Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2012

Goresan Dalam Cermin

Beberapa waktu yang lalu ku tulis sebuah status di sebuah dinding jejaring, yg berisi sebuah syair yang telah ada dan tak asing ditelinga. Syair lama nan sederhana yang dilantunkan oleh sakha. Yang kurang lebih syairnya seperti ini..

Sebening tetesan embun pagi..
Secerah indahnya mentari..
Bila kutatap wajah mu..
Ada kehangatan didalam hatiku..
Air wudhu selalu membasahi mu..
Ayat suci selalu di lantunkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah..
Berdo’a untuk putra dan putrinya..

Tak kutulis sosok siapa yang ada dalam syair tersebut, tapi Insya Allah sahabat sekalian mafhum siapa sosok yang di maksud.

Kemudian kulihat sebuah catatan milik seorang sahabat yang menceritakan tentang dirinya dan sosok yang kita cintai dan kita muliakan..

Sungguh indah dan menarik jikalau kita perhatiakan setiap apa-apa yang ada, yang terjadi dalam sebuah realita, mungkin serasa sederhana bagi orang lain namun berbeda bagi Asa(SA)..

Ada sesuatu yang saya ambil dari catatan tersebut yakni “Menempatkan sesuatu pada tempatnya” . Alangkah indahnya ketika kita melangkah dalam kehidupan ini bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Kenapa saya katakan demikian .?
Karena masih ada orang yang tak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya..( bisa saya atau anda).


Seorang anak kepada kedua orang tuanya..
Seorang kakak kepada adiknya..
Seorang murid kepada gurunya..
Seorang pemimpin kepada yang di pimpinnya ataupun sebaliknya..
Dan masih banyak yang lain sebagainya..

Catatan sederhana itu.. seakan menggelitik pena ini untuk menggerakan penanya, walaupun telah sejak lama tangan ini tak menggoreskan lagi penanya, karena penanya tak bertinta. Yang hanya mungkin bisa digoreskan dalam realita.


Mungkin hanya itu yang dapat saya ambil sebagai pelajaran dari catatan sederhana tersebut. Yakni “Menempatkan sesuatu pada tempatnya” .

Tiap harapan yang berhasil Anda raih, selalu berujung pada kesedihan, baik karena ia telah meninggalkan Anda, ataupun Anda yang meninggalkannya..

Kecuali amal perbuatan yang didedikasikan untuk Allah, karena dalam segala hal akan berujung pada kebahagiaan, baik cepat atau lambat.

Dalam waktu cepat, pelakunya tidak banyak punya obsesi yg menjadi obsesi banyak orang. Sementara dalam waktu yg akan datang, ia mendapatkan surga-Nya..

Maka, jangan korbankan dirimu kecuali untuk meraih yang lebih tinggi, dan itu hanya ada pada ALLAH dengan dakwah ila al-Haq. Karena itu orang yang cerdas hanya melihat dirinya dihargai dengan surga.
( Ibn Hazm, al-Akhlaq wa as-Siyar, juz I, hal 2)

Sebuah refleksi bagi diri.. untuk selalu menengok kekanan dan kekiri
Sebuah pengingat bagi diri.. ketika melangkah di dunia yang penuh ilusi
Sebuah intropeksi bagi diri.. untuk mengendalikan hawa nafsu yang tak terkendali dan menjadi-jadi
Sebauah renungan bagi diri.. ketika hati tertutup rasa banci, karena su’ur di jadikan standarisasi

Khair.. Syarr.. Hasan.. Qabih.. bukan menurut pandangan manusia melainkan menurut pandangan Dzat yang Maha Suci.

Ketika su’ur mulai mendominasi, tak kenal kawan atau lawan yang dihadapi
Ketika su’ur mulai dituruti, tak kenal saudara atau saudari yang di cintai
Ketika su’ur di jadikan standarisasi, tak kenal kaki dan tangan sendiri
Ketika su’ur kian tak terkendali, poros dan bara terlepaspun kian tak berarti

Yaa ikhwan.. sugguh rembulan itu indah jikalau kau sapa ia di kala tengah malam hari nanti..

Yaa ukhti.. sungguh mentari itu indah jikalau kau sambut ia di kala dini hari tiba..

Afwan goresan ku bukan berkata siapa dan tentang apa, namun ini hanyalah goresan refleksi dunia nyata.

Aku bukanlah seorang penulis yang pandai berkata dan berretorika dengan sejuta kata dan selaksa tinta..
Aku bukanlah seorang  ‘alim yang pandai berdalil dan beragumentasi di depan mata..
Aku bukanlah seorang penyair yang pandai merangkai kata dengan tata untaian seribu bahasa..
Aku hanya seorang pejalan kaki biasa nan sederhana yang menggenggam sebuah pena tak bertinta..

Pelaut yang ulung bukan menghadapi  laut yang tenang..
Aktivis Dakwah yang tangguh bukan menghadapi medan perjuangan yang mulus..
Qalam al tsauriy, al ghayatun la tudrak.[]


Supriadi Ats Tsauriy


Taman Langit 7
Rabi’ul  akhir 1433 H 

10 Februari 2012

Subhanallah!! Seorang Yahudi Radikal Bertobat Ingin Tegaknya Khilafah

PALESTINA – Mikhail Chernovska adalah seorang Yahudi Ekstrimis yang menyatakan keislamannya, mengungkapkan semangatnya ingin melihat Khilafah islamiyyah tegak dengan Al-Quds sebagai ibukotanya. “Sungguh aku telah mendapat petunjuk. Sebabnya hanya satu, karena aku ingin mencari kebenaran” ungkap Mikhail.Hal ini dismapaikan oleh situs harakatut tauhid Al-islamy selasa 8 November 2011.

Mikhail memiliki nama hijrah Muhammad Al-Mahdi mirip dengan nama seorang imam yang dijanjikan Rasulullah SAW di akhir zaman yang akan membawa keadilan dengan menegakkan Dinullah dimuka bumi. Mahdi adalah seorang Yahudi yang berasal dari Azerberijan yang kemudian hijrah ke Palestina setelah masuk Islam.

Tempat tinggal Mahdi sekarang tepat di kota Hebron tepi barat. Ia lahir di baku, Azerbeijan 37 tahun yang lalu. Pria asal Azerbeijan ini hidup ditengah-tengah keluarga yang ektrim. Ia hijrah ke Israel pada awal 90an.
....“Sungguh aku telah mendapat petunjuk. Sebabnya hanya satu, karena aku ingin mencari kebenaran”....
Hebron adalah tempat pembantaian seorang Yahudi radikal, Baruch Goldstein, di gua para leluhur. Pada saat itu ada sekitar 29 muslim yang merasakan pengaruh dari pembantaian tersebut. maka bersamaanitu Mahdi memutuskan untuk pindah ke pemukiman Kiryat Arba, dimana dia tinggal bersama pahlawan dalam pandangannya pada waktu itu, Goldstein, dan bergabung dengan pemukim ekstremis.

Dia menambahkan bahwa diskusi agama dan filsafat dengan seorang Palestina yang memiliki Kraja, untuk memperbaiki mobil di Hebron, membuatnya meninjau pandanganya secara bertahap, hingga masuk Islam dan kembali ke Baku dalam rangka menikahi seorang Muslimah. Mahdi mengungkapkan bahwa ia mendapatkan sambutan yang hangat dari tetangganya yang baru di Hebron, meskipun darahnya Yahudi.
....Ia sangat bersemangat untuk melihat Khilafah Islamiyyah tegak dengan Al-Qus sebagi ibukotanya....
Ia mengungkapkan kepada koresponden AFP saat mengunjunginya di rumah“Aku dulu pemukim ekstrimis dan bermusuhan dengan mereka, tapi mereka memperlakukan aku seperti seorang kakak bagi saya dan menawarkan bantuan”kenang Muhammad Al-Mahdi. Fakta yang mengacu pada kehidupan Mahdi, di Kiryat arba, seolah-olah tidak mungkin, setelah ia masuk islam dan menikah dengan Sabina muslimah. Yang memiliki 4 anak setelah hidup bersamanya. “Parta pemukim menyerang saya beberapa kali, dan melemparkan batu di rumah saya, dan menulis slogan-slogan di dinding mengundang saya untuk meninggalkan tempat itu” ujar pria berusia 37 tahun itu.

Dia menambahkan “Kemanapun kita pergi kita mengalami pelecehan, karena istri saya mengenakan jilbab, dan berulang kali dipertanyakan oleh pasukan keamanan, tapi yang aku peduli adalah bahwa anak-anakku hari ini adalah Muslim, dan mengikuti agama yang telah aku pilih”. Ia sangat bersemangat untuk melihat Khilafah Islamiyyah tegak dengan Al-Qus sebagi ibukotanya.

Ia menegaskan: ”Saya menyadari bahwa agama Yahudi ada banyak yang kontradiksi, dan bahwa Islam adalah agama kebijaksanaan dan kebenaran, saya telah mendapat petunjuk karena saya mencari kebenaran, itulah satu-satunya penyebab keislamanku” tandas Al-Mahdi seraya mengakui kebaikan temanya Zalloum, pemilik Karaj, yang telah menjadi sebab ia mendapatkan hidayah.

Zalloum mengakui bahwa sejak awal mengnal Mikhail yang mucul dalam [persepsinya adalah Mikhail orang yang baik tidak seperti pemukim kebanyakan di Kiryat Arba. Ia sering berdialog masalah agama dan filsafat dengan Mikhail sampai suatu saat ia berkata pada Mikhail: ”Kalau tidak aku menjadi Yahudi melalui kamu, kamu yang masul Islam melalui aku, setelah enam bulan diskusi, akhirnya ia mendapatkan hidayah masuk Islam” ungkap Zalloum.

Zalloum menambahkan: ”Memang benar bahwa Michael menjadi Muhammad al-Mahdi, namun ia tidak bisa melepaskan semua Budaya Yahudi, Fushm Bintang Daud di salah satu tangannya akan mengingatkan bahwa dia adalah seorang Yahudi, meskipun ia melanjutkan hari pada kinerja dari shalat wajib tepat waktu dan membaca Al-Quran”.(usamah/tawhid/voa-islam/taman-langit7.co.cc)

31 Januari 2012

Khilafah Usmani dan Kerajaan Islam Nusantara

Khilafah Usmani berperan besar membantu kerajaan-kerajaan Islam Nusantara dalam memerangi Portugis, termasuk membantu Kesultanan Aceh.

Oleh Makmur Dimila

Tak hanya ke Timur Tengah, Portugis juga menyebarkan pengaruhnya ke Samudera Hindia. Secara terang-terangan, Raja Portugis Emanuel I menyampaikan tujuan utama ekspedisi tersebut, “Sesungguhnya tujuan dari pencarian jalan laut ke India adalah untuk menyebarkan agama Kristian dan merampas kekayaan orang-orang Timur”.

Surat Kesultanan Aceh kepada Khilafah Turki Usmani. Foto | Indoforum.org

Khilafah Usmani di Turki tidak berdiam diri. Pada tahun 925H/1519 M, Portugis di Malaka digemparkan oleh berita tentang pengiriman armada Usmani untuk membebaskan Muslim Melaka dari penjajahan kafir. Kabar itu tentu menggembirakan umat Islam setempat.

Ketika Sultan Alaidin Riayat Syah II Al-Qahhar naik tahta di Aceh pada tahun 943 H/1537 M, menurutnya Aceh perlu meminta bantuan bala tentara dari Turki. Selain untuk mengusir Portugis di Melaka, juga untuk menakluk wilayah lain, khususnya daerah pedalaman Sumatera, seperti daerah Batak.

Al-Qahhar menggunakan pasukan Turki, Arab dan Habsyah. Dengan pasukan Khilafah Usmani 160 orang dan 200 pasukan dari Malabar, membentuk kelompok elit angkatan bersenjata Aceh. Al-Qahhar selanjutnya mengerahkan pasukan itu menakluk Batak di pedalaman Sumatera pada 946 H/1539 M.

Dalam indoforum.org yang ditulis oleh sumber anonim disebutkan, seorang sejarawan Universiti Kebangsaan Malaysia, Lukman Taib, mengakui adanya bantuan Khilafah Usmani dalam penaklukan wilayah sekitar Aceh.
Menurut Taib, perihal itu merupakan bukti perpaduan umat Islam yang memungkinkan Khilafah Usmani menyerang langsung wilayah sekitar Aceh. Bahkan, Khilafah mendirikan akademi tentara di Aceh: Askeri Beytul Mukaddes yang diubah menjadi ‘Pasukan Baitul Maqdis’, sehingga lebih sesuai dengan logat Aceh.

Pembentukan ketentaraan itu merupakan bukti “mencetak” pahlawan dalam sejarah Aceh dan Indonesia. Dari itu, hubungan Aceh dengan Khilafah Usmani sangat akrab. Aceh jadi bagian dari wilayah Khilafah. Persoalan umat Islam Aceh dianggap Khilafah sebagai persoalan dalam negeri yang mesti segera diselesaikan.

Nuruddin Ar-Raniry dalam Bustanul Salatin menulis, Sultan Alaidin Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk menghadapi Khalifah. Utusan itu bernama Huseyn Effendi. Ia fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji.

Pada Juni 1562 M, utusan Aceh itu tiba di Istanbul untuk meminta bantuan ketentaraan Usmani untuk menghadapi Portugis. Duta itu dapat mengelak dari serangan Portugis dan sampai di Istanbul. Ia mendapat bantuan Khilafah dan menolong Aceh membangkitkan pasukannya sehingga dapat menakluk Aru dan Johor pada 973 H/1564 M.

Hubungan Aceh dengan Khilafah terus berlanjut, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Pengganti Al-Qahhar II, yaitu Sultan Mansyur Syah (985-998 H/1577-1588 M) kemudian memperbaharui hubungan politik dan ketenteraan dengan Khilafah Usmani.

Hal itu diperkuat oleh sumber sejarah Portugis. Uskup Jorge de Lemos, kepercayaan Raja Muda Portugis di Goa, pada tahun 993 H/1585 M, melaporkan kepada Lisbon bahwa Aceh telah kembali berhubungan dengan Khalifah Usmani untuk mendapatkan bantuan ketentaraan. Bantuan itu untuk melancarkan peperangan baru terhadap Portugis.

Pemerintah Aceh berikutnya, Sultan Alaidin Riayat Syah (988-1013 H/1588-1604 M) juga dilaporkan telah melanjutkan lagi hubungan politik dengan Turki. Bahkan, Khilafah Usmani telah mengirim sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh dan mengizinkan kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Khilafah.

Hubungan akrab antara Aceh dan Khilafah Usmani telah berperanan mempertahankan kemerdekaannya selama lebih 300 tahun. Kapal-kapal atau perahu yang digunakan Aceh dalam setiap peperangan terdiri dari kapal kecil dan kapal-kapal besar. Kapal-kapal besar atau tongkang yang mengarungi lautan hingga Jeddah berasal dari Turki, India, dan Gujarat. Dua daerah ini merupakan wilayah Khilafah Usmani.

Kapal-kapal besar dari Turki itu dilengkapi meriam dan senjata lain yang digunakan Aceh untuk menyerang penjajah Eropa yang mengganggu wilayah-wilayah muslim di Nusantara. Aceh tampil sebagai kekuatan besar yang amat ditakuti Portugis, karena diperkuat perlengkapan senjata dari Turki.

Bukti kejayaan Khilafah Usmani menghalang Portugis di Lautan Hindi tersebut amat besar. Di antaranya mampu mempertahankan tempat-tempat suci dan jalan-jalan untuk menunaikan haji; kesinambungan pertukaran barang-barang India dengan pedagang Eropa di Pasar Aleppo (Syria), Kaherah, dan Istanbul; serta kesinambungan laluan perdagangan antara India dan Indonesia dengan Timur Jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah.

Hubungan beberapa kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Usmani yang berpusat di Turki tampak jelas. Misalnya, Islam masuk Buton (Sulawesi Selatan) abad 16 M. Silsilah Raja-Raja Buton menunjukkan bahawa setelah masuk Islam, Lakilaponto dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din (penegak agama) yang dilantik oleh Syekh Abd al-Wahid dari Mekah.

Sejak itu, dia dikenali sebagai Sultan Marhum dan semenjak itu juga nama sultan disebut dalam khutbah Jumat. Menurut sumber setempat, penggunaan gelaran ‘sultan’ ini berlaku setelah dipersetujui Khilafah Usmani (ada juga yang mengatakan dari penguasa Mekah).

Syeikh Wahid mengirim kabar kepada Khalifah di Turki. Realitas itu menunjukkan Mekah berada dalam kepemimpinan Khilafah, dan Buton memiliki hubungan ‘struktur’ secara tidak kuat dengan Khilafah Turki Usmani melalui perantaraan Syekh Wahid dari Mekah.

Sementara itu, di wilayah Sumatera Barat, Pemerintah Alam Minangkabau yang memanggil dirinya sebagai “Aour Allum Maharaja Diraja” dipercayai adalah adik lelaki sultan Ruhum (Rum). Orang Minangkabau percaya bahwa pemerintah pertama mereka adalah keturunan Khalifah Rum (Usmani) yang ditugaskan untuk menjadi Syarif di wilayah tersebut. Ini memberikan maklumat bahwa kesultanan tersebut memiliki hubungan dengan Khilafah Usmani.

Di samping adanya hubungan langsung dengan Khilafah Usmani, ada beberapa kesultanan yang berhubungan secara tidak langsung, misalnya Kesultanan Ternate. Pada tahun 1570an, ketika perang Soya-soya melawan Portugis, Sultan Ternate, Baabullah, dibantu Nusa Tenggara yang terkenal dengan armada perahu dan Demak dengan pasukan Jawa.

Begitu juga Aceh dengan armada laut yang perkasa dan kekuatan 30.000 buah kapal perang telah menyekat pelabuhan Sumatera dan menyekat pengiriman bahan makanan dan peluru Portugis melalui India dan Selat Melaka.

Berdasarkan beberapa cerita di atas, jelas bahwa kesultanan Islam di Nusantara memiliki hubungan dengan Khilafah Usmani. Bentuk hubungan tersebut berbentuk perdagangan, ketenteraan, politik, dakwah, dan kekuasaan.(indoforum.org)

Kejayaan Negara Islam Periode Usmani

Para sarjana Islam menemukan dan mengembangkan bubuk mesiu serta senjata peledak mulai awal abad ke-12. Tak lama setelah memproklamirkan kedaulatannya sekitar tahun 1300 M, Kekhalifahan Usmani kian memperluas cengkraman kekuasaannya ke seantero dunia.

Eropa pun berhasil ditaklukkan kerajaan yang awalnya berpusat di baratlaut Anatolia itu. Kesuksesan Usmani menguasai wilayah yang begitu luas ditopang teknologi militer modern dan tercanggih di zamannya.

Ruslan menulis pada Republika, pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II, Kerajaan Usmani sudah mulai mengembangkan senjata meriam. Teknologi meriam yang dikembangkan pada era kejayaan Usmani tersebut terbilang paling mutakhir. Senjata meriamnya sudah bisa dibagi menjadi dua bagian. Sehingga, memudahkan saat di bawa ke medan perang.

Pada abad ke-15 hingga 16 M, negara-negara Eropa belum memiliki meriam secanggih itu. Meriam berukuran besar itu secara khusus diciptakan pada 1464 M atas pesanan Sultan Mehmet II. Sang Penakluk- begitu Sultan Muhammad II dijuluki-sengaja memesan meriam berukuran raksasa yang belum ada sebelumnya.

Berat meriam raksasa yang dikenal dengan Meriam Mehmed II itu mencapai 18 ton. Panjangnya sekitar 5,23 meter dan diameternya mencapai 0,635 meter. Panjang larasnya mencapai 3,15 meter dan tempat mesiunya berdiameter 0,248 meter.

Selain itu, pasukan artileri (bagian meriam) yang dimiliki Sultan Muhammad juga diperkuat oleh sederet desainer dan insinyur yang mumpuni di bidang teknologi persenjataan. Beberapa ahli meriam yang termasyhur yang bergabung dalam tim artileri itu antara lain, Saruca Usta dan Muslihiddni Usta.

Tak sedikit pula non-Muslim bergabung dalam kelompok artileri. Mereka adalah orang-orang miskin yang tak puas dengan kebijakan Bizantium. Saat menaklukkan Konstantinopel,—ibu kota Bizantium—pasukan tentara Usmani mengepung dan menjebol benteng pertahanan musuh dengan meriam tercanggih, di zamannya.

Senjata meriam raksasa yang diciptakan pada masa kejayaan Daulah Usmani itu memiliki daya jangkau dan daya ledak yang terbilang luar biasa. Dalam Pertempuran Dardanelles, meriam itu mampu menenggelamkan enam kapal Sir John Ducksworth. Jangkauan Meriam Mehmet II mampu melintasi selat sejauh satu mil.

Meriam raksasa itu kini berada di Fort Nelson Museum. Konon, meriam itu dihadiahkan Sultan Abdulaziz kepada Ratu Victoria sebagai hadiah. Pada saat berkuasa Sultan Abdulaziz sempat diundang oleh Ratu Victoria. Setahun kemudian, meriam bersejarah itu pun dihibahkan kepada sang ratu.

Para sarjana Islam menemukan dan mengembangkan bubuk mesiu serta senjata peledak mulai awal abad ke-12. Pengembangan teknologi senjata itu dilakukan menyusul terjadinya Perang Salib I. Saat itu umat Islam terutama Turki berperang melawan pasukan tentara Salib (crusader).

Pengembangan senjata berdaya ledak serta bubuk mesiu dikembangkan di Syria, khususnya Damaskus. Pemerintahan Turki yang menguasai wilayah itu banyak mendirikan sekolah. Para sarjana Islam pun bergelut menciptakan bubuk mesiu sebagai bahan peledak untuk roket.

Dalam kitabnya berjudul Kitab alfurusiya val-muhasab al-harbiyaI dan Niyahat al-su’ul val-ummiya fi ta’allum a’mal al-furusiya, insinyur Islam, Hasan ar-Rammah Najm al-Din al-Ahdab, pada abad ke-13 M, merumuskan dan menciptakan bubuk mesiu, persenjataan. Selain itu, untuk pertama kalinya, Hasan ar-Rammah mengungkapkan tentang torpedo yang digerakkan sistem roket.

Dalam kitab yang ditulis pada tahun 1275, Hasan ar-Rammah, mengilustrasikan sebuah torpedo yang diluncurkan sebuah roket yang berisi bahan peledak. Selain itu, umat Islam juga memiliki buku tentang persenjataan dan militer penting lainnya, seperti Kitab anaq fi’l manajniq yang khusus ditulis untuk Ibnu Aranbugha Al-ZardkÉsh, komandan pasukan Ayyubiyah. Namun, penulis kitab itu tak dikenal.

Buku tentang persenjataan lainnya yang ditulis sarjana Islam adalah Kitab al-hiyal fi’l-hurub ve fath almada’in hifz al-durub (roket, bom, dan panah api) ditulis oleh Komandan Turki Alaaddin Tayboga Al-Umari Al-Saki Al-Meliki Al- Nasir. Kitab lainnya yang mengupas tentang roket ditulis Ibnu Arabbugha berjudul KitabÅl anik fil manajik kitabÅl hiyal fil hurub fi fath.

Barat juga kerap mengklaim bahwa roda terbang atau mesin terbang pertama kali diciptakan Leonardo da Vinci. Sesungguhnya, da Vinci itu banyak terpengaruh oleh karya-karya sarjana Islam bernama Al-Hazen. Selain itu, yang patut diketahui umat Islam adalah tulisan tangan karya-karya insinyur Islam bernama Ahmad bin Musa masih berada di perpustakaan Vatikan.

Peradaban Islam-Turki tercatat sebagai perintis dunia penerbangan jauh sebelum dunia Kristen-Eropa. Seorang sajana Turki bernama Sayram telah meneliti hubungan antara permukaan sayap burung dengan berat badannya untuk menemukan sebab-sebab burung bisa terbang. Penemuan itu membuat horizon baru dalam bidang aerodinamis.

Upaya penerbangan yang paling menarik dilakukan dua ilmuwan Muslim Turki, Hazarfan Ahmed Celebi dan Lagarå. Hasan Celebi pada tahun 1630 M-1632 M pada masa pemerintahan Sultan Murad IV. Evliya Celebi yang menyaksikan peristiwa bersejarah dalam dunia teknologi Islam itu menuturkan kesaksiannya.

“Hazarfan Ahmed Celebi, pertama kali mencoba terbang sebanyak delapan atau sembilan kali dengan sayap elang menggunakan tenaga angin,’’ ujar Evliya Celebi dalam buku catatan perjalannya yang masih tersimpan di Perpustakaan Istanbul.

Sultan Murad Han menyaksikan uji coba terbang itu dari bangunan besar bernama Sinan Pasha di Sarayburnu. Hazarfan Ahmed Celebi terbang dari puncak menara Galata dan mendarat di Dogancilar Square yang terletak di Uskudar dengan bantuan angin dari arah barat daya. Atas prestasinya itu, Sultan menghadiahinya koin emas.

‘”Hazerpan Ahmed Celebi telah membuka era baru dalam sejarah penerbangan,’’ papar Sultan Murad, insinyur sekaligus penerbang. Lagarå Hasan Celebi, juga tercatat terbang dengan menggunakan tujuh sayap roket dan mendarat dengan selamat di laut. Sosok Lagarå Hasan Celebi itu sangat patut mendapat tempat khusus dalam sejarah penerbangan.

Tangguh di Darat, Kuat di Laut

Hegemoni Kesultanan Usmani semakin menggurita tatkala Konstantinopel—ibu kota Kekaisaran Bizantium—pada 1453 M berhasil ditundukkan. Sejak itu, pemerintahan Usmani pun mengembangkan Istanbul (kota Islam) menjadi pusat pelayaran.

Sultan Muhammad II pun menetapkan lautan dalam Golden Horn sebagai pusat industri dan gudang persenjataan maritim. Dia menitahkan komandan angkatan laut, Hamza Pasha, untuk membangun industri dan gudang persenjataan laut.

Tak hanya itu, pemerintahan Ottoman juga berhasil membangun sebuah kapal di Gallipoli Maritime Arsenal. Di bawah komando Gedik Ahmed Pasha (1480 M), Daulah Usmani membangun basis kekuatan lautnya di Istanbul. Tak heran, jika marinir Turki mendominasi Laut Hitam dan menguasai Otranto.

Pada era kekuasaan Sultan Salim I (1512-1520), pusat persenjataan maritim di Istanbul dimodifikasi. Salim I berambisi untuk menciptakan Daulah Usmani yang tak hanya tanggung di darat, tapi juga kuat di lautan. Selain mengembangkan Pusat persenjataan Maritim Istanbul, Sultan juga memerintahkan membangun kapal laut yang besar.

Tak heran, jika Salim I kerap berseloroh, “Jika scorpions (Kristen) menempati laut dengan kapalnya, jika bendera Paus dan raja-raja Prancis serta Spanyol berkibar di Pantai Trace, itu semata-mata karena toleransi kami.’’

Salim I bertekad memiliki angkatan laut yang besar dan kuat untuk menguasai lautan. Pembangunan dan perluasan pusat persenjataan maritim pun akhirnya dilakukan dari Galata sampai ke Sungai Kagithane River dibawah pengawasan Laksamana Cafer dan tuntas pada 1515 M. Total dana yang dikucurkan untuk pembangunan pusat pertahanan dan persenjataan bahari itu menghabiskan 50 ribu koin. Sebanyak 150 unit kapal dibangun.

Dilengkapi dengan kapal laut terbesar di dunia, pada abad ke-16 M, Turki Usmani telah menguasai Mediterania, Laut Hitam, dan Samudera Hindia. Tak heran, bila kemudian Daulah Usmani kerap disebut sebagai kerajaan yang bermarkas di atas kapal laut.

Sultan Selim I mulai kembali melirik pentingnya membangun kekuatan di lautan setelah kembali dari Mesir. Sebelumnya, kekuasaan Usmani Turki telah menguasai pelabuhan penting di Timur Mediterania, seperti Syiria dan Mesir. Pembangunan pelabuhan dan pusat persenjataan maritim terus dikembangkan oleh sultansultan berikutnya. Pada masa kejayaannya, Turki Usmani sempat menjadi Adikuasa yang disegani bangsabangsa di dunia baik di darat maupun di laut.

Bisnis Senjata di Era Usmani

Berniaga tak mengenal batas, begitu kata pepatah. Sekalipun Daulah Usmani bersitegang dan bermusuhan dengan Eropa, namun aktivitas perdagangan tak lantas berhenti. Pada era itu, tulis Heri Ruslan di Republika edisi 12 Maret 2008), perdagangan senjata di pasar gelap antara Turki dan Eropa masih terus berlangsung.
Padahal, penguasa di benua Eropa termasuk Paus melarang warganya untuk berbisnis dengan Usmani Turki. Larangan itu diberlakukan Paus Gregory XI pada 15 Mei 1373 M. Pada pertengahan abad ke-14, persenjataan mulai berkembang ke negara-negara Eropa, sebagai teknologi militer baru. Namun, kala itu bisnis persenjataan belum begitu pesat.

Selain melarang berbisnis senjata dengan Daulah Usmani, Paus juga tak mengizinkan umat Kristiani untuk membeli kuda, besi, tembaga, dan barang-barang lainnya. Larangan berbisnis dengan Kesultanan Usmani diterapkan beberapa negara melalui undang-undang.

Larangan itu tak berdampak besar bagi Kerajaan Ottoman. Turki Usmani masih dengan mudah bisa memperoleh amunisi. Daulah Usmani tetap bisa memeroleh pasokan baja dan amunisi untuk kebutuhan militer dari Dubrovnik, Florence, Venicia, dan Genoa pada abad ke-14 M hingga 16 M. Bahkan, dua kota di Italia, Venicia dan Genoa hidup dari perdagangan.[dbs/harian-aceh/taman-langit7.co.cc]

29 Januari 2012

Pegang Teguh Syariah, Tekad Ribuan Pengusaha Muslim

Sekitar 1500 pengusaha Muslim berkumpul di Jakarta tapi bukan untuk membicarakan bisnis, mereka yang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia ini menyatakan tekadnya untuk berpegang teguh pada syariah.

Dengan dipandu Lajnah Khusus Pengusaha (LKP) Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Karebet Widjayakusuma, para pengusaha ini serentak mengikrarkan tiga butir Piagam Pengusaha Muslim.

“Kami pengusaha Muslim bertekad, satu senantiasa berpegang teguh pada syariah dalam setiap aktivitas bisnis dan aktifitas kehidupan sehari-hari!” pekik Karebet kemudian dipekikan pula oleh ribuan pengusaha lainnya, Kamis (26/1) sore di Gedung Smesco, Jakarta.


 Sedangkan kedua butir lainnya adalah (2) turut serta berjuang demi tegaknya kembali syariah dan khilafah serta (3) bersatu dalam memperjuangkan tegaknya kembali syariah dan khilafah.

“Semoga Allah SWT meridhai tekad kami ini,” ujar Karebet dan ribuan pengusaha lainnya. Aamiin.


Pekik takbir pun membahana dalam acara Muslim Entrepreneur Forum 2012 tersebut saat 17 perwakilan peserta menandatangani Piagam Pengusaha Muslim itu. Ketujuh belas penandatangan piagam tersebut adalah:

Iskandar Zulkarnain (Pengusaha Nasional); Andri Marjoni (Saudagar Muslim); Didik Sodikin (Asosiasi Pengusaha Indonesia); Edy Sugianto (Sekjen Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia); Dwi Condro Triono (Konsultan Komunikasi Massa); Muhammad Karebet Widjayakusuma (LKP HTI); Muhammad Ismail Yusanto (Jubir HTI).

Aziz Azwir ( Sumatera Utara); Erik Sitepu (Riau); H Reza Fahlevi (Lampung); H Atong (Jabodetabek), Rahmat Basuki (Jawa Barat); Dicky Zulkarnain (Jawa Tengah); Harun Musa (Jawa Timur); Muhammad Taufik (Kalimantan Timur); Mustari Ago (Sulawesi Selatan); dan H Ahmad Al Jufri (Sulawesi Tenggara).(joy/eramuslim)


1400 Pengusaha Muslim Kumpul di Jakarta Suarakan Syariah dan Khilafah

Lajnah Khusus Pengusaha (LKP) Hizbut Tahrir Indonesia harini ini menyelenggarakan pergelaran besar yang diberikan nama “Muslim Entrepreneur Forum (MEF) 2012” di Gedung SMESCO, Jakarta. Tak kurang dari 1400 pengusaha muslim di Indonesia mengikuti kegiatan ini yang akan berlangsung sampai pukul 18.00 WIB.

Ustadz Heru Binawan Dari DPP Hizbut Tahrir, dalam pembukaannya mengatakan bahwa berkumpulnya pengusaha muslim disini, tidak dalam kapasitas membicarakan bisnis, namun sebuah agenda yang lebih besar daripada itu.

“Kita berkumpul di sini untuk membicarakan hal yang lebih besar dari bisnis yakni penegakan syariah dan khilafah,” ujarnya.

Ustadz Heru yang juga seorang pengusaha konsultan stategic planing dan filantropi ini juga menegaskan bahwa pertemuan ini lebih besar dari sekedar pertemuan bisnis antar pengusaha karena syariah Islam telah menjelaskan bahwa akad-akad transaksi bisnis yang dilakukan pengusaha sehari-hari dibandingkan dengan akad untuk mengangkat seorang khalifah adalah perbandingan antara amal mubah dan wajib.

“Sudah menjadi prioritas amal seorang Muslim, berarti termasuk kita para pengusaha, untuk mendahulukan amalan wajib dari pada amalan sunah atau pun mubah,” ujar salah satu pemilik percetakan di Jakarta ini.

Acara ini diharapkan akan menjadi ajang penting untuk mengumpulkan energi penegakan kembali syariah dan khilafah dari pengusaha seluruh Indonesia yang secara khusus didedikasi untuk membangun kesadaran bersama akan arti pentingya posisi dan potensi Pengusaha Muslim dalam percaturan dakwah Islam.

Disamping itu, forum ini diharapkan menjadi sarana berkumpul–bukan saja Pengusaha yang taat dalam menjalankan bisnisnya sesuai dengan syariah, tetapi juga Pengusaha yang turut berjuang memberikan kontribusi nyata dalam upaya mengentaskan umat dari berbagai problematika yang menghimpit kehidupan mereka.

Dalam presentasinya, Ustadz Dwi Condro mengatakan bahwa Indonesia saat ini terjebak dalam sebuah system kapitalis. Ia mengatakan bahwa selama ini sistem kapitalisme telah menjanjikan sistem ekonomi berkadailan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Umat manusia telah dibuat sengsara dan bergantung pada pemiliki modal. Salah satunya adalah dengan penguasaan perbankan.

“Dengan mendasarkan kepada mekanisme pasar bebas, kapitalis justru memiliki jurus yang sangat canggih. Ketika dia melihat ditengah-tengah masyarakat beredar dana-dana berlebih, kapitalisme pun menciptakan satu mesin luar biasa, yaitu mesin penyedot uang yang kita kenal dengan lembaga perbankan.”

Padahal Perbankan saat ini besar dengan dana riba, dan Allah sudah menjelaskan barang siapa yang memakan harta riba tempatnya di neraka dan mereka kekal di dalamnya. “Di Negara kita, orang sudah shalat, puasa, bahkan haji tapi masih mengambil uang riba,” kritiknya di depan para peserta yang memenuhi ruangan. (Pz/eramuslim)


3 November 2011

Ustz. Hj. Irena Handono, Hizbut Tahrir Bukan Musuh Pemerintah

Nama Irena Handono sudah tidak asing bagi umat Islam di Indonesia, apalagi di kalangan aktivis dakwah. Sosok yang dikenal sebagai mantan biarawati ini aktif berdakwah untuk membentengi akidah umat Islam dari bahaya kristenisasi dan upaya pendangkalan akidah.

Pengalaman ruhani dan kejujuran dalam mencari kebenaran membuat tokoh Muslimah ini mendapatkan hidayah Allah hingga tertunjuki pada Islam. Bahkan setelah beberapa tahun menjadi muallaf, ia pun aktif membina para muallaf, bahkan akhirnya mengabdikan hidupnya untuk terjun dalam dakwah Islam.

Mengenal HT

Sembilan tahun setelah mengucapkan syahadat di tahun 1983, tepatnya pasca menunaikan ibadah haji, dengan motivasi dari rekan-rekan persaudaraan haji dan bimbingan para ulama di Jawa Timur, wanita kelahiran Surabaya 57 tahun silam ini memulai perkenalannya dengan dunia dakwah. Tak sedikit tantangan yang dihadapi, penentangan dari keluarga dan teman sesama aktivis gereja dulu: teror, surat kaleng, fitnah di masyarakat: juga upaya penculikan dan target pembunuhan isu dukun santet. Namun, keyakinannya terhadap Islam tak tergoyahkan dan tak membuat dirinya mundur dari medan dakwah.

Tiga tahun setelah hijrah ke Jakarta di tahun 2003, datanglah tiga orang aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia bersilaturahmi ke rumah kediamannya di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Perkenalan, diskusi, sharing dan dialog gayung bersambut. Keterbukaan, wawasan yang luas dan keinginannya untuk terus memperdalam Islam membuat mantan Ketua Legiun Maria saat masih Katolik dulu itu tak pernah menutup pintu dialog dengan berbagai kelompok Islam, termasuk Muslimah HTI.

Dalam forum-forum kajian yang diselenggarakan oleh HTI, baik nasional maupun daerah, pemilik nama kecil Han Hoo Lie tersebut kerap menjadi pembicara. Dalam beberapa aksi (masirah) nasional pun, tak jarang ia berorasi.

Dalam Muktamar Mubalighah Indonesia yang diselenggarakan Muslimah HTI, Rabu (21/4/2010) di Istora Senayan, Jakarta, pun ia tampil sebagai salah satu pembicara. Di hadapan sekitar 6000 mubalighah yang hadir, dengan lantang dan tegas ia menyampaikan materi yang bertema, "Khilafah Menghentikan Konspirasi Global Menghancurkan Bangsa melalui Perempuan".

"Khilafah adalah satu-satunya bentuk sistem pemerintahan yang difardukan oleh Allah Rabbul alamin. Sistem inilah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. kepada para sahabatnya ridwanullah 'alayhim dan telah dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelahnya. Sistem ini ada untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam, mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia. Khilafah tidak lain adalah Imamah," katanya bersemangat.

Bahkan di media cetak FIR terutama Tabloid Media Umat, ia aktif memberikan kontribusi tulisan-tulisan yang memberikan inspirasi dan pencerahan kepada umat, terutama di bidang kristologi. Redaksi Media Umat pun mengakui, banyak pembaca yang menunggu-nunggu tulisannya, terutama dari Nusa Tenggara Timur dan daerah yang umat Islamnya masih minoritas. Bahkan bila tulisannya tidak muncul maka sms protes dari mereka pun bermunculan.

Kedekatannya dengan forum-forum, media maupun aktivis HTI bukan tanpa dampak sebagaimana beberapa tokoh nasional yang lain, dirinya pun kerap mendengar tudingan miring dari beberapa kalangan. Namun, isu dan cap negatif itu tak pernah ditelan mentah-mentah. Bahkan kepada al-wa'ie ia menegakkan, "Tolong dituliskan, bahwa Hizbut Tahrir bukan musuh pemerintah dan bukan musuh masyarakat!"

Mendukung HT

Mencermati perjuangan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir, pendiri Irena Center ini menyatakan dua alasan sehingga partai Islam ideologis internasional tersebut layak didukung.

Pertama: ide perjuangan HT tepat, ilmiah dan historis. Penulis buku laris Menyingkap Fitnah dan Teror ini mengamini komitmen perjuangan HT untuk menegakkan syariah dan Khilafah. Sebab, sistem kehidupan Islam dalam naungan Khilafah adalah sebuah kenyataan historis yang tak terbantahkan. Lebih dari enam abad Khilafah Islam, pada masa kejayaannya, mampu menyejahterakan tidak hanya negeri-negeri Muslim, tetapi juga masyarakat dan negara non-Muslim di Asia. Afrika dan Eropa yang bersedia tunduk dalam kekuasaan Islam. "Bila ada sekelompok orang yang menyatakan perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah itu utopis, berarti mereka menyangkal kenyataan sejarah Islam. Utopis itu artinya kan cuma angan-angan yang tak pernah terjadi, padahal Khilafah Islam adalah realita sejarah yang tak terbantahkan! Sejarah pun mencatat belum pernah ada peradaban emas yang mampu bertahan hingga 14 abad kecuali peradaban Islam dalam bingkai Khilafah Islam." tegasnya.

Kedua: pola dakwah HT tepat dan cantik. Maksudnya. pola dakwah HT yang selalu mengedepankan prinsip syar’i, ideologis, dan non kekerasan adalah pola dakwah yang sesuai dengan tuntunan Islam. Pada saat masyarakat dunia alergi dengan Islam dan melihat Islam itu menyeramkan, identik dengan kekerasan dan pedang, dakwah HT justru hadir dengan warna khas, cerdas, syar’i, santun dan non-kekerasan. “Pertahankan pola dakwah ini, saya sangat optimis perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah akan didukung oleh umat Islam," harapnya.

Namun, ia mengingatkan, paska perhelatan kolosal Konferensi Rajab ini agar HT terus melakukan pembinaan masyarakat secara lebih intensif. "Masyarakat kita ini adalah masyarakat pelupa, rnakanya jangan pernah berhenti berdakwah!" pesannya. Allahu Akbar! [al-waie/syabab/taman-langit7.co.cc]

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites