Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

Tampilkan postingan dengan label Terorisme?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terorisme?. Tampilkan semua postingan

21 November 2010

Menguak Kebrutalan Densus 88 di Medan

Jakarta. Detasement Khusus 88 (Densus 88) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) disinyalir telah melakukan berbagai kesalahan dalam penanganan perampokan Bank CIMB Niaga Medan yang terjadi pada 18 Agustus lalu. Hal ini terungkap dalam acara Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ke-24 dengan tema Mengungkap Investigasi  Kasus Medan, Kebrutalan Densus 88, Kamis (18/11) siang di Wisma Antara, Jakarta.
“Telah terjadi salah gerebek, salah tangkap, salah tembak, dan salah opini.” simpul Harits Abu Ulya, Ketua Tim Investigator Kasus Medan,  dihadapan sekitar 150 peserta yang hadir pada acara talkshow yang  diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebulan sekali itu.
Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan penelusuran jejak Densus 88 dalam penanganan kasus tersebut.  Abu Ulya bersama timnya selama sejak 13-23 Oktober 2010 menelusuri Medan Kota; Belawan; Hamparan Perak, Deli Serdang; Dolok Masihul, Serdang Bedagai; Tanjung Balai; Pematang Siantar; Binjai; dan Tebing.
Penelusuran jejak Densus 88 selama sepuluh hari itu dilakukan untuk menggali informasi dan data dari keluarga korban tewas tersangka ‘teroris’; korban hidup yang disangka ‘teroris’; Polisi Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut); Tim Pengacara Muslim (TPM) Medan; dan mengecek kebenaran opini yang diangkat media massa.

Gegabah dan Brutal
Menurut tim investigator indipenden yang dipimpin Abu Ulya ini, Densus 88 telah bertindak gegabah dan brutal. Setidaknya itu dipamerkan di lima lokasi di Sumatera Utara sehingga menimbulkan banyak korban salah gerebek, salah tangkap, dan salah tembak.
Pertama, penyerangan di rumah Khairul Ghazali di Tanjung Balai seperti kesaksian Kartini, istri Khairal Ghazali. Khairul Ghazali ditangkap dengan brutal di saat sedang shalat. Dani dan Deni ditembak begitu saja, padahal belum tentu mereka terlibat. Deni alias Yuki bahkan bisa dibuktikan tengah berada di Solo pada saat perampokan CIMB tanggal 18 Agustus terjadi. Semua tindakan brutal ini terjadi di depan anak dan istri Khairul Ghazali. Densus 88 menyebut bahwa Khairul Ghazali menggunakan tameng hidup padahal tidak.
Kedua, di rumah Ridwan di Hamparan Perak seperti kesaksian Mala istri Ridwan alias Iwan. Densus 88 menggerebek rumahnya tanpa prosedur yang benar dan memporakporandakan isi rumah. Densus 88 menembak Ridwan padahal ia tidak terlibat dalam perampokan CIMB Niaga. Penembakan tersebut dilakukan di hadapan Faruk (6 tahun), anak Ridwan, yang melahirkan trauma mendalam hingga saat ini. Densus 88 menginterogasi keluarga Ridwan yakni istri Ridwan dan istri Syafrizal selama berhari-hari sehingga menimbulkan tekanan psikologis yang berat.
Ketiga, di rumah Johnson di Hamparan Perak seperti yang diinformasikan sumber terpercaya di Polda Sumut. Johnson termasuk korban salah tembak yang dilakukan oleh Densus 88. Densus 88 tidak pernah melakukan klarifikasi atau bahkan permintaan maaf serta rehabilitasi terhadap kekeliruan ini seolah kekeliruan ini adalah hal biasa seperti halnya terjadi pada kasus salah tembak di Cawang, Jakarta.
Keempat, di rumah Marwan di Hamparan Perak, berdasarkan riwayat Dzulhairi Sinaga, kuasa hukum Kasman Hadiono. Densus 88 menangkap Kasman Hadiono secara brutal padahal Kasman tidak tahu-menahu tentang apa yang sedang terjadi. Dia datang ke rumah Marwan sekadar untuk menemani adiknya yang adalah istri Marwan untuk menerima tamu. Saat itulah ia ditangkap Densus 88. Pada saat Kasman datang, di rumah Marwan sudah ada dua korban tewan dieksekusi oleh Densus 88 hanya karena diduga terlibat dalam kasus CIMB Niaga. Dalam masa penangkapan, Kasman diperlakukan secara tidak manusiawi. Matanya dilakban selama 4 hari dan terus diinterograsi dengan tekanan. Sekarang Kasman sudah dilepas tapi terus diawasi.
Kelima,di Belawan seperti kesaksian Zulhaidi Muharram dan Syafrizal Lubis. Keduanya dituduh Densus 88 terlibat dalam penyerangan Mapolsek Hamparan Perak. Keduanya dibawa ke KP3 Belawan, dinterogasi dan dipaksa menandatangani BAP dengan status tersangka yang terlibat penyerangan Mapolsek Hamparan Perak. Setelah tidak terbukti, status keduanya turun menjadi saksi dan wajib lapor setiap hari Senin. Zulhaidi Muharram dibawa ke Gunung  Sibayak dan dipaksa mengaku bahwa kegiatan di Gunung Sibayak adalah pelatihan teroris untuk melawan polisi padahal itu hanya kegiatan kemping biasa.
Bukan hanya kesaksian, lanjut Abu Ulya, hasil otopsi mayat para tersangka pun merupakan bukti tidak terbantahkan yang menunjukkan kebrutalan  Densus 88 seperti pengakuan Amar Sighn, dokter forensik RS Bhayangkara, Medan. Menurut Amar Sighn para korban tersebut pada umumnya hancur tulang bagian dada dan punggungnya. Artinya, target dari penembakan itu bukan untuk melumpuhkan tetapi membunuh terduga.

Salah Opini
Di samping salah grebek, salah tangkap, dan salah tembak seperti yang disebutkan di atas. Temuan lainnya membuktikan adanya pula ada kesengajaan untuk menyebarkan opini sesat melalui media massa, khususnya melalui salah satu stasiun televisi tertentu.
Berdasarkan hasil temuannya, Abu Ulya pun membeberkan beberapa kesalahan tersebut.Pertama, kabar adanya kontak senjata dan pagar hidup pada penyerangan di rumah Khairul Ghazali. Padahal faktanya, tidak ada kontak senjata dan tidak ada pagar hidup pada saat penggerebekan di Tanjung Balai tersebut. Densus 88 bertindak tanpa perlawanan karena korban sedang shalat Maghrib. Serta tidak ada satu senjata api pun di rumah tersebut, hingga Densus 88 datang.
Kedua, kabar bahwa Dzulhaidi Muharram adalah  teroris yang berlatih di Gunung Sibayak dengan target Markas Polisi Sektor Hamparan Perak.  Faktanya kegiatan di Gunung Sibayak hanyalah kemping biasa, tidak ada maksud untuk terorisme. Kepada Abu Ulya, Zulhaidi Muharram menyatakan dirinya dipaksa untuk mengakui bahwa itu adalah pelatihan militer.
Ketiga, perampok CIMB adalah kelompok teroris. Padahal menurut Kapolda Sumut, IrjenOegroseno perampokan CIMB adalah kelompok bersenjata, tidak ada hubungan dengan terorisme. Pernyataan tersebut memang relevan dengan temuan Abu Ulya di lapangan.  “Motif ekonomi jauh lebih dominan di banding motif lainnya,” kuak Abu Ulya.
Lantas siapa yang membuat opini palsu tersebut? Abu Ulya menjelaskan ada dua kemungkinan. Pertama, dibuat sendiri oleh media yang bersangkutan. “Ini mustahil karena media tidak punya kepentingan dan kapabilitas untuk melakukan itu!”  sanggahnya.
Kedua, bersumber dari pihak luar, dalam hal ini Densus 88. Ini kemungkinan yang lebih logis. Hal itu pula yang diakui oleh media. “Artinya, secara sengaja Densus 88, melalui media, untuk maksud tertentu telah menciptakan opini tertentu yang salah!” ungkap Abu Ulya.
Berdasarkan hasil investigasi tersebut dan kejadian yang sepola diberbagai daerah yang dilakukan Densus 88 seperti di Jakarta, Pamulang, Solo dan lainnya, Abu Ulya memberikan enam rekomendasi. Salah satunya adalah pembubaran Densus 88. “Bubarkan Densus 88!” pekiknya.[] (joko prasetyo/mediaumat.com)

12 Oktober 2010

Terorisme, Konspirasi Global !

Aksi penumpasan terorisme yang gencar dilakukan Densus 88 belakang ini menuai kritik dan kecaman dari berbagai kalangan. Aktivis hak asasi manusia dari Pusat Studi HAM Universitas Indonesia Yogyakarta, Eko Prasetyo menyinggung indikasi adanya pelanggaran HAM yang dilakukan Densus 88.

Penulis prolifik lebih dari 20 buku ini mengungkapkan tiga faktor utama yang menyebabkan Densus 88 cenderung melanggar hak asasi manusia dalam aksinya. “Pertama, Densus diberi kewenangan hukum yang besar sehingga bisa leluasa melakukan aksinya. Kedua, Dukungan publik terutama kalangan menengah yang sangat kuat dan tidak diimbangi dengan informasi media yang berimbang. Ketiga, penanganan kasus terorisme di Indonesia mencontoh Singapura, Amerika dan negara lain yang mengedepankan kekerasan,” tutur penulis buku, “Orang Miskin Dilarang Sekolah” “ini.

Di bagian lain statemennya, inisiator Pusham UII ini menyinggung stigmatisasi intensif yang dilakukan media massa mengenai isu terorisme, seraya menegaskan, Media massa Indonesia cenderung menampilkan informasi tunggal yang timpang.

Terkait pengaruh hegemoni global tehadap aksi Densus 88, penulis buku Assalamulaikum, Islam Agama Perlawanan” ini menuturkan, “Aksi Densus 88 adalah operasi yang dikendalikan oleh oleh kapitalisme global, yang lebih bertujuan melakukan konsolidasi modal lebih besar.”(IRIB, 10/10/2010) 


30 September 2010

DENSUS 88 DAN PERANG MELAWAN ISLAM

Isu Densus 88 akan diinvestigasi oleh Australia mencuat. Gara-garanya Australia tidak terima atas perlakuan Densus terhadap separatis RMS. Autralia marah, sebab sebagaimana diakui oleh Kabidpenum Mabes Polri Kombes (pol) Marwoto Suto, negara itu memang mempunyai andil terhadap Densus dengan memberikan sejumlah paket bantuan untuk palatihan. Tentu saja ini adalah pengakuan terbaru dari pihak kepolisian. Selain Australia, penyandang dana Densus 88 adalah Amerika Serikat.

Untuk sekedar mengingatkan pembaca, kami  menurunkan kembali tulisan jurnalis senior yang juga mantan Redpel Tempo, Amran Nasution, tentang Densus 88 dan Perang Melawan Islam yang beberapa tahun lalu dimuat di Tabloid Suara Islam. Selamat membaca!.
(redaksi suara islam.com)

Detasemen Khusus (Densus 88) Anti-Teror Polri ternyata dibentuk atas biaya sepenuhnya dari pemerintah Amerika Serikat. Majalah “Far Eastern Ekonomic Review“ (FEER), edisi 13 November 2003, menulis bahwa pemerintahan Bush mengeluarkan biaya 16 juta dolar (Rp 150 Milyar ) Untuk membentuk detasemen yang punya 400 Anggota itu. Hal yang sama ditulis Koran “ Jakarta Post”, 6 September 2004, dan “Warta Kota”, 12 November 2003.

Laporan Congressional Research Service (CRS), Lembaga riset di bawah The Library Of Congress pada tahun 2005, memaparkan dengan rinci dana yang di keluarkan pemerintah Bush untuk Indonesia, termasuk untuk polri dan pasukan Anti – terornya. Misalnya, pada tahun 2004, Amerika Serikat memberikan bantuan $US. 5.778.000 tahun 2005 sebesar $ US 5.300.000.
   
Kenapa bantuan rutin diberikan? Karena Indonesia dianggap berjasa di dalam perang melawan teror. “Kontribusi Indonesia untuk “global war on terror “ adalah kepentingan vital Amerika Serikat,“ tulis laporan itu .

Melihat fakta dan data di atas, muncul pertanyaan : Bolehkah Polisi Kita bekerja sesuai dengan keinginan asing? pertanyaan kedua: bila itu benar, tidakkah itu bertentangan dengan UUD 1945?. Pertanyaan-pertanyaan itu bertambah penting, karena sekarang sudah terbukti, “ War on terror” adalah “ War on Islam” atau perang untuk menghancurkan Islam.

GLOBAL WAR ON ISLAM
Perang melawan teror diproklamirkan Presiden George W. Bush 20 September 2001.  “Perang melawan teror tak akan berhenti sampai semua group teroris dunia ditemukan, dihentikan dan dikalahkan,” kata Bush. Pada kesempatan itu, Bush tak lupa menguraikan bahwa perang melawan teror adalah “crusade” Alias perang salib. Itulah perang tentara Islam dengan Kristen 1000 tahun lalu, untuk memperebutkan Yerusalem.

Proklamasi perang itu diikuti pengarahan pesawat tempur membombardir Afganistan, Oktober 2001, dengan dalih untuk menghancurkan teroris Al-Qaedah, Pemimpinya Usama Bin Laden , serta Rezim Taliban yang melindunginya.

Tak terhitung korban sipil yang jatuh. Afghanistan kemudian dijajah Amerika Serikat dan sekutunya. Sekitar 2.1 Juta warganya jadi Pengungsi ke Iran atau Negara lain. “War On Teroris” dilanjutkan dengan menyerang Irak pada 2003.

Untuk melengkapi infrastrukturnya dalam perang ini, Bush mendirikan penjara di Teluk Guantanamo, Kuba, dan penjara rahasia di Eropa dan Asia. Waktu menyerang Afghanistan, Bush berdalih untuk memburu Al-Qaeda. Lalu menyerang Irak karena Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Ternyata semua itu bohong. Senjata itu tak pernah ditemukan.

Di Palestina, Amerika dan sekutunya Israel mengadu Fatah dengan Hamas, Sunni diadu dengan Syiah di Lebanon dan Irak.  Somalia, Negeri Islam yang amat miskin, di obrak-abrik. Survei yang dilakukan Zogby International, untuk Georgetown University, guna mengetahui sikap masyarakat muslim Amerika Serikat pada 2004, menunjukkan, mayoritas (38%) responden percaya bahwa sebenarnya “War on Terror “ itu adalah “ War On Islam”.

Menurut Zahid Buchari, Direktur Survei Zogby International, munculnya persepsi “War On Islam” akibat pernyataan menyerang Islam dari para pendeta pemimpin Kristen Evangelical Amerika Serikat, seperti Pat Robertson, Jerry Palwell (meninggal beberapa bulan lalu), dan Franklin Graham.

Padahal para pendeta itu dekat sekali secara politik dengan Gedung Putih, terutama dengan Presiden Bush. Buku “America Theocracy” (2006) yang ditulis Kevin Phillips, mantan ahli strategi partai Republik, bahkan menyebutkan, kini Partai Republik merupakan partai Kristen Fundamentalis pertama di dalam sejarah Amerika Serikat. Segepok indikator dan bukti ada di dalam buku itu. Dalam konteks ini menjadi jelas kenapa Bush menyamakan “War On Terror” dengan Perang Salib.

Survey oleh WorldPublicOpinion.org yang tadi dikutip di atas – didukung START Concortium dari University Of Maryland, menunjukkan bagaimana sikap umat Islam terhadap politik luar negeri Amerika. Survey dilakukan dengan jajak pendapat mendalam (in-depth poll) di empat Negara berpenduduk mayoritas Islam: Indonesia, Mesir, Maroko, dan Pakistan, dari Desember 2006 sampai Februari 2007.

Hasilnya, Mayoritas responden 4 negara itu, percaya bahwa Amerika Serikat berusaha menghancurkan dan memecah belah dunia Islam. Responden yang berpendapat seperti itu rata-rata 79 % dari mulai Indonesia 73 % sampai Mesir 92 %.

Dalam presentase yang sama besar (rata-rata 79%), Responden berpendapat, Amerika Serikat sedang berusaha menguasai sumber-sumber minyak di Timur Tengah.  Malah dalam jumlah cukup besar (rata-rata 64 %), responden percaya bahwa tujuan Amerika Serikat adalah untuk menyebarkan Kristen di Timur Tengah.

Maka Arab Saudi yang selama ini dikenal dekat dengan Amerika Serikat kini tampak mulai bersikap lain. Koran “USA TODAY”, 1 September 2006, membuat laporan ketika Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi, Sheik Abdul-Aziz Al-Sheik, berkhutbah di Padang Arafah di musim haji 2006, yang dibanjiri lebih dari 2 juta jemaah.

Suara ulama ini biasanya mirip sikap pemerintahannya. Nah, ia mengatakan Umat Islam sekarang sedang menghadapi tantangan yang gawat : dituduh teroris, melanggar hak asasi manusia, dan disuruh merevisi buku teks di sekolahannya “Oh bangsa Muslim, sekarang ada perang terhadap keimanan kita, terhadap budaya kita, dengan dalih palsu memerangi terorisme. Kita harus tabah dan bersatu untuk mempertahankan agama kita. Musuh-musuh Islam ingin mengubah Islam itu dengan nilai-nilai dan penafsirannya, tapi tentara Allah pasti akan menang“ katanya. Terdengar teriakan “amin” membahana di padang gersang

KEBEBASAN JADI DALIH
Majalah mingguan Al Ahram mengangap kecaman Paus Benedict XVI yang menyebutkan Islam disebarkan dengan Pedang, Karikatur Koran Denmark yang melecehkan Rasulullah, berita “ the daily telegraph “ yang menuding nabi, semua adalah bagian dari perang melawan teror .

Bukankah itu kebebasan berekspresi? koran tadi menolaknya. Ditunjukkan bukti, bagaimana sekarang setidaknya 12 negara Eropa menyeret siapa saja ke dalam penjara bila berani mengkritik kebenaran “holocaust“. Pembunuhan orang Yahudi pada Perang Dunia II oleh Jerman. Di mana kebebasan bereksipresi?
Di antara Negara Eropa dimaksud adalah Perancis, Jerman, Italia, Belgia, Austria dan Polandia. Di sana, sekalipun anda peneliti sejarah bergelar doctor, akan dijebloskan ke penjara, bila mengkritik kebenaran “holocaust” ancaman hukumannya tak main-main. Mulai paling ringan, 15 bulan di Swiss sampai terberat 20 tahun penjara di Austria. Dan korbannya sudah banyak .

Di dalam laporan tahunan yang dimuat di Koran Inggris, “The Guardian” 23 Mei 2006, Amnesty International menyerang habis penjara Guantananmo. Amnesty menjulukinya Gulag hari ini (“Gulag Of Today”). Gulag adalah kamp tahanan Uni Soviet untuk lawan politik pemerintah. Sekarang Amerika punya “Gulag of Today”, simbol keangkuhan dan kesewenang-wenangan Negara “Super Power”.

Di sana terdapat hampir 400 tahanan yang ditangkap dari seluruh dunia. Mereka ditahan tanpa jelas tuduhannya, tak bisa ditemui (termasuk oleh pengacara) dan sudah 5 tahun tak dibawa ke pengadilan. Harap catat: semuanya beragama Islam.

Apalagi laporan dari Guantanamo menyebutkan di sana terjadi penyiksaan, penghinaan martabat manusia, serta pelecehan terhadap agama Islam yang luar biasa. Kitab suci Al-Qur’an di masukkan ke dalam kloset. Tujuannya agar tersangka marah dan terpancing buka mulut. Bacalah buku “For God and Country : Faith dan Patriotism Under Fire” tulisan James Yee dan Aimee Molloy (2005)

UNTUK MINYAK DAN ISRAEL

Kenapa Afghanistan dan Irak dihancurkan? kenapa ada “war on terror “? wartawan terkenal Craig Unger dalam bukunya “House of Bush, House of Saud“ (2004) menyederhanakan pilar kebijakan politik Amerika di Timur Tengah, cuma dengan dua kata: minyak dan Israel. Setiap langkah negeri itu, pasti berhubungan dengan minyak. Kalau tidak, dengan Israel, sekutu strategisnya sejak Perang Dunia II.

Oleh karenanya Palestina dan Lebanon harus di pecah-belah. Bila keduanya kuat akan mengancam Israel. Iran dan Syria harus diremukkan sebab selalu mengancam negeri Yahudi itu. Bila Iran sekarang di keroyok dan dipojokkan di Dewan Keamanan PBB dengan dalih pengadaan Uranium, itu cuma alasan yang dibuat-buat. Besok pun, urusan itu bisa diklirkan, asal Iran berbaik-baik dengan Israel. Apalagi kalau minyaknya di serahkan kepada perusahaan Amerika .

Ketika Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeg yang terpilih secara demokratis, menasionalisasikan perusahaan minyak di negerinya, ia segerah dituduh main mata dengan negeri komunis Uni Soviet. Operator CIA pun bergerak.

Operasi itu dipimpin Kermit “kim” Roosevelt, cucu mantan Presiden Teddy Rosevelt. Maka dollar pun ditebar untuk menghasut orang, tapi terutama untuk mendirikan atau membeli koran dan wartawan. Tiba-tiba saja bermunculan banyak koran baru di Teheran, dan dengan galak menyerang Perdana Menteri Mosaddeg.

Orang-orang Kim Roosevelt menggarap para jenderal untuk melakukan kudeta. Seperti tercatat dalam sejarah, aksi CIA itu berhasil. Agustus 1953, huru hara pecah di negeri itu, dan Musaddeg ditumbangkan . Shah Iran yang sudah lari ke Roma, dipanggil pulang, dinobatkan menjadi raja. Bila diamati, apa yang terjadi mirip dengan peristiwa mei 1998 di Indonesia, dengan kasus US$ 26 Juta dari Amerika itu.

Semua ini bukan teori konspirasi,  apa yang terjadi – 47 tahun kemudian – diakui secara terbuka oleh Madeleine Al-bright, Menteri Luar Negeri di masa Presiden Clinton. “Pada 1953, Amerika memainkan peran yang signifikan, untuk menjatuhkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddeg yang popular,“ kata Albright dalam suatu acara di Hotel Omni Shoreham, Washington, 17 Maret 2000 (Kenneth M.Pollack, “ The Persian Puzzle”,2004)

Kisah seperti inilah sesungguhnya yang terjadi di balik “War on Terror”, bisa di baca buku “Failed States”, dan lebih detil di dalam “America Theocracy”. Penyerbuan terhadap Afghanistan dan Irak sudah di rencanakan sebelum terjadi serangan terror 11 September. Keduanya karena alasannya minyak.

Pertanyaanya sekarang, apakah polisi kita harus ikut menjadi bagian dari perang seperti ini ?? (Amran Nasution)

Sumber : (voa-islam.com/16/09/10)

25 September 2010

Biadab, Saat Orang Shalat Dihabisi.!

Ats@. Pernyataan tersebut ditegaskan Adil Akhyar Al Medani, didampingi putri kandung ustadz Ghozali, Rabbaniyah (17) kepada Sumut Pos (grup JPNN) Jumat (24/9) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Jalan Hindu Medan.

‘’Biadab. Saat orang shalat dihabisi, seolah-olah negera ini bukan Negara hukum.Dalam penyerangan biadab itu, dua orang jemaah itu tewas di tempat akibat ditembaki Densus 88, sedangkan seorang lagi dapat melarikan diri. Sementara itu abang saya, ustadz Ghozali itu terus dianiaya diinjak-injak densus, namun abang saya itu tetap terus sholatnya,’’ tegas pemilik Pondok Pesantren Dkwah Daarul Syifaa.

Akhyar juga menceritakan selamatnya Kartini Panggabean istri dari ustadz Ghozali, karena Cici (Kartini Panggabean red) berada di ruangan lain. ‘’Namun usai penyerangan tersebut tidak berapa lama datang Polres Tanjung Balai, ke kediaman abang saya seolah-olah tidak mengetahui penyerangan tersebut.Saat itulah Kartini Panggabean bersama anaknya yang masih berumur beberapa bulan diboyong ke Polres, dengan alasan polisi untuk diminta keterangannya," terangnya. Menurut DNAberita.com, hingga berita ini diturunkan Kartini bersama anaknya yang baru berumur beberapa bulan masih disekap di Gudang ATK berukuran 3X3 meter persegi. 
 
 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites