Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

9 November 2010

Obama Bawa Misi Terselubung ke Indonesia?

Kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia untuk melakukan kerjasama komprehensif antarkedua negara, dinilai sebagai agenda terselubung Amerika untuk lebih menancapkan kuku-kuku kapitalismenya di bumi Indonesia.


Dialog antar agama yang akan dilakukan Obama di masjid Istiqlal dan Universitas Indonesia merupakan upaya untuk melegitimasi ideologi kapitalisme yang dianut Amerika.

Misi terselubung dari agenda ini adalah untuk memperjelas sikap Amerika terhadap dunia Islam, bahwa Islam tidak bertentangan dengan demokrasi.

Sedang hubungan kerjasama yang ditawarkan Amerika terhadap Indonesia di bidang militer merupakan upaya Amerika agar Indonesia dapat keluar dari embargo pelatihan militer dan suku cadang senjata.

Semua misi terselubung kedatangan Obama itu dibeberkan dalam orasi ilmiah DR Andi Azikin, tokoh intelektual Muslim Hitbut Tahrir Indonesia, di gedung Syahida UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Senin (8/11/2010).

"Kerjasama ekonomi dengan Amerika hanya akan membuka keran perdagangan bebas di Indonesia sekaligus mengokohkan dan mengamankan aset-aset Amerika di Indonesia. Seperti pertambangan Freeport dan Exxon Mobile," terang Azikin, dalam orasinya.

Begitupun dengan kerjasama dibidang pendidikan dan kesehatan. Agenda besar Amerika dibidang pendidikan adalah untuk mendidik kader-kader Amerika berkebangsaan Indonesia di Amerika untuk membela nilai-nilai kapitalisme dan demokrasi yang dianutnya. Sedang dibidang kesehatan, Amerika bermaksud melanjutkan Namru di Indonesia.

"Isu terorisme di Indonesia juga merupakan modus Amerika untuk mengetahui kondisi dan kemampuan pergerakan Islam Ideologis yang memperjuangkan syariat Islam," tambah Azikin.

Misi terselubung lain yang sangat merugikan Indonesia dari hasil kerjasama komprehensif dengan Amerika adalah semakin tidak tersentuhnya kepentingan Amerika serikat di Indonesia. Seperti UU Migas, Pertambangan dan Kesehatan yang dinilai hanya menguntungkan kepentingan Amerika ketimbang kepentingan nasional Indonesia.(okezone.com)

8 November 2010

Penentuan Idul Adha Wajib Berdasarkan Rukyatul Hilal Penduduk Makkah

بسمالله الرحمن الرحيم
PENENTUAN IDUL ADHA WAJIB BERDASARKAN
RUKYATUL HILAL PENDUDUK MAKKAH
Oleh: Muhammad Shiddiq Al-Jawi*

Para ulama mujtahidin telah berbeda pendapat dalam hal mengamalkan saturu’yat yang sama untuk Idul Fitri. Madzhab Syafi’i menganut ru’yat lokal, yaitu mereka mengamalkan ru’yat masing-masing negeri. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali menganut ru’yat global, yakni mengamalkan ru’yat yang sama untuk seluruh kaum Muslim. Artinya, jika ru’yat telah terjadi di suatu bagian bumi, maka ru’yat itu berlaku untuk seluruh kaum Muslim sedunia, meskipun mereka sendiri tidak dapat meru’yat.
Namun, khilafiyah semacam itu tidak ada dalam penentuan Idul Adha. Sesungguhnya ulama seluruh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idul Adha. Ru’yat yang dimaksud, adalah ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah, yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia.
Karena itu, kaum Muslim dalam sejarahnya senantiasa beridul Adha pada hari yang sama. Fakta ini diriwayatkan secara mutawatir (oleh orang banyak pihak yang mustahil sepakat bohong) bahkan sejak masa kenabian, dilanjutkan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin, Umawiyin, Abbasiyin, Utsmaniyin, hingga masa kita sekarang.
Namun meskipun penetapan Idul Adha ini sudah ma’luumun minad diini bidl dlaruurah (telah diketahui secara pasti sebagai bagian integral ajaran Islam), anehnya pemerintah Indonesia dengan mengikuti fatwa sebagian ulama telah berani membolehkan perbedaan Idul Adha di Indonesia. Jadilah Indonesiasebagai satu-satunya negara di muka bumi yang tidak mengikuti Hijaz dalam beridul Adha. Sebab, Idul Adha di Indonesia sering kali jatuh pada hari pertama dari Hari Tasyriq (tanggal 11 Dzulhijjah), dan bukannya padaYaumun-nahr atau hari penyembelihan kurban (tanggal 10 Dzulhijjah).
Kewajiban kaum Muslim untuk beridul Adha (dan beridul Fitri) pada hari yang sama, telah ditunjukkan oleh banyak nash-nash syara’. Di antaranya adalah sebagai berikut :
Hadits A’isyah RA, dia berkata “Rasulullah SAW telah bersabda :
“Idul Fitri adalah hari orang-orang (kaum Muslim) berbuka. Dan Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih kurban.” (HR. At-Tirmidzi dan dinilainya sebagai hadits shahih; Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 697, hadits no 1305).
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits yang serupa dari shahabat Abu Hurairah RA dengan lafal :
“Bulan Puasa adalah bulan mereka (kaum muslimin) berpuasa. Idul Fitri adalah hari mereka berbuka. Idul Adha adalah hari mereka menyembelih kurban.”(HR.Tirmidzi) Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 697, hadits no 1306)
Imam At-Tirmidzi berkata, “Sebagian ahlul ‘ilmi (ulama) menafsirkan hadits ini dengan menyatakan :
“Sesungguhnya makna shaum dan Idul Fitri ini adalah yang dilakukan bersama jama’ah [masyarakat muslim di bawah pimpinan Khalifah/Imam] dan sebahagian besar orang.” (Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 699)
Sementara itu Imam Badrudin Al-‘Aini dalam kitabnya Umdatul Qari berkata,“Orang-orang (kaum Muslim) senantiasa wajib mengikuti Imam (Khalifah). Jika Imam berpuasa, mereka wajib berpuasa. Jika Imam berbuka (beridul Fitri), mereka wajib pula berbuka.”
Hadits di atas secara jelas menunjukkan kewajiban berpuasa Ramadhan, beridul Fitri, dan beridul Adha bersama-sama orang banyak (lafal hadits: an-Naas), yaitu maksudnya bersama kaum Muslim pada umumnya, baik tatkala mereka hidup bersatu dalam sebuah negara khilafah seperti dulu, maupun tatkala hidup bercerai-cerai dalam kurungan negara-kebangsaan seperti saat ini setelah hancurnya khilafah di Turki tahun 1924.
Maka dari itu, seorang muslim tidak dibenarkan berpuasa sendirian, atau berbuka sendirian (beridul Fitri dan beridul Adha sendirian). Yang benar, dia harus berpuasa, berbuka dan berhari raya bersama-sama kaum Muslim pada umumnya.
(2) Hadits Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata: “Sesungguhnya Amir (Wali) Makkah pernah berkhutbah dan berkata :
“Rasulullah SAW mengamanatkan kepada kami untuk melaksanakan manasik haji berdasarkan ru’yat. Jika kami tidak berhasil meru’yat tetapi ada dua saksi adil yang berhasil meru’yat, maka kami melaksanakan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud [hadits no 2338] dan Ad-Daruquthni [Juz II/167]. Imam Ad-Daruquthni berkata,’Ini isnadnya bersambung [muttashil] dan shahih.’ Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 841, hadits no 1629)
Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa penentuan hari Arafah dan hari-hari pelaksanaan manasik haji, telah dilaksanakan pada saat adanya Daulah Islamiyah oleh pihak Wali Makkah. Hal ini berlandaskan perintah Nabi SAW kepada Amir (Wali) Makkah untuk menetapkan hari dimulainya manasik haji berdasarkan ru’yat.
Di samping itu, Rasulullah SAW juga telah menetapkan bahwa pelaksanaan manasik haji (seperti wukuf di Arafah, thawaf ifadlah, bermalam di Muzdalifah, melempar jumrah), harus ditetapkan berdasarkan ru’yat penduduk Makkah sendiri, bukan berdasarkan ru’yat penduduk Madinah, penduduk Najd, atau penduduk negeri-negeri Islam lainnya. Dalam kondisi tiadanya Daulah Islamiyah (Khilafah), penentuan waktu manasik haji tetap menjadi kewenangan pihak yang memerintah Hijaz dari kalangan kaum Muslim, meskipun kekuasaannya sendiri tidak sah menurut syara’. Dalam keadaan demikian, kaum Muslim seluruhnya di dunia wajib beridul Adha pada Yaumun nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tatkala para jamaah haji di Makkah sedang menyembelih kurban mereka pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan bukan keesokan harinya (hari pertama dari Hari Tasyriq) seperti di Indonesia.
(3) Hadits Abu Hurairah RA, dia berkata :
“Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang puasa pada Hari Arafah, di Arafah” (HR. Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 875, hadits no 1709).
Berdasarkan hadits itu, Imam Asy-Syafi’i berkata, “Disunnahkan berpuasa pada Hari Arafah (tanggal 9 Dhulhijjah) bagi mereka yang bukan jamaah haji.”
Hadits di atas merupakan dalil yang jelas dan terang mengenai kewajiban penyatuan Idul Adha pada hari yang sama secara wajib ‘ain atas seluruh kaum Muslim. Sebab, jika disyari’atkan puasa bagi selain jamaah haji pada Hari Arafah (=hari tatkala jamaah haji wukuf di Padang Arafah), maka artinya, Hari Arafah itu satu adanya, tidak lebih dari satu dan tidak boleh lebih dari satu.
Karena itu, atas dasar apa kaum Muslim di Indonesia justru berpuasa Arafah pada hari penyembelihan kurban di Makkah (10 Dzulhijjah), yang sebenarnya adalah hari raya Idul Adha bagi mereka? Dan bukankah berpuasa pada hari raya adalah perbuatan yang haram? Lalu atas dasar apa pula mereka Shalat Idul Adha di luar waktunya dan malahan shalat Idul Adha pada tanggal 11 Dzulhijjah (hari pertama dari Hari Tasyriq)?
Sungguh, fenomena di Indonesia ini adalah sebuah bid’ah yang munkar (bid’ah munkarah), yang tidak boleh didiamkan oleh seorang muslim yang masih punya rasa takut kepada Allah dan azab-Nya!
Sebahagian orang membolehkan perbedaan Idul Adha dengan berlandaskan hadits:
“Berpuasalah kalian karena telah meru’yat hilal (mengamati adanya bulan sabit), dan berbukalah kalian (beridul Fitri) karena telah meru’yat hilal. Dan jika terhalang pandangan kalian, maka perkirakanlah !”
Beristidlal (menggunakan dalil) dengan hadits ini untuk membolehkan perbedaan hari raya (termasuk Idul Adha) di antara negeri-negeri Islam dan untuk membolehkan pengalaman ilmu hisab, adalah istidlal yang keliru. Kekeliruannya dapat ditinjau dari beberapa segi :
Pertama, Hadits tersebut tidak menyinggung Idul Adha dan tidak menyebut-nyebut perihal Idul Adha, baik langsung maupun tidak langsung. Hadits itu hanya menyinggung Idul Fitri, bukan Idul Adha. Maka dari itu, tidaklah tepat beristidlal dengan hadits tersebut untuk membolehkan perbedaan Idul Adha berdasarkan perbedaan manzilah (orbit/tempat peredaran) bulan dan perbedaan mathla’ (tempat/waktu terbit) hilal, di antara negeri-negeri Islam. Selain itu, mathla’ hilal itu sendiri faktanya tidaklah berbeda-beda. Sebab, bulan lahir di langit pada satu titik waktu yang sama. Dan waktu kelahiran bulan ini berlaku untuk bumi seluruhnya. Yang berbeda-beda sebenarnya hanyalah waktu pengamatan, ini pun hanya terjadi pada jangka waktu yang masih terhitung pada hari yang sama, yang lamanya tidak lebih dari 12 jam.
Kedua, hadits tersebut telah menetapkan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri berdasarkan ru’yatul hilal, bukan berdasarkan ilmu hisab. Pada hadits tersebut tak terdapat sedikit pun “dalalah” (pemahaman) yang membolehkan pengalaman ilmu hisab untuk menetapkan awal bulan Ramadlan dan hari raya Idul Fitri. Sedangkan hadits Nabi yang berbunyi: “(……jika pandangan kalian terhalang), maka perkirakanlah hilal itu!” maksudnya bukanlah perkiraan berdasarkan ilmu hisab, melainkan dengan menyempurnakan bilangan Sya’ban dan Ramadhan sejumlah 30 hari, bila kesulitan melakukan ru’yat.
Ketiga, Andaikata kita terima bahwa hadits tersebut juga berlaku untuk Idul Adha dengan jalan Qiyas –padahal Qiyas tidak boleh ada dalam perkara ibadah, karena ibadah bersifat tauqifiyah– maka hadits tersebut justru akan bertentangan dengan hadits Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, yang bersifat khusus untuk Idul Adha dan manasik haji. Dalam hadits tersebut, Nabi SAW telah memberikan kewenangan kepada Amir (Wali) Makkah untuk menetapkan ru’yat bagi bulan Dzulhijjah dan untuk menetapkan waktu manasik haji berdasarkan ru’yat penduduk Makkah (bukan ru’yat kaum Muslim yang lain di berbagai negeri Islam).
Berdasarkan uraian ini, maka Indonesia tidak boleh berbeda sendiri dari negeri-negeri Islam lainnya dalam hal penentuan hari-hari raya Islam.Indonesia tidak boleh menentang ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum Muslim di seantero pelosok dunia, karena seluruh negara menganggap bahwa tanggal 10 Dzulhijjah di tetapkan berdasarkan ru’yat penduduk Hijaz. Sungguh, tak ada yang menyalahi ijma’ kaum Muslim itu, selain Indonesia !
Lagi pula, atas dasar apa hanya Indonesia sendiri yang menentang ijma’ tersebut dan berupaya memecah belah persatuan dan kesatuan kaum Muslim? Apakah Indonesia berambisi untuk menjadi negara pertama yang mempelopori suatu tradisi yang buruk (sunnah sayyi’ah) sehingga para umaro’dan ulama di Indonesia akan turut memikul dosanya dan dosa dari orang-orang yang mengamalkannya hingga Hari Kiamat nanti?
Kita percaya sepenuhnya, perbedaan hari raya di Dunia Islam saat ini sesungguhnya terpulang kepada perbedaan pemerintahan dan kekuasaan Dunia Islam, yang terpecah belah dan terkotak-kotak dalam 50-an lebih negara kebangsaan yang direkayasa oleh kaum kafir penjajah.
Kita percaya pula sepenuhnya, bahwa kekompakan, persatuan, dan kesatuan Dunia Islam tak akan tewujud, kecuali di bahwa naungan Khilafah Islamiyah Rasyidah. Khilafah ini yang akan mempersatukan kaum Muslim di seluruh dunia, serta akan memimpin kaum Muslim untuk menjalani kehidupan bernegara dan bermasyarakat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.Insya Allah cita-cita ini dapat terwujud tidak lama lagi !
Ya Allah, kami sudah menyampaikan, saksikanlah !
*)Dosen STEI Hamfara Yogyakarta; Ketua Lajnah Tsaqofiyah HTI Propinsi DIY; Anggota Komisi Fatwa MUI Propinsi DIY.
Sumber : Hizbut Tahrir

7 November 2010

Rakyat India Lakukan Protes Besar-besaran Menolak Kedatangan Barack Obama di India

Kunjungan Presiden Barack Obama ke India mendapat protes besar-besaran oleh para aktivis perdamaian di berbagai daerah di seluruh India. Aksi protes itu terjadi ketika presiden Amerika Serikat memulai kunjungan tiga hari untuk meningkatkan bisnis dengan India. Sebagai reaksi atas kunjungannya itu, para korban tragedi beracun di kota Bhopal duduk-duduk menuntut kompensasi terhadap insiden yang fatal tersebut.

Lebih dari 500.000 orang terkena gas beracun setelah 40 ton bahan kimia yang mematikan bocor dari US Corporation Union Carbide di India pada tanggal 3 Desember 1984. Sekitar 5.00 orang tewas segera setelah kejadian, dan sekitar 15.000 orang lainnya meninggal dalam minggu-minggu berikutnya.

Insiden tersebut menimbulkan malapetaka. Banyak warga yang menderita penyakit kronis seumur hidup dan bayi-bayi lahir dalam keadaan cacata lahir 25 setelah bencana industri terburuk di dunia itu.

Para pengunjuk rasa menuntut Presiden Obama mengambil tindakan terhadap Union Carbide dan Dow Chemical yang telah melakukan pelanggaran hukum selama bertahun-tahun.

Masyarakat juga berkumpul di daerah Orissa, memprotes kehadiran Presiden Obama di negara itu, dengan alasan bahwa ia telah merusak perdamaian di negara-negara berkembang.

Sementara itu, Komite Aksi Kashmir melakukan demonstrasi di Lahore Pakistan, meminta presiden AS mengambil sikap keras terhadap tindakan brutal pemerintah India di Kashmir. Lebih dari 100 orang tewas di Kashmir India sejak Juni, ketika warga mulai melakukan aksi anti India.

Demikianlah, Presiden Negara Penjajah tersebut memang tak diterima oleh rakyat di mana pun berada kecuali hanya diterima oleh para jongos Amerika. Menerima Obama sama artinya menerima penjajahan yang selama ini Amerika lakukan terhadap negeri-negeri Muslim. Sekitar 1 juta lebih tewas dalam penjajahan AS di Irak, Afghanistan dan Pakistan.

Usai dari India, menurut rencana Barack Obama akan berkunjung ke Indonesia dan ceramahi Indonesia pada 10 November 2010. Hal tersebut merupakan penodaan sekaligus pengkhianatan atas para pahlawan, di mana tanggal tersebut dikenal sebagai hari pahlawan. Jika Bung Tomo meneriakkan takbir untuk mengusir penjajah, bagaimana bisa di tanggal yang sama teriakkan takbir tersebut dikhianati dengan menerima Kepala Negara Sang Penjajah!?? [m/prstv/syabab.com]


Ali Mochtar Ngabalin: Indonesia Tidak Boleh Jadi Jongos Amerika!

Gelombang penolakan terhadap rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barrack Husein Obama semakin tinggi. Bahkan mantan anggota Komisi I DPR RI yang membidangi Hubungan Luar Negeri Ali Mochtar Ngabalin turut menyatakan penolakannya.
“Kedatangan Obama harus ditolak, kalau tidak tentu masyarakat akan memberikan sikap yang apriori kepada pemerintah,” ujarnya kepada mediaumat.com, Sabtu (9/11) sore.
Menurutnya, Perjanjian Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia yang akan tandatangani itu membuktikan dan memperjelas posisi Indonesia sebagai ‘negara bagian’ dari Amerika Serikat. Padahal sebagai negara yang merdeka Indonesia tidak boleh menjadi jongos, babu, kacung, kaki tangan Amerika Serikat yang kerjanya melakukan penindasan dan penjajahan terhadap negara-negara berkembang.
“Karena itu pemimpin negeri ini harus mengambil kebijakan politik luar negerinya yang berpihak kepada kepentingan-kepentingan domestik,” sarannya.
Ngabalin pun menegaskan secara substansi Obama bisa saja injak tanah air bila saja Amerika telah menyepakati dua hal. Pertama, sebelum Obama datang, pemerintah Indonesia harus memastikan kepada pemerintah Amerika dan disepakati penghentian misi spekulasi yang disebut Amerika sebagai perang global terhadap teroris (global war on terorris, GWOT).
Dan ketika datang ke Indonesia, yang ditandatangani itu pembatalan GWOT tersebut. Kenapa? Karena terlalu banyak rakyat yang menderita dengan isu dan alasan perang melawan teroris. Padahal ini semua memberikan kebinasaan yang luar biasa bagi umat. Jangan karena alasan memerangi teroris, malah menembaki para ustadz, mubaligh, pegiat Al-Qur’an, pimpinan pondok pesantren dianggap sebagai teroris, tanpa bukti yang nyata di pengadilan.
“Jadi alat negara (Polri, red) harus dikembalikan kepada fungsinya, yakni melindungi rakyat, bukan untuk menghukum, menuduh dan membunuh rakyat dengan berbagai macam tuduhan rekayasa!” tegasnya.
Kedua, Obama harus memastikan berapa banyak perusahaan multi nasional (multi national corporate, MNC) Amerika yang telah menghisap darah dan air mata rakyat Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut harus dinasionalisasikan. Rakyat Indonesia pun harus tahu, karena Freeport itu, berapa banyak rakyat Papua yang menderita, berapa banyak rakyat Indonesia yang menderita. Begitu juga karena Exxon Mobile, dll.
Jadi harus dipastikan dahulu segala kontrak karya dengan MNC yang dilakukan oleh pemerintah terdahulu , berapa persen dibatalkan dan dikembalikan kepada rakyat dan dikelola oleh pemerintah.
“Bila tidak disepakati dua hal ini, maka akan menambah kerusakan bertubi-tubi terhadap kepentingan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia,” pungkasnya.[] joko prasetyo ( mediaumat.com

1500 Ulama Nasional Tolak Kedatangan Obama Presiden Negara Penjajah

Sekitar 1500 ulama dari berbagai nusantara berkumpul di kota pahlawan, Surabaya, dalam acara Majlis al-Buhuts al-Islamiyyah Ulama Nasional, menyerukan penolakkan atas Barack Obama Presiden Negara Penjajah, Sabtu, 06/11/2010. Mereka juga menuntut penguasa agar membatalkan kemitraan komprehensif AS-Indonesia yang merupakan bentuk penjajahan bukan kemitraan.

Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia, KH. Muhammad Ihsan Abdul Jalil, sebagai pihak penggagas acara tersebut di dalam sambutannya, mengatakan kemitraan komprehensif AS-Indonesia tidak menguntungkan bagi Indonesia, ini hanya untuk kepentingan AS. 

Sementara itu di dalam kajian utamanya, Junaidi ath-Thoyibi dan Syamsudin Ramadhan dari DPP HTI, masing-masing menyampaikan analisi politik dan tinjauan syariat Islam tekait kedatangan Obama. Haram negeri kaum Muslim bekerjasa dengan penjajah.

Beberapa perwakilan ulama dari berbagai daerah memberikan ketegasan sikap mereka dan umat untuk menolak Obama presiden negara penjajah.

Mereka menegaskan kembali dukungan atas penegakkan Khilafah yang akan menuntaskan segala bentuk penjajahan atas negeri Muslim, termasuk Indonesia.

"Kalau ulama mengatakan Khilafah itu tidak ada dalam Islam, berhenti jadi ulama," kata seorang ulama dari Banten.

Pernyataan sikap penolakan atas kedatangan presiden Barack Obama untuk kemitraan komprehensif AS-Indonesia tertuang dalam Taushiyyah Siyasiyyah Ulama yang disampaikan Abah Hideung.

Kemudian secara simbolik dibubuhkan tanda tangan bersama oleh 12 Ulama dari berbagai propinsi di Indonesia mewakili ribuan ulama yang telah menandatangani taushiyah siyasiyyah ini.

Terkait korban merapi, tak lupa para ulama juga berdoa sekaligus menggalang bantuan untuk mereka yang terkena musibah. [m/mu/f/syabab.com]

Galeri Foto :










Pesawat Tempur Israel Membom Rumah-Rumah di Gaza

Pesawat tempur Israel telah menyerang Jalur Gaza, melakukan pemboman di rumah-rumah warga Palestina di Khan Yunis dan jaringan terowongan di Rafah di selatan.

Jet Israel terbang di atas Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada hari Sabtu kemarin (6/11), melakukan pemboman terhadap rumah-rumah sipil di kota itu, lapor koresponden Press TV di Gaza.

Belum diketahui apakah ada korban dalam serangan udara tersebut.

Serangan kedua, yang melanda Rafah, menargetkan terowongan bawah tanah Palestina yang mengarah ke Mesir dan meninggalkan satu orang terluka.

Tentara Israel sering melakukan pemboman jaringan terowongan, mengatakan pejuang Palestina menggunakan terowongan tersebut untuk menyimpan senjata dan melakukan penyelundupan.

Tetapi warga Palestina membantah tuduhan itu, dengan alasan mereka telah menggunakan terowongan bawah tanah untuk membawa kebutuhan pokok ke Gaza karena wilayahnya telah diblokade Israel selama lebih dari tiga tahun.

Beberapa korban tewas dalam pemboman Israel di terowongan, sementara yang lain meninggal setelah menghirup asap beracun yang disemprotkan di dalam terowongan oleh pasukan keamanan Mesir. (eramuslim.com/07/11/10)

15 ribu massa Hizbut Tahrir Tolak Obama, 58 Juta Terkumpul Untuk Korban Bencana

Sekitar 15 ribu massa Hizbut Tahrir Indonesia melakukan aksi di depan Istana Negara Jakarta, Ahad (7/11). Peserta aksi berjalan mulai dari Istana Negara hingga ke depan Kedubes AS, simbol negara penjajah dunia. Sepanjang jalan, mereka meneriakkan yel-yel ‘Tolak, tolak, tolak Obama, tolak Obama sekarang juga’.

Panitia menjelaskan acara ini merupakan wujud kepedulian dan solidaritas terhadap sesama Muslim di seluruh dunia. Acara ini juga wujud solidaritas terhadap penderitaan yang dialami saudara-saudara yang tertimpa bencana di Tanah Air.Karenanya, selain aksi menolak Obama, aksi ini juga dimaksudkan untuk menggalang dana bagi para korban bencana.

Jubir HTI Ismail Yusanto dalam orasi pembukaannyamengatakan, aksi ini merupakan salah satu kewajiban amar makruf nahi munkar. ‘Ini keprihatinan terhadap negeri ini sekaligus wujud kecintaan kita terhadap negeri ini,” katanya.

Bencana, menurutnya, harus jadi perhatian. Tapi lebih dari itu kaum Muslimin tidak boleh lupa terhadap bencana yang lebih besar yakni kokohnya imperialisme di Indonesia.Ia mengajak peserta beramal dengan menyumbangkan dana bagi korban bencana di Merapi dan Mentawai. Kantong-kantong pun diedarkan. Sampai akhir acara lebih dari 58 juta dana sudah terkumpul untuk korban bencana .

Aksi tolak Obama dan penggalangan bantuan dana ini dilakukan Hizbut Tahrir di berbagai kota di seluruh Indonesia. Disamping itu Hizbut Tahrir juga telah mengirim gugus tugas relawan Hizbut Tahrir Tanggap Bencana ke beberapa daerah bencana untuk membantu saudara-saudaranya yang dalam keadaan menderita. (MJ/mediaumat.com)



6 November 2010

LIVE NOW: Majelis Al-Buhuts al-Islamiy Ulama Nasional, Ribuan Ulama Tolak Barack Obama


Ribuan para ulama dari seluruh nusantara menolak kedatangan Presiden Penjajah Barack Obama. Sekitar seribu ulama perwakilan dari seluruh daerah di nusantara akan berkumpul dalam Majlis al Buhuts al Islamy "Tolak Obama", di Surabaya, Sabtu, 06/11/2010. Acara yang dimotori oleh Hizbut Tahrir Indonesia ini akan mempertegas sekali lagi penolakkan atas kedatangan Barack Obama yang dinilai sebagai Presiden Negara Penjajah.


Acara ini disiarkan secara langsung, sehingga dapat disaksikan oleh seluruh kaum Muslim di seluruh dunia melalui video streaming.


Di dalam pernyataan resminya, Hizbut Tahrir Indonesia dengan tegas menolak kehadiran Presiden AS Barrack Husein Obama ke Indonesia karena  dengan semua tindakan brutal di sejumlah negeri muslim seperti Irak, Afghanistan dan di perbatasan Pakistan - Afghanistan termasuk di Indonesia itu, berarti AS telah secara sengaja memusuhi umat Islam.


"Serangan terhadap satu negeri Islam hakikatnya adalah serangan terhadap seluruh umat Islam. Oleh karena itu, dalam pandangan syariat Islam, AS sekarang ini termasuk kategori muhariban fi’lan atau negara yang dalam status memerangi umat Islam secara de facto. Presiden dari sebuah negara seperti itu tidak layak untuk diterima sebagai tamu," kata Ismail Yusanto, Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia.


Insya Allah, untuk ikut serta menyiarkan Islam dan dakwah, Syabab.Com akan ikut serta menyiarkan secara langsung agenda para ulama tersebut, hari ini mulai pukul 08.00 sd selesai. [m/f/htipress/syabab.com]

LIVE NOW :



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites