi dan lagi untuk menyebarkan Islam. Menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya tentang keadilan, ia mengatakan bahwa sistem keadilan dalam Islam telah berasal dari dua sumber. Salah satunya adalah al-Quran dan yang lainnya adalah hadits. Jika analisis sistem Islam dibuat, akan mengungkapkan bahwa beberapa sistem keadilan yang lazimnya di dunia seperti Islam tetapi dalam banyak kasus mereka menyimpang dari prinsip-prinsip Islam.

Konsep keadilan yang diberikan Islam tidak tampil dalam sistem apa pun. Dr. Saud mengatakan bahwa Islam memiliki konstitusi sendiri, yang Nabi Saw sendiri telah membingkainya. Kita harus menjalani hidup kita sesuai dengan sabda Nabi Saw.

Menjawab pertanyaan tentang terorisme, ia mengatakan bahwa agama telah mengajkarkan perdamaian dan memainkan peran penting dalam menghilangkan ketidaktahuan, tidak disalahkan untuk mempromosikan terorisme. Dia mengatakan bahwa tidak diizinkan untuk membunuh perempuan, anak-anak, dan orang tua dari musuh, bahkan memotong pohon dari musuh pun tidak diperbolehkan.

Ketika Islam mengajarkan ajaran-ajaran seperti itu, untuk menghubungkannya dengan terorisme adalah kejam. Meninjau kegiatan dari beberapa orang yang terlibat dalam kegiatan teroris, Imam mengatakan bahwa tindakan seperti itu adalah kegiatan mereka sendiri dan tidak ada kaitannya dengan Islam.

Dr. Saud mengatakan bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang memberikan hak-hak universal bagi perempuan. Hak tersebut tidak tersedia dalam agama mana pun. Dia mengatakan bahwa pria dan wanita diciptakan oleh Allah Swt. dan ditugaskan di dalam dan di luar rumah. Islam

Mengacu pada sistem peradilan Islam, ia mengatakan bahwa Islam memiliki sistem sendiri untuk menghukum pemerkosaan, pembunuhan, dll yang mencegah kejahatan. Hukum Islam tersebut ditentang oleh hukum-hukum lain di dunia yang tidak benar.

Masya Allah, laporan tentang pembicaraan Imam Masjidil Haram, Qari terkenal Syeikh Saud Ash-Shuraim, semoga Allah membalasnya, memberinya kekuatan untuk menghadapi penegakkan Khilafah, mempercepat rakyat melalui dirinya, dan membuat anti tesis kepada para ulama lainnya di masjid suci yang telah berpihak dengan tiran (Raja Saudi, Musharraf atas pembantaian Masjid Merah), dan lain-lainnya di mana mereka melanjutkan tur mereka untuk melakukan qiro'.

Laporan ini memberitahukan kepada kita pernyataan tentang Khilafah, kebutuhannya, ketiadaannya sesuatu yang menyerupai Islam hari ini (yang merupakan titik penting menerangkan penipu negara Saudi dan klaim-klaimnya), serta kebutuhan bagi pemuda Muslim untuk ditatsqif dalam nilai-nilai Islam dan untuk menghindari "nilai-nilai demokrasi".

Tentang komentar-komentar sang Imam tadi, ada yang mencatat bahwa "Kemungkinannya sang rezim akan mengatakan kepadanya untuk pergi seperti yang mereka lakukan kepada Syeikh Ali Al-Hudhaiyfi, mantan Imam Masjid Nabawi, karena berbicara dengan kalimat yang mirip."

Semoga Allah Swt. memberikan keberanian dan kekuatan kepada para ulama ini untuk berbicara lebih lanjut. Mereka berada di jantung sarang lebah dan posisi mereka tidaklah mudah. Insya Allah, mereka mampu memenuhi tanggungjawab mereka kepada Allah Swt, sekalipun ujian bisa saja menimpa, tetapi itu merupakan kenikmatan bagi mereka. Insya Allah, Khilafah semakin dekat saja! [m/f/fa/siyasi/np/syabab.com/taman-langit7.co.cc]


Aljazair Menutup 900 Masjid dan Mempersulit Para Imam

Penasihat Media Menteri Agama dan Wakaf di pemerintah Aljazair mengatakan bahwa otoritas Aljazair telah menutup 900 masjid dan musholla berdasarkan laporan keamanan. Otoritas menyatakan bahwa “beberapa dari masjid itu merupakan pusat-pusat pertemuan dan kajian oleh beberapa kelompok Islam, yang tidak diketahui tujuannya” serta menyatakan bahwa “beberapa dari masjid itu tidak memenuhi standar keamanan dan kesehatan sehingga membahayakan bagi para jamaah shalat,” katanya.
 
Kementerian Agama Aljazair telah mengeluarkan instruksi pada bulan Oktober lalu untuk para imam yang menyampaikan khotbah pada setiap masjid di semua wilayah yang jumlahnya mencapai 48 wilayah agar mereka “merekam khotbahnya untuk diserahkan kepada Kementerian Agama pada saat diperlukan” guna memastikan bahwa khotbah mereka “tidak provokatif” sesuai standar pemerintah.

Sungguh perilaku pemerintah Aljazair yang memusuhi masjid dan syiar-syiar keagamaan di dalamnya mengungkapkan akan kebenaran fakta bahwa negara Aljazair yang telah memerangi Islam dalam segala bentuk dan manifestasinya adalah alat represi dan tekanan terhadap kaum Muslim yang dieksploitasi oleh negara-negara kafir Barat penjajah dalam perang salib yang terus menerus terhadap Islam dan kaum Muslim.(Kantor berita HT, 26/11/2011).[htipress/taman-langit7.co.cc]

Hizbut Tahrir Indonesia “Mengecam Arogansi GKI Yasmin, Bogor”

Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan mendukung pencabutan IMB Gereja GKI Yasmin karena gereja itu dibangun dengan cara menipu warga. Apalagi pada faktanya gereja dibangun bukan sekedar sebagai tempat ibadah, tapi juga merupakan sentral dari kegiatan Kristenisasi alias pemurtadan.

Demikian satu diantara pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia yang berjudul "Mengecam Arogansi GKI Yasmin, Bogor". Dalam pernyataannya itu juga dijelaskan tentang opini yang berkembang akibat pemberitaan yang keliru, sehingga menyudutkan umat Islam Bogor, padahal pihak gereja telah melakukan cara-cara curang seperti memalsukan KTP dan melakukan penyuapan terhadap warga agar menyetujui pembangunan gereja tersebut.

Hizbut Tahrir Indonesia juga Mengecam arogansi GKI Yasmin yang terus saja ngotot akan mendirikan gereja di tempat itu meski secara hukum sudah terbukti illegal, dan secara demonstratif mengadakan misa di tepi jalan sehingga sangat mengganggu lalu lintas.

"Apalagi kemudian dengan sengaja memblow-up kasus ini ke dunia internasional dengan menyebarkan opini sesat seolah-olah orang-orang Kristen di Indonesia teraniaya. Hal ini membuat umat Islam, khususnya di Bogor yang asalnya ditipu, kini malah menjadi tertuduh."

Hizbut Tahrir Indonesia juga menyerukan kepada umat Islam, khususnya di Kota Bogor, untuk tetap bersatu dalam menghadapi fitnah dan tipu daya jamaah GKI Yasmin dan para pendukungnya mengingat saat ini tengah berjalan usaha adu domba diantara umat Islam dengan modus membangkitkan pro dan anti gereja GKI Yasmin di kalangan umat Islam sendiri. [m/htipress/syabab.com]

Pernyataan

Maktab I’lamiy
Hizbut Tahrir Indonesia

NO: 215/11/11     27 November 2011/01 Muharram 1432 H

PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA

“MENGECAM AROGANSI GKI YASMIN, BOGOR”

Dalam kasus gereja GKI Yasmin Bogor, opini yang berkembang akibat pemberitaan yang keliru adalah bahwa Walikota Bogor Diani Budiharto tidak melaksanakan Putusan PK Mahkamah Agung tanggal 9 Desember 2010 yang menyatakan bahwa pembekuan IMB Gedung GKI Yasmin Bogor harus dibatalkan. Juga, pemberitaan itu cenderung menyudutkan umat Islam Bogor sebagai tidak toleran. Sehingga tampak seolah GKI Yasmin sebagai “korban” dari pihak yang dituduh telah bertindak dzalim padanya, yakni Pemda Kota Bogor dan umat Islam di sekitar lokasi gereja.

Padahal sesungguhnya Walikota Bogor telah melaksanakan Putusan PK MA itu dengan mencabut pembekuan IMB melalui SK tertanggal 8 Maret 2011 yang ditandatanggani oleh Kepala Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor. Namun kemudian Walikota Bogor mencabut IMB Gedung GKI Yasmin itu melalui SK 645.45-137 tertanggal 11 Maret 2011 karena pembangunan gereja itu melanggar Peraturan Bersama Menteri (PBM) tahun 2006 tentang perijinan mendirikan rumah ibadah. Disamping itu, bakal Gereja yang berada di tengah-tengah pemukiman itu ditolak warga setempat. Apalagi proses untuk mendapatkan persetujuan warga ternyata dilakukan dengan cara-cara curang seperti memalsukan KTP dan melakukan penyuapan terhadap warga agar menyetujui pembangunan gereja tersebut.

Dan yang banyak tidak diketahui oleh publik, Mahkamah Agung dalam suratnya nomor: 45/Td.TUN/VI/2011 tertanggal 1 Juni 2011, sesungguhnya juga telah mengakui SK Walikota Bogor tentang Pencabutan IMB GKI Yasmin tersebut dan mempersilakan pihak yang merasa dirugikan untuk menggugat ke Pengadilan.

Berkenaan dengan hal ini, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Mendukung pencabutan IMB Gereja GKI Yasmin Bogor karena gereja itu dibangun dengan cara menipu warga. Apalagi pada faktanya banyak gereja dibangun bukan sekedar sebagai tempat ibadah, tapi juga merupakan sentral dari kegiatan Kristenisasi alias pemurtadan.

2. Mengecam arogansi GKI Yasmin yang terus saja ngotot akan mendirikan gereja di tempat itu meski secara hukum sudah terbukti illegal, dan secara demonstratif mengadakan misa di tepi jalan sehingga sangat mengganggu lalu lintas. Apalagi kemudian dengan sengaja memblow-up kasus ini ke dunia internasional dengan menyebarkan opini sesat seolah-olah orang-orang Kristen di Indonesia teraniaya. Hal ini membuat umat Islam, khususnya di Bogor yang asalnya ditipu, kini malah menjadi tertuduh.

3. Menolak opini bahwa seolah di Indonesia stidak ada kebebasan beragama. Terganjalnya pendirian satu gereja tidak bisa dianggap sebagai bukti telah terjadi diskriminasi atas kaum minoritas Kristen. Opini semacam ini jelas-jelas telah pula menutupi fakta betapa pertumbuhan gereja dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak daripada pertumbuhan masjid. Menurut mantan Kepala Badan Litbang Departemen Agama, Prof. Atho Mudzhar, pertumbuhan gereja sejak 1977 hingga 2004 lebih besar dibanding masjid. Masjid pada periode itu hanya meningkat 64,22 persen, sementara gereja Kristen Protestan meningkat 131,38 persen dan Kristen Katolik meningkat hingga 152 persen (Republika, 18 Februari 2006).

4. Menyerukan kepada umat Islam, khususnya di Kota Bogor, untuk tetap bersatu dalam menghadapi fitnah dan tipu daya jamaah GKI Yasmin dan para pendukungnya mengingat saat ini tengah berjalan usaha adu domba diantara umat Islam dengan modus membangkitkan pro dan anti gereja GKI Yasmin di kalangan umat Islam sendiri.

5. Menyerukan kepada umat Islam dimana pun berada untuk lebih bergiat dalam perjuangan mewujudkan kehidupan Islam, yakni kehidupan yang didalamnya diterapkan syariah Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Hanya dalam kehidupan Islam lah, izzul Islam wal muslimin akan bisa diujudkan kembali dan fitnah serta tipu daya orang-orang kafir bisa dihadapi secara tuntas.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir


Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismailyusanto@gmail.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites