Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2012

Goresan Dalam Cermin

Beberapa waktu yang lalu ku tulis sebuah status di sebuah dinding jejaring, yg berisi sebuah syair yang telah ada dan tak asing ditelinga. Syair lama nan sederhana yang dilantunkan oleh sakha. Yang kurang lebih syairnya seperti ini..

Sebening tetesan embun pagi..
Secerah indahnya mentari..
Bila kutatap wajah mu..
Ada kehangatan didalam hatiku..
Air wudhu selalu membasahi mu..
Ayat suci selalu di lantunkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah..
Berdo’a untuk putra dan putrinya..

Tak kutulis sosok siapa yang ada dalam syair tersebut, tapi Insya Allah sahabat sekalian mafhum siapa sosok yang di maksud.

Kemudian kulihat sebuah catatan milik seorang sahabat yang menceritakan tentang dirinya dan sosok yang kita cintai dan kita muliakan..

Sungguh indah dan menarik jikalau kita perhatiakan setiap apa-apa yang ada, yang terjadi dalam sebuah realita, mungkin serasa sederhana bagi orang lain namun berbeda bagi Asa(SA)..

Ada sesuatu yang saya ambil dari catatan tersebut yakni “Menempatkan sesuatu pada tempatnya” . Alangkah indahnya ketika kita melangkah dalam kehidupan ini bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Kenapa saya katakan demikian .?
Karena masih ada orang yang tak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya..( bisa saya atau anda).


Seorang anak kepada kedua orang tuanya..
Seorang kakak kepada adiknya..
Seorang murid kepada gurunya..
Seorang pemimpin kepada yang di pimpinnya ataupun sebaliknya..
Dan masih banyak yang lain sebagainya..

Catatan sederhana itu.. seakan menggelitik pena ini untuk menggerakan penanya, walaupun telah sejak lama tangan ini tak menggoreskan lagi penanya, karena penanya tak bertinta. Yang hanya mungkin bisa digoreskan dalam realita.


Mungkin hanya itu yang dapat saya ambil sebagai pelajaran dari catatan sederhana tersebut. Yakni “Menempatkan sesuatu pada tempatnya” .

Tiap harapan yang berhasil Anda raih, selalu berujung pada kesedihan, baik karena ia telah meninggalkan Anda, ataupun Anda yang meninggalkannya..

Kecuali amal perbuatan yang didedikasikan untuk Allah, karena dalam segala hal akan berujung pada kebahagiaan, baik cepat atau lambat.

Dalam waktu cepat, pelakunya tidak banyak punya obsesi yg menjadi obsesi banyak orang. Sementara dalam waktu yg akan datang, ia mendapatkan surga-Nya..

Maka, jangan korbankan dirimu kecuali untuk meraih yang lebih tinggi, dan itu hanya ada pada ALLAH dengan dakwah ila al-Haq. Karena itu orang yang cerdas hanya melihat dirinya dihargai dengan surga.
( Ibn Hazm, al-Akhlaq wa as-Siyar, juz I, hal 2)

Sebuah refleksi bagi diri.. untuk selalu menengok kekanan dan kekiri
Sebuah pengingat bagi diri.. ketika melangkah di dunia yang penuh ilusi
Sebuah intropeksi bagi diri.. untuk mengendalikan hawa nafsu yang tak terkendali dan menjadi-jadi
Sebauah renungan bagi diri.. ketika hati tertutup rasa banci, karena su’ur di jadikan standarisasi

Khair.. Syarr.. Hasan.. Qabih.. bukan menurut pandangan manusia melainkan menurut pandangan Dzat yang Maha Suci.

Ketika su’ur mulai mendominasi, tak kenal kawan atau lawan yang dihadapi
Ketika su’ur mulai dituruti, tak kenal saudara atau saudari yang di cintai
Ketika su’ur di jadikan standarisasi, tak kenal kaki dan tangan sendiri
Ketika su’ur kian tak terkendali, poros dan bara terlepaspun kian tak berarti

Yaa ikhwan.. sugguh rembulan itu indah jikalau kau sapa ia di kala tengah malam hari nanti..

Yaa ukhti.. sungguh mentari itu indah jikalau kau sambut ia di kala dini hari tiba..

Afwan goresan ku bukan berkata siapa dan tentang apa, namun ini hanyalah goresan refleksi dunia nyata.

Aku bukanlah seorang penulis yang pandai berkata dan berretorika dengan sejuta kata dan selaksa tinta..
Aku bukanlah seorang  ‘alim yang pandai berdalil dan beragumentasi di depan mata..
Aku bukanlah seorang penyair yang pandai merangkai kata dengan tata untaian seribu bahasa..
Aku hanya seorang pejalan kaki biasa nan sederhana yang menggenggam sebuah pena tak bertinta..

Pelaut yang ulung bukan menghadapi  laut yang tenang..
Aktivis Dakwah yang tangguh bukan menghadapi medan perjuangan yang mulus..
Qalam al tsauriy, al ghayatun la tudrak.[]


Supriadi Ats Tsauriy


Taman Langit 7
Rabi’ul  akhir 1433 H 

3 Desember 2011

Hakikat Cinta Kepada Allah Swt

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan tentang segala sesuatu dengan Kehalusan Kuasa-Nya dan Keindahan Kreasi-Nya. Dia memperindah ciptaan-Nya dan menghadirkan seluruh entitas dalam bentuk yang tidak pernah ada sebelumnya. Tidak ada sekutu bagi-nya dalam penciptaan. Alangkah bahagianya jika seseorang berhasil meraih dan menggapai cinta Allah swt. Sebab, bila seseorang berhasil mendapatkan cinta Allah, maka hidupnya akan dituntun dan dibimbing oleh Allah swt. Allah akan membimbing penglihatannya tatkala dirinya melihat; Allah akan membimbing pendengarannya, manakala ia mendengarkan. Sebaliknya, betapa menyakitkan bila kita merasa mencintai dan dicintai oleh Allah, akan tetapi cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan. Kita merasa mendapatkan kecintaan Allah, akan tetapi sebenarnya kita tidak pernah mendapatkan kecintaan dari Allah swt.

Betapa banyak orng sibuk mengerjakan perbuatan2 tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Ada diantara manusia yg menyendiri di tengah hutan, jarang makan-minum, bahkan mandi; menjauhi anak-isterinya dan sanak keluarganya. Ia beranggapan bahwa dgn cara ini ia akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Kita juga menyaksikan ada diantara manusia yg melakukan ritual2 tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Ada yg berpuasa tiga hari tiga malam tanpa putus2, bahkan ada yg sampai 40 hari 40 malam. Ada pula yg sibuk membaca kalimat2 dzikir, mengunjungi kuburan para nabi dan wali, membaca riwayat hidup Rasulullah saw, dan sebagainya.

Akan tetapi, apakah dgn cara2 seperti itu mereka akan mndapatkan kecintaan dari Allah swt? Lalu, bagaimana cara kita meraih dan menggapai kecintaan dari Allah swt; agar cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan dan tidak hanya sebatas merasa mencintai Allah swt, namun Allah sama sekali tidak mencintai kita.

Allah swt telah memberikan petunjuk yg sangat jelas, bagaimana cara mendapatkan kecintaanNya. Allah swt telah berfirman, artinya:

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Qs.Ali Imron : 31]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir Ibnu Katsir menyatakan, Ayat ini merupakan pembukti, Siapa saja yang mengaku mencintai Allah swt, namun ia tidak berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw, maka orang tersebut hanya berdusta saja. Dirinya diakui benar-benar mencintai Allah, tatkala ia mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw, baik dalam perkataan, perbuatan, dan persetujuan beliau saw. Jika teruji bahwa ia benar-benar mencintai Allah, yakni dengan cara menjalankan seluruh ajaran Muhammad saw, maka Allah akan balas mencintai orang tersebut. Rasul saw bersabda:

Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan maka perbuatan itu tertolak. (Muttafaq'alaihi)

Para ahli hikmah telah menyatakan,âPerkara yang hebat bukanlah kamu [merasa] mencintai Allah, akan tetapi, kalian benar-benar dicintai [oleh Allah swt].

Imam Hasan al-Bashriy pernah berkata, Ada suatu kaum merasa bahwa mereka telah mencintai Allah swt, lalu, Allah swt menguji mereka dengan firmanNya, Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Qs.Ali Imron : 31]

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, Bukankah agama ini adalah cinta dan benci karena Allah swt?

Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan, Jika kalian mengikuti sunnah Rasulullah saw, maka kalian akan mendapatkan keberkahan hidup.

Atas dasar itu, jika kita hidup sesuai dgn sunnah Rasulullah saw, maka kita pasti akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, dan kita juga pasti akan mendapatkan ampunan dari Allah swt.

Dari uraian Imam Ibnu Katsir di atas jelaslah bagi kita, jika seseorang ingin meraih dan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, kita mesti berbuat dan berperilaku sesuai tuntunan Islam. Jika kita berjalan sesuai dengan ajaran yg dibawa Muhammad saw, tentu kita akan dicintai oleh Allah swt. Sebaliknya, meskipun kita merasa mencintai dan dicintai Allah swt, kita tidak akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, selama tidak berjalan sesuai dgn ajaran Muhammad saw.

Atas dasar itu, kita tidak boleh membuat tatacara atau ritual tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran ataupun ritual apapun yg tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw tidak mungkin mengantarkan kita untuk meraih cinta Allah swt. Hanya dgn menjalankan ajaran Islam secara konsisten dan konsekuen. Kita akan mendapat kecintaan dari Allah swt.

Jelaslah kini, hanya ada satu cara untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt. yaitu, selalu menjaga keimanan dan berperilaku sesuai dgn ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw. Seorang yg mencintai Allah swt akan berusaha dgn segenap tenaga untuk menerapkan aturan2 Allah swt, baik yg brhubungan dgn masalah ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Sayangnya, saat ini kita tidak mampu lagi menerapkan aturan2 Allah swt dikarenakan tidak ada institusi yg menjaminnya. Penerapan syariat Islam dalam bingkai negara (Khilafah) masih jauh di atas kenyataan. Padahal, penerapan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah, sekaligus jalan pembuka untuk meraih cinta Allah. Bagaimana kita bisa merasa dicintai Allah swt sementara itu kita mencampakkan aturan2-Nya dan menerapkan pranata2 kufur? Pastinya, bukan kecintaan yg kita dapat, akan tetapi laknat dan kebencian yg akan kita sandang. Na'udzu billahi min dzaalik

Ada baiknya kita renungkan sabda beliau (Saw) ini:

"Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya."(HR. Al Hakim) Wallahua'alam. [CSA] 

19 November 2011

MASIH PANTASKAH KITA.?

Rasulullah Saw telah bersabda, "Allah telah mewahyukan kepadaku: "Wahai saudara para Rasul, wahai saudara para pemberi peringatan! Berilah berita peringatan kpda kaummu, agar mereka jgn memasuki satu rumahpun dari rumah2-Ku (masjid), kecuali dgn hati yg bersih, lidah yang benar, tangan yg suci, dan kemaluan yg bersih. Janganlah mereka memasuki salah satu rumah-Ku (masjid) padahal mereka masih tersangkut barang aniayaan hak orang lain. Sesungguhnya Aku tdk memberi rahmat, selama ia berdiri dihdpan-Ku melakukan shalat hingga ia mengembalikan barang aniayaan itu kpda pemiliknya. Apabila ia telah mengembalikannya, Aku akan jd alat pendengarannya yg dgn alat itu ia mendengar, dan Aku akan menjadi alat penglihatannya yang dgnnya ia akan melihat, dan ia akan menjadi salah seorang kekasih dan orang pilihan-Ku, dan akan menjadi tetanggaKu bersama para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada yang ditempatkan didlm surga."(Hadits Qudsiy riwayat Abu Na'im, Hakim, al-Dailami, dan Ibnu 'Asakir dari Hudzaifah ra.)


Khalifah Umar bim Abdul Aziz pernah memberikan pesan kpda kaum muslim: "Wahai sekalian manusia! jgnlah kalian menganggap kecil dosa2 itu. Selidiki dan usahakanlah untuk mengkikis habis dosa2 yg pernah dilakukan dgn jalan melakukan taubat....Telah sia2 dan merugi orang2 yg keluar dari rahmat Allah yg meliputi segala sesuatu. Mereka tlh diharamkan masuk ke suqga yg luasnya seluas langit dan bumi. Ketahuilah, perasaan aman pd hari kiamat hanya dimiliki oleh orang2 yg takut akan Rabbnya. yaitu orang yg suka menjual barangnya yg sedikit untuk ditukar dgn barang yg lebih banyak, orang yg suka menukar yg fana' (dunia) dgn yg kekal abadi (akhirat)."
 
Lalu, apakah kita masih pantas memasuki rumah Allah dan mendptkan rahmat di sisi Allah Swt. sementara itu, tangan dan hati kita masih berlumuran dosa dan kedzaliman.

Pantaskah kita duduk dihdpan-Nya, sedangkan farji dan pandangan kita tdk prnah di jaga. Masihkah kita berharap menjadi kekasih Allah. pdhal, kita masih suka menganiaya dan memusuhi kekasih-kekasih-Nya?

Pantaskah kita menjadi tamu Allah Swt. pdhak kita masih menanggung barang2 aniayaan milik orang lain, tdk prnah henti2nya membebani rakyat dgn beban2 berat, dan menguras harta dan peluh mereka?

Pantaskah kita bermunajat memohon ampunan Allah. sementara itu kita getol menyudutkan bhkan merencanakan makar untuk memenjarakan dan menyakiti pembela2 agama Allah yg selalu merindukan tertegaknya al-Quran dan as-Sunnah? 

Pantaskah kita berharap surganya Allah Swt. sementara itu kita gemar memburu dan memerangi kaum mukhlish yg selalu mendekatkan diri kpda Allah Swt. dgn alasan terorisme, makar dan seribu alasan lainnya?

Bukankah Allah Swt. telah menyatakan melalui lisan Nabi Muhammad Saw, "Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku, Aku telah mendeklarasikan perang kpdanya..."(Hadits Qudsiy, HR.Bukhari)

Betapa angkuh dan sombongnya diri kita! Kita selalu membenci dan memusuhi orang yg dicintai Allah Swt. namun masih berharap mendapat kecintaan dan rahmat dari Allah Swt. Betapa banyak kekasih Allah Swt yg distigma dgn cap2 buruk, bhkan diperlakukan tdk manusiawi. Apakah kita tdk mengetahui atau pura2 tdk tahu, bahwa tdk ada perbuatan yg lebih hina dibandingkan memerangi dan memusuhi kekasih-kekasih Allah Swt. Lantas, masih pantaskah kita menyandang muslim dan mukmin, namun, kita enggan untuk tunduk dgn aturan Allah. bahkan memproduk aturan2 yg bertentangan dgn aturan Allah? Bila tdk pantas lalu gelar apa yg paling pantas bagi kita? Wallahua'lam.(www.taman-langit7.co.cc)

8 November 2011

Baris Puisi

Baris 1-11-11
“Cinta mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yg baik, menjaga adab & kepribadian. Tapi cinta merupakan ujian bagi orang-orang shaleh & cobaan bagi ahli ibadah,” (Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dlm buku Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin mengenai pengaruh cinta dlm kehidupan seseorng).

 

Melati yang indah tertutup rimbun ilalang.. (Nur al Haq/Asa)
Cinta dan Benci karena Allah.

Saat Cinta di kalahkan Cinta
Seakan Bersebrangan padahal Searah..
Seakan Menyesakan padahal Melegakan..
Seakan Merisaukan padahal Menenangkan..
Seakan tak Adil padahal sangat Adil..
Saat Cinta dikalahkan Cinta

Bulan dan bintang jadi saksi abadi..
Tetesan embun di helai bunga melati..

Cinta..

"Paling kuat tali hubungan keimanan ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah."
(HR.Ath-Thabrani)

Cinta..

"Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya."
(HR.Al Hakim)
Cinta..
Kupercaya suatu hari nanti..
Mungkin tak disini, di dunia ini..
Kelak mungkin di kehidupan nanti, yang abadi..

[CSA]

7 November 2011

Mengetahui Isi Hati Orang Lain

Orang mengetahui isi hatinya sendiri yang belum dia ucapkan dan lakukan adalah hal yang biasa, bagaimana tidak sementara hal itu ada pada dirinya, tetapi bagaimana bila orang mengetahui apa yang ada di hati orang lain, padahal orang lain itu hanya berbicara dalam hati, belum mengucapkannya kepada siapa pun? Mungkin sebagian kalangan memungkiri hal ini. Mustahil, katanya. Dari mana cara dan jalannya? Ternyata ada jalannya dan sepertinya jalan inilah yang dipakai oleh sang dukun untuk menerka apa yang ada dalam hati orang atau mengatakan tempat barang yang hilang. Bacalah keterangan berikut, Anda akan berkata, “Oh, begitu toh.”

Ibnu Abu Dawud meriwayatkan dari al-Mutthalib bin Abdullah bin Hanthab bahwa Umar bin al-Khatthab membicarakan seorang wanita dalam hatinya namun tidak mengatakannya kepada siapa pun, lalu seorang laki-laki datang kepada Umar dan berkata, “Engkau membicarakan fulanah bahwa dia adalah wanita mulia lagi cantik di keluarga yang baik.” Umar bertanya, “Siapa yang menyampaikannya kepadamu?” Dia menjawab, ‘Orang-orang membicarakannya.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak mengatakannya kepada siapa pun, lalu dari mana?” Dia menjawab, “Al-Khannas yang membawanya keluar.” Dan al-Khannas adalah yang yuwaswisu fi shudurin nas
.
Abu al-Jauza` berkata, “Aku mentalak istriku hari Jum’at dan dalam hatiku ingin merujuknya di hari Jum’at berikutnya, aku belum mengatakannya kepada siapa pun. Namun istriku berkata, “Kamu ingin merujukku di hari Jum’at?” Aku bertanya, “Aku belum mengatakannya kepada siapa pun.” Abu al-Jauza` berkata, “Namun aku teringat kata-kata Ibnu Abbas bahwa setan seseorang mengabarkan kepada setan orang lain, dari sanalah pembicaraan menyebar.”

Seorang laki-laki dihadapkan kepada al-Hajjaj bin Yusuf dengan tuduhan sebagai tukang sihir. Al-Hajjaj bertanya, “Kamu tukang sihir?” Dia menjawab, ‘Tidak.” Lalu al-Hajjaj mengambil kerikil dengan telapak tangannya dan dia menghitungnya, lalu dia bertanya kepada laki-laki itu, “Berapa kerikil di tanganku?” Laki-laki itu menjawab, “Sekian.” Lalu al-Hajjaj membuang kerikil dan mengambil kerikil baru namun kali ini dia tidak menghitungnya, dia bertanya, “Berapa kerikil di tanganku?” Dia menjawab, ‘Tidak tahu.” Al-Hajjaj berkata, “Untuk yang pertama kamu tahu, mengapa yang kedua tidak?” Dia menjawab, “Yang pertama karena kamu menghitungnya maka kamu mengetahuinya, maka setanmu juga mengetahui dan dia mengabarkan kepada setanku. Untuk yang kedua engkau tidak mengetahuinya maka setanmu juga tidak mengetahuinya sehingga dia tidak mengabarkan kepada setanku, maka aku tidak tahu.”

Mu'awiyah bin Abu Sufyan bahwa dia memerintahkan katibnya agar menulis kitab tentang rahasia, saat katibnya menulis, tiba-tiba seekor lalat hinggap di sebuah huruf dari apa yang ditulis, maka katib itu memukulnya dengan pena, maka sebagian kaki lalat itu terputus. Selanjutnya katib itu keluar dan orang-orang menyambutnya di pintu istana, mereka berkata, “Amirul Mukminin menulis begini dan begini.” Dia bertanya, “Dari mana kalian tahu?” Mereka berkata, “Seorang laki-laki Habasyah kakinya terputus, dia datang kepada kami dan mengatakannya kepada kami.” Lalu katib tersebut kembali kepada Mu'awiyah dan berkata, “Amirul Mukminin, rahasia yang engkau perintahkan kepadaku agar aku menulisnya sudah diketahui oleh orang-orang.” Mu'awiyah bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” Dia menjawab, “Kata mereka seorang laki-laki Habasyah kakinya terputus datang kepada mereka dan memberitahu mereka.” Mu'awiyah berkata, “Dia demi Allah yang jiwaku ada di tangannya adalah setan, ia adalah lalat yang kamu pukul dengan pena.” Wallahu a'lam.

Dari Akamul Marjan fi Ahkamil Jan, Badruddin Abdullah asy-Syibli. (alsofwah/www.taman-langit7.co.cc)

18 Desember 2010

Refleksi Goresan... (Bagi Diri dan Saudaranya)

Bismillahirrahmanirrahim.

Saudaraku..."Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia"(HR. Muslim). Wahai saudaraku.. sampai kapankah engkau akan terus bermaksiat kepada Allah, padahal Allah telah menganugerahkan rezeki dan karunia kepadamu.? Bukankah Allah telah menciptakanmu dengan kedua tangan-Nya. Bukankah Allah telah meniupkan ruh-Nya kepadamu.? Tidakkah engkau mengetahui apa yang diperbuat-Nya terhadap orang yang menaati-Nya dan apa hukuman-Nya terhadap orang yang mendurhakai-Nya.? Tidakkah engkau malu karena ingat kepada-Nya di saat engkau susah tetapi lupa di saat enkau senang.?

Mata hatimu telah dibutakan oleh hawa nafsu. Katakanlah kepada-Nya, dengan apakah engkau melihat-Nya.? Begitulah orang yang tidak tergugah oleh nasihat.

Sampai kapankah kemalasan ini akan berlangsung.? Jika engkau bertobat atas dosamu, niscaya Allah akan memberi keselamatan. Tinggalkanlah negeri yang be-kejernihan, ke-keruhan dan bercita angan-angan.

Kau tukar hubungan dengan-Nya dengan kehinaan, padahal tidak ada yang kedua disamping-Nya(al Ahad). Apakah jawabanmu saat seluruh anggota badan menjadi saksi atas apa yang kau dengar dan kau lihat.

"Pada hari ketika diri melihat segala kebajikan yang telah dilakukannya dihadapkan, begitu juga keburukan yang telah dikerjakannya"(QS.al Imran : 30)

Wahai saudaraku.., bertobatlah kepada Allah dan tinggalkanlah kesesatanmu, semoga Allah menghilangkan penderitaanmu, menyembuhkan penyakitmu, dan mengampuni segala dosamu dengan kemurahan-Nya, dengan selalu terikat akan syari'at-Nya. dan berpegang teguh kepada kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya.

Wahai saudaraku.., hadapkanlah dirimu kepada Allah serta berpalinglah dari kesesatan dan hawa nafsu mu. Isilah sisa hidupmu dengan berbagai ketaatan dan bersabarlah dalam memerangi syahwat. Pehijrah sejati adalah orang yang meninggalkan kejahatan dan dosa.

Wahai saudaraku... kalian adalah umat terbaik yang diturunkan Allah bagi manusia, kalian adalah umat yang dimuliakan Allah dengan Islam oleh karena itu sandarkan segala sesuatu kepada apa2 yang Allah tetapkan. Dengan menjalankan syari'at-Nya secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.

Ya Allah.., aku hamba-Mu yang lemah
Kuhampiri diri-Mu sambil mengharap yang ada pada-Mu
Kudatangi diri-Mu seraya mengeluhkan segala dosa ku pada-Mu
Karena segala sesuatu hanya layak dikeluhkan kepada-Mu ya Allah
Karena itu, karuniakanlah ampunan-Mu wahai Tuhan ku
Karna Engkau sebaik-baik tempat bersandar.
Wallahua'alam.

C. Supriadi Ats Tsauriy



2 Desember 2010

Prakata PENA

أجمل الكلمات هي "الدعوة" وسائل الاعلام الجيد هو "القرآن" والجمباز وصحية هو "الصلاة" هو غذاء مثالي الصوم" نظافة منعشة هو "ودو" هو رحلة جميلة "الحاج" خيال تعي جيدا "الخطيئة والتوبة

Perkataan yang indah adalah "Dakwah"
Media yang baik adalah "Alqur'an"
Senam yang sehat adalah "Sholat"
Diet yang sempurna adalah "Puasa"
Kebersihan yang menyegarkan adalah "Wudhu"
Perjalanan yang indah adalah "Haji"
Khayalan yang baik adalah ingat akan "Dosa dan Taubat"

Sebaris langkah seakan terbaca dalam sebuah realita yang penuh akan dusta, gemerlap kilau dunia palsu berslimut dengan tipu daya, merayu para Pengemban perubahan peradaban demi menyelamatkan kedudukan. ketika keindahan fatamorgana di tawarkan membungkus racun-racun yang di hidangkan. Sungguh munculnya kerusakan(fasad) yang ada akibat tatanan peradaban yang hina, yang mengemban ideologi sampah(kapitalis), yang membuat hidup tak terarah bagai binatang tak berakal yang memakan sampah.

Dengar.. dengarkanlah hembusan angin dikala malam, banyak suara harapan yang berterbangan dilangit nan tenang. tapi terkadang banyak yang lupa akan hal itu, karena tak sadar akan ke fasadan yang ada dihadapan. padahal Allah Swt telah mengingatkan dalam firman-Nya.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Berbagai hiruk pikuk kehidupan yang seharusnya membuat kita peka akan  hal itu, karena deretannya begitu sangat jelas dan sangat nyata, orang mengais hidup tanpa tertata, berjalan bagai air bah tanpa batas tak terarah yang hanya mengurusi isi perutnya saja, miris demikian adanya.

Sebuah kata yang dirangkai dan di tata nan sedehana, dengan mengunakan berbagai gaya bahasa yang ada seakan tiada guna tanpa makna bila tanpa rasa dan asa. Namun itu semua hanyalah prakata pena.

C. Supriadi Ats Tsauriy.

13 November 2010

TUAN SANG PELAYAN

Rasulullah Saw. bersabda : "Hampir tiba dimana umat-umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rasul menjwab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih dilautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati kalian al-wahn. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian"(HR. Abu Daud No. 4297, Ahmad 5/278, Abu Nu'aim dalam al-Hilyah 1/182, hadits ini shahih)--Syarah

Pena ku bergetar ketika membaca sabda beliau diatas; terurai dalam tangisan malam merindu akan asa yang di genggam.
Barisan nada-nada di taman tak bertuan, membungkam realitas yang penuh dusta tak berakal, buih - biuh dilautan menjadi cermin bagi tuan sang pelayan, semua tersimpan dalam ingatan yang tak pernah berguguran, sebuah masa akan mencatat... menjadi pengingat dalam goresan perjalanan pena sang petarung, yang mencampakannya dalam kehinaan yang tak terkira dalam sebuah masa.

Ingat lah wahai para penguasa penjilat... ketika permadani sudah tergulung, ketika singasana hancur di terpa angin sang gurun. Disana kau tak bisa beretorika, disana kau tak bisa menebar pesona/kharisma, disana kau tak bisa mencari muka. Wahai pengusa apakah kau tuli dengan jeritan-jeritan rakyat yang tak berdaya, apakah kau buta tak melihat realita yang ada, apakah kau lumpuh dengan kerakusan hawa nafsu mu wahai penguasa.

Wahai penguasa sang pelayan... apakah kau senang dengan apa yang kau lakukan, ketika kau bertemu sang tuan(penjajah) dengan memuliakannya dan mencium kakinya, mendampinginya menebar racun-racun Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, di kalangan generasi masa depan, dan mengijinkan menginjakan kakinya di tempat suci(masjid) kami.

Sungguh tuan sang pelayan... Tuan(penjajah) pengusung ideology kapitalis yang kau agungkan sebentar lagi akan hancur dengan racun-racunnya sendiri, dengan kecacatan sistem demokrasi yang di bawanya sejak lahir. Sejarah akan mencatatnya dan mencampakan ideology sampah(kapitalis)nya itu kelembah kehinaan.

Tunggulah wahai tuan sang pelayan... yang tak amanah, sebentar lagi akan ada sebuah peradaban yang mulia yang di pimpin oleh pemimpin yang amanah yang menjalankan syariat Tuhan nya yang berdasarkan kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yang pernah ada memimpin peradaban manusia sebelumnya. Dan akan kembali memimpin peradaban manusia dengan Syariah-Nya, dan mengembalikan posisi umatnya sebagai khairu ummah, yang berpegang teguh pada akidahnya yang Haq, yang hidup dalam tatanan aturan/hukum Allah Swt sebagai al Khaliq, al Mudabbir yang telah menciptakan alam, manusia dan kehidupan. Dengan sistem pemerintahan yang di contohkan oleh Rasul-Nya dan para Shahabatnya yakni sistem Khilafah Islamiyyah.  Allahu akbar.! Ats Tsauriy


5 November 2010

HIKMAH ALI BIN ABI THALIB

Ini adalah ungkapan-ungkapan Ali yang sangat bangus dan patut dicatat dengan tinta emas dalam lembaran-lembaran hati. 

Ali berkata, “Manusia itu tiga, seorang ulama rabbani, muta’allim untuk mencari jalan keselamatan dan orang awam yang tidak berilmu yang mengikuti setiap seruan, bergoyang ke arah angin bertiup, tidak memiliki cahaya ilmu dan tidak berpegang kepada pilar yang kokoh. 

Ilmu lebih baik daripada harta, ilmu menjagamu sedangkan kamu menjaga harta, ilmu bertambah dengan diamalkan sedangkan harta habis jika dibelanjakan, cinta ulama adalah agama yang akan dibalas. 

Ilmu memberikan ketaatan kepada ulama dalam hidupnya, memberikan perbincangan baik setelah kematiannya, sementara manfaat harta akan lenyap dengan lenyapnya harta. 

Para penjaga harta telah mati sekali pun mereka masih hidup, para ulama tetap hidup selama zaman masih berlangsung, jasad mereka tidak ada namun kata-kata baik mereka tetap tertanam di dalam hati.” 

Ali semoga Allah meridhainya berkata, “Ingatlah lima perkara dariku, seandainya kalian memacu unta untuk mendapatkannya niscaya kalian tidak mendapatkannya, niscaya untamu kelelahan sebelum kamu mendapatkannya. 

Hendaknya seorang hamba tidak berharap kecuali Rabbnya, tidak takut kecuali dosanya, hendaknya seorang yang bodoh tidak malu untuk bertanya tentang apa yang tidak diketahuinya, hendaknya seorang ulama tidak malu berkata, ‘Saya tidak tahu.’ Jika dia ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Kesabaran dalam iman ibarat kepala bagi jasad manusia, tidak ada iman bagi siapa yang tidak memiliki kesabaran.” 

Ali semoga Allah meridhainya berkata, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjangnya angan-angan. Yang pertama menghalang-halangi kebenaran, yang kedua melalaikan akhirat. Ketahuilah bahwa dunia telah pergi sambil berpaling, ketahuilah bahwa akhirat telah datang menghadap, masing-masing dari keduanya mempunyai anak-anak, jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia, hari ini adalah amal bukan hisab dan esok adalah hisab bukan amal.” 

Dia semoga Allah meridhainya berkata, “Jadilah kalian sumber-sumber ilmu, tambang-tambang hikmah, lampu-lampu malam hari, berpakaian sederhana, berhati baru, kalian dikenal di kalangan penduduk langit, tidak dikenal di kalangan penduduk bumi dan kalian disebut-sebut di sisi Tuhan kalian. 

Ketahuilah bahwa orang yang benar-benar fakih adalah orang yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah dan tidak membuat mereka aman dari ziksa Allah, tidak memberikan keringanan bagi mereka dalam bermaksiat kepada Allah, tidak meninggalkan al-Qur`an karena membencinya dan menggantinya dengan selainnya, tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak didasari ilmu, tidak ada kebaikan bagi ilmu yang tidak berisi pemahaman padanya, tidak ada kebaikan dalam qiraat yang tidak ada tadabbur padanya. 

Bukan kebaikan dengan banyaknya harta dan anakmu, akan tetapi kebaikan adalah dengan banyaknya ilmumu, besarnya kebijaksanaanmu dan kamu mengalahkan orang-orang dalam beribadah kepada Tuhanmu, jika kamu berbuat baik maka kamu memuji Allah, jika kamu berbuat sebaliknya maka kamu meminta ampunan kepadaNya. 

Tidak ada kebaikan bagi dunia kecuali untuk satu dari dua orang, seorang laki-laki melakukan dosa-dosa lalu dia memperbaikinya dengan taubat dan seorang laki-laki yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan beramal meninggikan derajatnya.” 

Dari Ashaburrasul, Abu Ammar Mahmud al-Mishri. (alsofwah.or.id)

22 Oktober 2010

Goresan Langit

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan tentang segala sesuatu dengan Kehalusan Kuasa-Nya dan Keindahan Kreasi-Nya. Dia memperindah ciptaan-Nya dan menghadirkan seluruh entitas dalam bentuk yang tidak pernah ada sebelumnya. Tidak ada sekutu bagi-nya dalam penciptaan. Dia menyusun dan menggabungkan subtansi 'halus' dan subtansi 'kasar' agar menjadi bukti keberadaan dan keesaan sang pencipta. Kaum arif berdiri dengan busana kelembutan dibawah kubah tobat dan wara. Hati mereka tidak memiliki tempat di lapangan kesombongan meskipun perlindungan-Nya bagai tanah lapang luas. Bila ingin meraih keinginan sendiri, keagungan-Nya memaksa mereka kembali ke padang takut dan cemas. Kala hendak pergi meninggalkan pintu-Nya, rantai-rantai gaib menghalangi mereka sehingga tidak bisa kemana-mana.

Diantara mereka ada yang menyembunyikan rasa cinta
Ia menjaga keluhan lisan dan memutusnya
Diantara mereka ada yang berterus terang
Bila dicela ''tak usahlah mencelanya"' ia bilang
Bukankah hatiku memang tempat ujian-Nya
Bagaimanakah mungkin ia tersembunyi padahal sudah nyata?
Dimanakah para pencinta dan yang mencitai mereka
Dimanakah yang mencerai dan menyatukan tangisan menghiasi mata mereka
Sungguh indah mata cinta saat menitikan air mata
Mereka selalu terjaga, dan itulah keinginan hamba, kala yang lain tertidur lelap menutup mata
Di pintu itu mereka tumpahkan ratapan
Sebuah tangisan yang berguna jika tanpa kemunafikan
Air mata itu melindungi mereka"Tuk memberi syafaat"

Tatkala mereka terombang-ambing diantara rasa takut dan cemas serta mabuk akibat minumanan keputusasaan dan harapan, muncul dan bersinarlah bulan kebahagiaan dari cakrawala Iradah direlung-relung hati mereka Busana sutra kedamaian dan kegembiraan dikenakan dan dilekatkan  kepada mereka. Pada setiap busana terpampang dua panji iman. Tidak ada manusia yang berhiaskan panji itu selain insan mulia.
Sinar terang membawa sebuah cerita dalam kehidupan, menghamparkan gunung-gunung yang tak tertancapkan, tirai-tirai dibalik pesona yang tinggi yang tak tergantikan, yang tak pernah luput dari Penglihatan,'

Wallahua'lam.

C.Supriadi Ats Tsauriy

4 Oktober 2010

Jasad Itu Tak Berubah

Di antara manusia ada hamba-hamba Allah yang mulia, mereka ini meraih pertolongan, penjagaan dan penghormatan dari Allah di kehidupan dunia dan setelah kematian. Para syuhada termasuk dalam deretan orang-orang mulia di sisi Allah, karena mereka rela mengorbankan jiwa-raga mereka demi membela agama dan ajaranNya, maka Allah berkenan memberi mereka balasan-balasan mulia, yang salah satunya adalah menjaga jasad mereka di alam kubur sehingga ia tetap utuh seperti sediakala dan tidak berubah. Hamzah bin Abdul Mutthalib adalah salah satu dari mereka.

Dari Jabir bin Abdullah berkata, ketika Muawiyah hendak mengalirkan mata airnya yang terletak di Uhud, orang-orangnya menulis kepadanya, “Kami tidak mungkin mengalirkannya kecuali di atas jasad kubur para syuhada`. Maka Muawiyah menjawab, “Pindahkan mereka.” Jabir berkata, aku melihat mereka memanggul jasad-jasad di atas pundak-pundak mereka, seolah-olah para syuhada` tersebut adalah orang-orang yang sedang tidur, sebuah pacul mengenai ujung kaki Hamzah bin Abdul Mutthalib, maka ia mengucurkan darah, sepertinya dia baru wafat saat itu.

Jarak antara peristiwa Uhud di mana Hamzah gugur padanya dengan kejadian Mu'awiyah di atas kurang lebih empat puluh tahun, selama itu jasad mulia Hamzah tetap utuh seperti dia baru meninggal di hari itu. Bahkan lebih jauh dari itu adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Salim Baduwailan dalam Mausu’ah min Qashash Salaf, di mana dia berkata,

Dr. Thariq ss-Suwaidan dalam kasetnya, Qisshatun Nihayah yang dinukil secara langsung dari yang mulia Syaikh Mahmud ash-Shawaf menyebutkan peristiwa besar yang dialami oleh sebagian ulama dalam penguburan ulang terhadap sebagian sahabat yang gugur syahid di perang Uhud. Mereka menyaksikan para sahabat setelah 1400 tahun berlalu, jasad mereka seperti sedia kala tanpa perubahan, tanpa pembusukan dengan tetap terbungkus kafannya.

Syaikh Mahmud ash-Shawaf telah menyampaikan kepada kami bahwa dia adalah salah seorang yang diundang dari kalangan ulama-ulama besar untuk mengulang pemakaman para sahabat yang gugur syahid di perang Uhud di komplek kuburan syuhada Uhud. Kuburan yang terkenal, karena diterjang banjir maka sebagian jasadnya menonjol ke permukaan. Maka ulama-ulama besar diundang untuk mengubur ulang para sahabat tersebut.

Syaikh Mahmud as-Shawaf menyampaikan kepada kami bahwa dia hadir sendiri. Beliau berkata, "Di antara orang yang aku kuburkan adalah Hamzah." Beliau berkata, "Badannya besar, kedua telinganya dan hidungnya terpotong, perutnya terbelah dia meletakkan tangananya di perutnya. Manakala kami menggerakkannya dan mengangkat tangannya, darahnya mengalir. Aku menguburkannya bersama sahabat-sahabat Nabi yang lain yang gugur syahid di Uhud."

Dr. Thariq as-Suwaidan berkata, "Ini adalah perkara yang terbukti secara mutawatir dan dengan mata kepala. Semoga Allah menyampaikan kita semua derajat para syuhada. Syaikh Mahmud telah menyampaikan kepada kami tentang aroma harum miski yang berasal darinya ketika darahnya mengalir.” Yakni dari jasad Hamzah.

Subhanallah, setelah 1400 tahun lebih, betapa alangkah besar kodratMu ya Allah. Keutamaan dan kemuliaan agung, Allah telah memberikannya kepada para syuhada. Jika kemuliaan untuk jasadnya yang terpendam di perut bumi adalah demikian, lalu bagaimana dengan kemuliaannya di Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

(alsofwah.or.id/12/08/10)

30 September 2010

Aku Ingin Membalas Kebaikanmu

Pasukan Ahzab pulang membawa kegagalan, kembali ke negeri masing-masing menyeret kerugian, Allah telah mencukupkan Rasul-Nya dan kaum muslimin sehingga mereka tidak perlu terjun di perang terbuka secara langsung, saat Rasulullah saw hendak meletakkan senjata dan melepaskan perlengkapan perang, Jibril datang dan memerintahkannya untuk segera bergegas menuju Bani Quraizhah, menuntaskan urusan dengan mereka atas pengkhianatan mereka terhadap kaum muslimin, di mana mereka ikut berkonspirasi dengan pasukan Ahzab untuk membokong kaum muslimin dari belakang, namun Allah menggagalkan makar mereka dan mengembalikannya ke leher mereka.

Bani Quraizhah ditaklukkan, keputusan atas mereka ditetapkan melalui Saad bin Muadz atas persetujuan mereka yang menetapkan: Harta mereka dirampas, laki-laki dewasa mereka dihukum mati dan anak-anak serta wanita mereka ditawan.

Pada hari tercatat sebuah kisah unik dengan salah seorang Yahudi yang tertawan dan divonis dengan hukuman mati, az-Zubair bin Batha dengan seorang sahabat mulia, Tsabit bin Qais.

Kisahnya, az-Zubair ini telah berbuat baik kepada Tsabit bin Qais bin Syammas di masa jahiliyah pada perang Bu’ats, az-Zubair menangkap Tsabit dan memangkas ubun-ubunnya kemudian membiarkannya pergi.

Di hari Quraizhah Tsabit datang sementara az-Zubair telah menjadi seorang laki-laki tua. Tsabit berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman –kun-yah az-Zubair- apakah engkau masih mengenalku?” Az-Zubair menjawab, “Apakah orang sepertiku melupakan orang sepertimu?” Tsabit berkata, “Aku ingin membalas kebaikanmu kepadaku pada hari Bu’ats.” Az-Zubair menjawab, “Orang baik membalas orang baik wahai Abu Muhammad.” Kun-yah Tsabit.

Selanjutnya Tsabit bin Qais datang kepada Nabi saw, dia berkata, “Ya Rasulullah, berikanlah az-Zubair kepadaku, karena dia pernah berbuat baik kepadaku, aku ingin membalas kebaikannya.” Maka Rasulullah saw menjawab, “Dia milikmu.” Maka Tsabit menemui az-Zubair, Tsabit kepadanya, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah memberikan darahmu kepadaku maka aku memberikannya kepadamu.” Az-Zubair menjawab, “Seorang laki-laki tua, tidak mempunyai keluarga dan anak, apa yang bisa dia lakukan dalam hidupnya?”

Lalu Tsabit datang lagi kepada Rasulullah saw dan meminta keluarga az-Zubair dan anaknya kepada beliau, maka Nabi saw bersabda, “Mereka untukmu.” Lalu Tsabit menemui az-Zubair, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah memberikan keluarga dan anakmu kepadaku maka aku memberikan mereka kepadamu.” Az-Zubair berkata, “Sebuah keluarga Hejaz yang tidak berharta, bagaimana mereka bisa bertahan hidup?”

Kembali Tsabit menemui Rasulullah saw, dia berkata, “Berikan harta az-Zubair kepadaku.” Rasulullah saw menjawab, “Ia untukmu.” Maka Tsabit datang kepada az-Zubair dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah memberikan hartamu kepadaku maka aku memberikannya kepadamu.”

Az-Zubair bin Batha menjawab, “Wahai Tsabit, bagaimana dengan seorang laki-laki yang wajahnya seperti cermin yang elok yang darinya gadis-gadis kampung terlihat, Kaab bin Asad, pemimpin orang-orang Yahudi?” Tsabit menjawab, “Dibunuh bersama orang-orang yang dibunuh.” Az-Zubair bertanya, “Bagaimana dengan pemuka perkotaan dan pedesaan Huyay bin Akhthab?” Tsabit menjawab, “Dibunuh.” Az-Zubair bertanya lagi, “Bagaimana dengan ksatria kami jika kami menyerang dan pelindung kami jika kami menyerbu Azzal bin Syamuel?” Tsabit menjawab, “Dibunuh.” Az-Zubair bertanya, “Bagaimana dengan sepasang majlis?” Maksudnya adalah Bani Kaab bin Quraizhah dan Bani Amru bin Quraizhah. Tsabit menjawab, “Mereka telah dibunuh, mereka sudah diselesaikan. Semoga Allah Azza wa Jalla memberimu hidayah.”
Maka az-Zubair berkata kepada Tsabit, “Aku memohon dengan nama Allah dan dengan jasa baikku atasmu wahai Tsabit agar kamu menyusulkanku dengan kawan-kawanku, demi Allah tidak ada lagi kebaikan bagi kehidupan sesudah mereka, aku tidak sabar karena Allah sepemintalan timba air sehingga aku bertemu dengan orang-orang yang aku cintai.”

Tsabit menyampaikan kata-kata az-Zubair kepada Rasulullah saw, maka Rasulullah saw memerintahkan agar az-Zubair dihadirkan maka Tsabit menghadirkannya lalu memenggal lehernya.

Ucapan az-Zubair bin Batha sampai ke telinga Abu Bakar, maka Abu Bakar berkata, “Dia bertemu dengan mereka demi Allah di dalam neraka Jahanam kekal di dalamnya selama-lamanya.” Tarikh ath-Thabari 2/102.
 
(alsofwah.or.id/06/08/10)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites