Pandangan Islam Tentang Asuransi

Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Yang Teristimewa Bagi Wanita

"...Wahai pena..! Titiplah salam kami teruntuk kaum wanita. Tak usah jemu kau kabarkan bahwa mereka adalah lambang kemuliaan. Sampaikanlah bahwa mereka adalah aurat ..."

Sistem Pemerintahan Islam Berbeda dengan Sistem Pemerintahan yang Ada di Dunia Hari ini

Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia

Video: Puluhan Ribu Warga Homs Suriah Berikrar, Pertolongan Bukan dari Liga Arab atau Amerika Tapi dari Allah!

.

Analisis : Polugri AS di Asia Tenggara

Secretary of State Amerika Serikat Hillary Clinton 21 Juli 2011 lalu berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, dia melawat dua hari ke India untuk ambil bagian dalam konferensi tingkat menteri ASEAN yang diselenggarakan di Bali 22 Juli.

Khilafah: Solusi, Bukan Ancaman

Berbagai macam dampak destruktif akibat penerapan sistem kapitalis-sekular telah mendorong manusia untuk mencari sistem baru yang mampu mengantarkan mereka menuju kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran. Dorongan itu semakin kuat ketika kebijakan-kebijakan jangka pendek dan panjang selalu gagal mencegah dampak buruk sistem kapitalis.

MIMPI PARA ULAMA BUKAN SEMBARANG MIMPI

Apakah Anda tadi malam bermimpi? Apa mimpi Anda? Kata orang, mimpi hanyalah kembang (bunga) orang tidur. Maksudnya, mimpi tidak bermakna signifikan. Tapi, sebenarnya tidak semua mimpi tak ada artinya.

Nasehat Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy :Empat Tipe Pemimpin

Ada nasihat berharga yang disampaikan Imam Abdurrahman bin Amru al-Auza’iy kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, ketika ulama besar itu dimintai nasihat.

6 November 2010

Metode Penentuan Idul Adha

Tanya :
Ustadz, mohon diterangkan bagaimana metode penentuan Idul Adha?
Jawab :
Penentuan Idul Adha (10 Dzulhijjah) bergantung pada penentuan awal bulan Dzulhijjah. Dalam hal ini para fuqaha sepakat, bahwa penentuan awal bulan Dzulhijjah hanya didasarkan pada rukyatul hilal saja, bukan dengan hisab.
Ini ditegaskan oleh Syaikh Abdul Majid al-Yahya dalam kitabnya Atsar Al-Qamarain fi Al-Ahkam Al-Syar’iyah,”Tak ada khilafiyah di antara fuqaha, bahwa rukyatul hilal adalah standar/patokan dalam penentuan masuknya bulan Dzulhijjah….” (Abdul Majid al-Yahya,Atsar Al-Qamarain fi Al-Ahkam Al-Syar’iyah, hal. 198).
Dalilnya adalah dalil-dalil umum bahwa metode standar untuk menentukan awal bulan-bulan Qamariyah adalah rukyatul hilal saja. Misalkan hadits Nabi SAW,”Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal.” (HR Bukhari no 1776; Muslim no 1809; At-Tirmidzi no 624; An-Nasa`i no 2087). (Lihat Abdul Majid al-Yahya, ibid., hal. 199; Ahmad Muhammad Syakir, Awa`il al-Syuhur Al-Arabiyah, hal.4; Fahad Al-Hasun,Dukhul al-Syahr al-Qamari, hal. 14).
Berdasarkan hadits-hadits seperti itu, lahirlah ijma’ ulama bahwa hisab astronomis (al-hisab al-falaki) tidak boleh dijadikan sandaran untuk menentukan masuknya awal bulan Qamariyah. Ijma’ ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Taimiyah, Abul Walid al-Baji, Ibnu Rusyd, Al-Qurthubi, Ibnu Hajar, Al-‘Aini, Ibnu Abidin, dan Syaukani. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 25/132; Fathul Bari, 4/158; Tafsir al-Qurthubi, 2/293; Hasyiyah Ibnu Abidin, 3/408; Bidayatul Mujtahid, 2/557).
Namun khusus untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah yang terkait dengan Idul Adha, rukyatul hilal yang menjadi patokan utama adalah rukyatul hilal penguasa Makkah, bukan dari negeri-negeri Islam yang lain. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil merukyat hilal, barulah rukyat dari negeri yang lain dapat dijadikan patokan.
Dalilnya adalah hadits dari Husain bin Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata,“Amir (penguasa) Makkah berkhutbah kemudian dia berkata,”Rasulullah telah berpesan kepada kita agar kita menjalankan manasik haji berdasarkan rukyat. Lalu jika kita tidak melihat hilal, dan ada dua orang saksi yang adil yang menyaksikannya, maka kita akan menjalankan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud, hadits no 2339. Imam Daruquthni berkata,”Hadits ini isnadnya muttashil dan shahih.” Lihat Sunan Ad-Daruquthni, 2/267. Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata,”Hadits ini shahih.” Lihat Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Abu Dawud, 2/54).
Hadits ini menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan hari-hari manasik haji, seperti hari Arafah, Idul Adha, dan hari-hari tasyriq, adalah Amir Makkah (penguasa Makkah), bukan yang lain. Pada saat tiadanya pemerintahan Islam (Khilafah) seperti sekarang, kewenangan itu tetap dimiliki penguasa Makkah sekarang (Saudi Arabia), meski sistem pemerintahannya berbentuk kerajaan, bukan Khilafah.
Kesimpulannya, penentuan Idul Adha ditetapkan berdasarkan rukyatul hilal, bukan hisab. Hanya saja, rukyat yang diutamakan adalah rukyat penguasa Makkah. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil merukyat, barulah diamalkan rukyat dari negeri-negeri yang lain. Wallahu a’lam. ( hizbut-tahrir.or.id )

Agar Mulia Di Mata Allah SWT

"Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, yang membangun kuburannya sebelum memasukinya dan yang ridha kepada Tuhannya sebelum berjumpa dengan-Nya.”(Yahya bin Muadz ar-Razi dalam An-Nawawi, Nasha'ih al-'Ibad, hlm. 12).

Mengomentari pernyataan di atas, Imam an-Nawawi menyatakan: Pertama, 'meninggalkan dunia' sebelum 'dunia meninggalkannya' bermakna menghabiskan harta dalam berbagai amal kebajikan sebelum Allah mencabut harta itu dari dirinya. Kedua, 'membangun kuburan' sebelum memasukinya bermakna memperbanyak amal shalih saat di dunia sehingga ia bisa merasakan kedamaian di alam kuburnya saat kematiannya. Ketiga, ridha kepada Tuhannya sebelum berjumpa dengan-Nya adalah dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya sebelum ia menghadap Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.

Jika direnungkan, pernyataan di atas sesungguhnya amat dalam maknanya dan amat berharga. Apalagi jika dikaitkan dengan realitas kehidupan kaum Muslim saat ini.

Saat ini, sebagaimana kita lihat, banyak Muslim yang hidupnya berkecukupan. Namun, banyak di antara yang berkecukupan itu menghabiskan hartanya justru dalam perkara-perkara yang kurang bermanfaat, bahkan dalam perkara-perkara maksiat. Tak sedikit orang yang dengan mudah membeli segelas kopi seharga puluhan ribu di hotel mewah, tetapi begitu susah mengeluarkan beberapa rupiah saja untuk bersedekah. Banyak orang dengan yang dengan ringan merogoh sakunya ratusan bahkan jutaan rupiah untuk menyewa kamar di hotel berbintang beberapa malam saja, namun betapa berat mereka menyumbang untuk dakwah atau membangun masjid meski dengan jumlah yang sedikit.

Tak sedikit orang berlomba membangun rumah atau apartemen mewah meski tentu hanya untuk hidup sementara saja. Anehnya, mereka tak sedikitpun tertarik untuk berlomba-lomba 'membangun kuburannya' (baca: dengan memperbanyak amal shalih sebagai bekal di dalamnya). Padahal alam kubur itulah yang akan mereka tempati, sebagai alam penantian, sebelum pada akhirnya ia tinggal di alam akhirat dengan abadi.

Banyak pula orang yang jarang menunaikan perintah-perintah Allah SWT dan malah banyak meninggalkan larangan-larangan-Nya, seolah-olah ia tak pernah ridha menerima semua itu dari Tuhannya; seakan-akan ia tak akan pernah bertemu dengan-Nya di Hari Akhir nanti untuk mempertanggungjawabkan selu-ruh sikap dan amal perbuatannya itu saat di dunia.

Agar kita tak terjebak dengan perilaku-perilaku di atas, alangkah baiknya kita merenungkan kata-kata Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saat beliau betutur, ”Jika Anda berjumpa dengan seseorang di antara manusia, Anda hanya melihat keutamaan dan keunggulan dirinya dari-pada Anda seraya berkata, 'Boleh jadi Allah menjadikan dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya daripada aku.' Jika orang yang Anda jumpai itu lebih muda dari Anda, Anda berkata, 'Dia tentu lebih sedikit bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku telah banyak bermaksiat kepadanya sehingga tentu ia lebih baik daripada aku.' Jika orang yang Anda jumpai lebih tua dari Anda, Anda berkata, 'Dia tentu lebih banyak beribadah daripada aku.' Jika orang yang Anda jumpai adalah orang yang berilmu, Anda berkata, 'Dia tentu mendapatkan karunia dari Allah apa yang tidak aku peroleh, mengetahui banyak hal dari apa yang tidak banyak aku ketahui dan dia pasti telah banyak mengamalkan ilmunya.' Jika orang yang Anda jumpai adalah orang awam/bodoh, Anda berkata, 'Kalaupun ia bermaksiat kepada Allah tentu karena ketidaktahuan dan ketidak-sadarannya, sedangkan jika aku bermak-siat kepada-Nya tentu dengan sepenuh pengetahuan dan kesadaranku.'...”

Dengan kata-katanya ini tentu Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tidak sedang menyuruh kita bersikap pesimis dan ber-kecil hati. Beliau hanya ingin agar kita selalu bersikap rendah hati dan tahu diri, bahwa dalam hal kebajikan dan amal shalih boleh jadi kita belum apa-apa dibandingkan dengan orang lain. Dengan itu, kita akan selalu terpacu untuk menjadi orang yang lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, kita pun dituntut untuk sadar diri, bahwa boleh jadi kita lebih banyak berdosa dan bermaksiat dibandingkan dengan orang lain. Dengan itu, kita akan lebih banyak bertobat dan meninggalkan lebih banyak lagi maksiat. Dengan semua itu, justru kita akan lebih mulia dalam pandangan Allah SWT. Benarlah kata-kata Imam Ali kw., ”Jadilah Anda 'besar' (mulia) dalam pandangan Allah SWT dan kecil dalam pandangan Anda sendiri.”

Wa mâ tawfîqî illâ billâh. arief b. iskandar

HTI Serukan Penolakkan Terhadap Obama dan Galang Bantuan untuk Korban Bencana

Di tengah Indonesia dilanda bencana, Obama datang membawa agenda yang akan membuat bencana lebih besar lagi. Bencana yang lebih besar itu adalah dikokohkannya penjajahan AS di Indonesia, melalui Kemitraan Komprehensif AS – Indonesia. Demikian, seperti disampaikan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dalam aksi bersama umat menolak Obama sekaligus melakukan penggalangan dana untuk membantu korban tsunami Mentawai dan Merapi.

Seperti dikemukakan, "sang penjajah Obama akan berpidato pada tanggal 10 November 2010, padahal 10 November 1945 Bung Tomo berpidato mengusir penjajah, dengan pekik “Allahu Akbar”. "Allahu Akbar" ikuti aksi Hizbut Tahrir Indonesia bersama Ummat Tolak Obama!" 


Untuk yang ketiga kalinya Presiden Amerika Barrack Husein Obama berencana datang ke Indonesia, sebanyak itu pula Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menegaskan penolakannya. Karena Obama adalah kepala negara kafir harbi filan (negara kafir yang memerangi Islam dan umatnya). Seharusnya bukan hanya HTI, tetapi pemerintah pun harus menolaknya.



Indonesia dalam Pembukaan UUD 1945 telah menegaskan penentangannya terhadap segala bentuk penjajahan. Maka penjajahan itu harus dihentikan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan perikeadilan.



Bila konsisten dengan prinsip ini semestinya pemerintah juga harus menentang penjajahan yang dilakukan Amerika di Irak dan Afghanistan. “Bentuk paling ringan dari penentangan itu adalah menolak kehadiran presiden dari negara penjajah itu!” tegas Jurubicara HTI Muhammad Ismail Yusanto di hadapan puluhan wartawan saat konferensi pers, Jum’at (5/11) siang di Gedung DPP HTI, Jakarta.



Alih-alih menolak kedatangannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah siap menandatangani naskah Kemitraan Komprehensif bila gembong teroris itu bila jadi datang pada 9-10 Nopember nanti. Bila itu terjadi, berarti semakin kokohlah penjajahan Amerika di dunia Islam termasuk Indonesia.



Bahkan Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib menyatakan Indonesia disadari atau tidak ‘resmi’ menjadi negara bagian Amerika. “Ini bukan hanya menjadi sekutu tetapi menjadi negara bagian AS!” ujarnya.



Untuk itu HTI mengajak segenap komponen umat Islam untuk menolak kedatangan kepala negara penjajah tersebut. HTI pun berencana menggelar aksi penolakan kedatangan Obama pada Ahad (7/11) pkl 07.00 WIB di depan Istana Presiden longmarch menuju Kedutaan Besar Amerika.



Sementara di berbagai daerah, dari tanggal 5-8 Nopember, HTI menggelar berbagai aksi longmarch, konferensi pers, dan edukasi publik dalam program Forum Intelektual Muslim Tolak Obama dan program Majlis al Buhuts al Islamy Tolak Obama. Bersamaan dengan aksi tolak Obama nanti Hizbut Tahrir juga akan melakukan penggalangan dana untuk membantu korban bencana di Indonesia.


Penolakkan terhadap Obama juga muncul dari para ulama. Menurut rencana, ribuan para ulama senusantara akan berkumpul untuk melakukan penolakkan terhadap kedatangan Obama dan rencana penjajahannya atas Indonesia. Menurut rencana, acara tersebut akan disiarkan secara langsung melalui video streaming. Insya Allah, Syabab.Com akan ikut serta menyiarkan secara streaming ke seluruh penjuru dunia. [m/mediaumat/htipress/syabab.com]





Pesawat AS Tewaskan 11 Orang dalam Serangan di Waziristan

Pejabat keamanan Pakistan mengumumkan bahwa 11 orang tewas dalam tiga serangan oleh pesawat AS di provinsi Waziristan Utara, Pakistan barat laut.

Pejabat tersebut mengatakan tiga orang tewas Kamis kemarin (4/11) ketika sebuah pesawat tak berawak menembakkan dua roket terhadap sebuah mobil di dekat Miran Shah, kota utama di Waziristan Utara.

Sementara empat pejuang Taliban lainnya syahid dalam serangan lain di wilayah lain Waziristan, juga membunuh empat pejuang dalam sebuah serangan rudal yang dilakukan oleh pesawat tak berawak setelah beberapa jam menargetkan serangan terhadap sebuah mobil.

Patut dicatat bahwa operasi agresi militer ini diluncurkan oleh pesawat AS pada daerah-daerah Pakistan, selama beberapa bulan terakhir, sedikitnya 21 serangan pesawat tanpa awak telah terjadi dan meninggalkan puluhan orang syahid, dalam operasi yang disebut Amerika sebagai "perang melawan teror".(eramuslim.com/05/11/10)

Wikileaks Serukan Penyelidikan Terhadap Kejahatan Militer AS

Julian Assange pendiri situs Wikileaks mendesak AS untuk menyelidiki kejahatan yang dilakukan pasukan militernya dan bertanggungjawab atas semua kejahatan yang telah dilakukan.


"Ini adalah waktu bagi Amerika Serikat membuka, bukannya menutupi," kata Julian Assange, pendiri dari situs Wikileaks, yang telah merilis dokumen rahasia yang menunjuk banyaknya pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh militer AS.


Wikileaks telah membongkar sekitar 500.000 dokumen rahasia, termasuk detail perang yang dipimpin AS di Irak dan Afghanistan. Ia mengatakan jumlah kematian warga sipil Irak melebihi dari apa yang dikatakan oleh AS.


Wikileaks telah merilis sekitar 400.000 dokumen-dokumen rahasia tentang kehadiran militer AS di Irak setelah invasi AS ke negara itu di tahun 2003 termasuk banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan militer AS di sana.

Salah satu dokumen menunjukkan bahwa pasukan Amerika telah melakukan pemenggalan terhadap seorang warga Irak.

Washington telah meluncurkan, apa yang Assange sebut sebagai, sebuah "penyelidikan agresif" ke aparatur militer mereka.

Wikileaks mengatakan mereka bisa merilis sekitar 15.000 dokumen lanjutan mengenai perang di Afghanistan serta file video Afghanistan.(eramuslim.com/05/11/10)

5 November 2010

Wasiat Nabi s.a.w Kepada Sayyidina Ali k.w.

Sahabat yang di rahmati Allah,
Rasulullah s.a.w sering memberi wasiat dan nasihat yang baik merupakan pengajaran dan tunjuk ajar kepada sahabat-sahabat baginda. Walaupun wasiat dan nasihat tersebut ditujukan kepada Sayyidina Ali k.w . sebagai sahabat dan menantu baginda , hakikat sebenarnya wasiat tersebut adalah untuk semua umatnya. Perhatikanlah dan ambillah mutiara berharga yang disampaikan oleh Nabi s.a.w untuk panduan hidup kita.



Sabda Rasulullah s.a.w. kepada Sayyidina Ali r.a yang bermaksud :
Wahai Ali ! "Sebaik-baik manusia di sisi Allah s.w.t. adalah yang memberi kemanfaatan bagi manusia. Adapun seburuk-buruknya di sisi Allah adalah orang yang berumur panjang tetapi buruk amal perbuatannya."

Wahai Ali ! Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berumur panjang serta baik amal perbuatannya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang Mukmin itu ada tiga :
1.Tidak suka kepada harta dunia.
2.Tidak suka kepada wanita (maksudnya tidak suka melakukan maksiat dan mengikut hawa nafsu syahwat)
3.Tidak suka mengumpat ‘aib orang lain.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang ‘alim itu ada tiga :
1.Jujur dalam berbicara.
2.Menjauhi yang haram
3.Tawaduk (rendah hati)

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang yang ber- taqwa itu ada tiga :
1.Takut berdusta dan berbuat keji.
2.Menjauhi kejahatan.
3.Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.


Wahai Ali ! Tanda-tanda orang benar itu ada tiga : 
1.Merahsiakan ibadah. 
2.Merahsiakan sedekah. 
3.Merahsiakan dugaan yang menimpa dirinya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda ahli ibadah itu ada tiga :
1.Selalu membatasi diri ( daripada melakukan perkara dosa dan  sia-sia)
2.Selalu menghisab (menghitung-hitung) dirinya.
3.Selalu memperbanyakkan ibadah

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang soleh itu ada tiga :
1.Selalu memperbaiki hubungan dengan Allah s.w.t. melalui amal soleh.
2.Selalu memperbaiki agamanya dengan beramal soleh.
3.Selalu redha terhadap manusia dari apa yang diredhai dirinya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang bahagia itu ada tiga : 
1.Makanannya halal. 
2.Duduk bersama para ulama’ 
3.Solat lima waktu bersama imam (berjemaah)

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang dermawan itu ada tiga :
1.Memberi maaf ketika berkuasa (membalas).
2.Mengeluarkan zakat dengan benar.
3.Senang mengeluarkan sedekah.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang tasamuh (toleransi) itu tiga :
1.Menyambung silaturahim pada orang yang memutuskannya.
2.Memberi kepada orang yang menghalang-halanginya
3.Memaafkan orang yang menganiayanya.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang sabar itu ada tiga :
1.Sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah s.w.t
2.Sabar atas dugaan (musibah) yang dideritainya.
3.Sabar atas qadha’ (ketetapan) Allah s.w.t.

Wahai Ali ! Tanda-tanda orang taubat itu tiga :
1.Menjauhi segala yang haram.
2.Senang menuntut ilmu untuk ibadahnya kepada Allah.
3.Tidak kembali berbuat dosa, sebagaimana tidak kembalinya susu yang sudah diperas kedalamnya. 

Sahabat yang dimuliakan,
Marilah kita beramal dan memperbaiki diri kita dengan akhlak Islam dan mematuhi semua ajaran yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Semoga dengan ini kita akan selamat hidup di dunia dan hari akhirat dan mendapat keridhaan Allah s.w.t.


(fb/dunia-teori-konspirasi)

Hukum Syariat Tentang Menyambut Tamu Penguasa Kafir Imperialis

Perintah Memulyakan Tamu

Salah satu kewajiban yang dibebankan syariat kepada kaum Muslim adalah menyambut dan memulyakan tamu. Imam Bukhari dan Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali persahabatan; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik-baik saja atau hendaklah dia diam saja.”[HR. Bukhari dan Muslim]

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالُوا وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya pada saat istimewanya. “ Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw, apakah saat istimewa itu? Beliau bersabda, “Hari dan malam pertamanya. Bertamu itu adalah tiga hari. Kalau lebih dari tiga hari, maka itu adalah sedekah.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Tamu yang disebut di dalam hadits di atas mencakup tamu Mukmin maupun kafir. Kata “dlaifahu” termasuk dalam lafadz umum, sehingga mencakup semua jenis tamu; baik tamu Mukmin, kafir, laki-laki, maupun perempuan. Semua tamu wajib disambut dan dimulyakan dan dihormati berdasarkan nash-nash hadits di atas. Seorang Muslim juga diperintahkan untuk memenuhi hak-hak tamu, sekadar dengan kemampuannya.


Hukum Syara' Tentang Menerima Tamu Dari Kalangan Penguasa Imperialis

Lalu, bagaimana jika tamu yang hendak berkunjung adalah penguasa-penguasa kafir imperialis yang telah terbukti mendzalimi, menganiaya, menjajah, membunuhi kaum Muslim, dan berusaha menistakan kesucian agama Islam? Apakah, ketentuan-ketentuan dalam hadits di atas tetap berlaku?

Jawabnya jelas, seorang Muslim dilarang (haram) menerima kunjungan, menyambut dan memulyakan tamu dari kalangan penguasa kafir imperialis yang jelas-jelas telah terbukti merampas harta, menciderai kehormatan, dan melenyapkan ribuan jiwa kaum Muslim. Alasannya sebagai berikut;

Pertama, larangan menampakkan loyalitas dan kasih sayang kepada orang-orang kafir, lebih-lebih lagi kafir imperialis yang menghisap harta dan darah kaum Muslim. Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)”. [TQS Al Mumtahanah (60):1]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (118) هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (119)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. [TQS. Ali ‘Imran (3): 118-119]

Kunjungan Barack Obama –penguasa kafir imperialis yang telah membunuhi ribuan kaum Muslim di Irak, Afghanistan, dan pendukung utama negara teroris Israel–, jelas-jelas harus ditolak, dan jika ia memaksa datang, tidak boleh disambut dengan sambutan mulia dan kasih sayang. Pasalnya, ia adalah musuh Islam dan kaum Muslim. Selain itu, kunjungannya di Indonesia diduga membawa agenda-agenda jahat, semacam liberalisasi ekonomi, demokratisasi, serta pressure politik-pressure politik yang merugikan rakyat Indonesia, khususnya umat Islam. Lantas, bagaimana kita akan menerima kunjungannya dan menampakkan rasa hormat dan menyambutnya dengan sambutan kasih sayang –yang sebenarnya ini adalah watak asli umat Islam–, jika orang yang hendak datang adalah penguasa kafir yang dzalim dan lalim terhadap umat Islam?

Kedua, larangan menyakiti kaum Muslim. Penerimaan dan penyambutan Barack Obama di negeri ini, tentu saja akan menyebabkan bertambahnya penderitaan dan rasa sakit kaum Muslim yang pada saat ini tengah menghadapi invasi militer Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina, dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya. Padahal, Allah swt dan RasulNya telah melarang kaum Muslim menyakiti saudaranya sendiri, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”.[TQS Al Ahzab (33):58]

Nabi saw melalui lisannya yang suci bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak akan menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim maka dengan hal itu Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Penerimaan kunjungan Barack Obama tidak hanya menyakiti saudara-saudara Muslim di negeri-negeri yang secara langsung didzalimi dan dijajah oleh Amerika Serikat, tetapi juga wujud “menyerahkan saudara-saudara Muslim kita” kepada musuh Islam dan kaum Muslim. Lantas, bagaimana bisa penguasa negeri ini menerima kunjungan Barack Obama, dan menyambutnya dengan sambutan kenegaraan? Lantas, seandainya negeri ini dikuasai dan diduduki oleh Amerika –dan faktanya kita sekarang sudah dijajah oleh mereka secara non fisik–, lantas apakah kita akan tetap bersikap manis terhadap mereka? Sungguh, hanya orang-orang munafik yang memiliki kasih sayang dan rasa hormat kepada musuh-musuh Allah dan kaum Muslim.

Ketiga, kewajiban membela saudara Muslim yang tidak berada di dekatnya. Nabi Mohammad saw bersabda;

مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Barangsiapa yang membela saudaranya saat tidak ada di dekatnya, maka Allah akan membelanya di dunia dan di akhirat”. [HR. Imam Asyi Syihab dari Anas bin Malik ra, dalam Musnad Asy Syuihab]

Wujud pembelaan seorang Muslim terhadap saudara-saudaranya yang pada saat ini dijajah dan dianiaya oleh Amerika Serikat adalah menolak kunjungan mereka, dan tidak menyambutnya dengan keramahan dan kasih sayang. Di dalam hadits-hadits lain, Nabi saw juga bersabda:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Barangsiapa yang melindungi kehormatan saudaranya, maka Allah akan menolak api neraka di Hari Kiamat dari wajahnya”. [HR. Imam Tirmidziy dari Abu Darda' ra. Hadits Abu Darda ra ini telah ditakhrij oleh Ahmad. Ia berkata hadits ini sanadnya hasan. Al-Haitsami mengatakan hal yang sama)

Hadits riwayat Ishaq bin Rahwiyyah dari Asma binti Yazid, ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

مَنْ ذَبَّ عَنْ عَرَضِ أَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ

"Barangsiapa yang melindungi kehormatan saudaranya pada saat tidak berada di dekatnya, maka Allah pasti akan membebaskannya dari api neraka".[HR. Ishaq bin Rahwiyyah dari Asma' binti Yazid]

Wujud pembelaan seorang Muslim terhadap kaum Muslim di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina yang saat ini tengah menghadapi invasi militer Amerika, adalah menolak kunjungan, kerjasama, maupun intervensi non fisik dari penguasa-penguasa kafir imperialis dan antek-anteknya, semacam Amerika, Inggris, dan Israel.

Keempat, perilaku shahabat. Selain nash-nash di atas, perilaku generasi salafush shalih juga menunjukkan kepada kita, bagaimana sikap seharusnya seorang Muslim. Riwayat-riwayat berikut ini menunjukkan bagaimana perilaku shahabat terhadap orang-orang kafir, lebih-lebih yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.

Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Salamah bin Al Akwa’ ra, bahwasanya ia berkata;

فَلَمَّا اصْطَلَحْنَا نَحْنُ وَأَهْلُ مَكَّةَ، وَاخْتَلَطَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ، أَتَيْتُ شَجَرَةً، فَكَسَحْتُ شَوْكَهَا، فَاضْطَجَعْتُ فِي أَصْلِهَا، قَالَ: فَأَتَانِي أَرْبَعَةٌ مِنْ الْمُشْرِكِينَ، مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ، فَجَعَلُوا يَقَعُونَ فِي رَسُولِ اللهِ ، فَأَبْغَضْتُهُمْ، فَتَحَوَّلْتُ إِلَى شَجَرَةٍ أُخْرَى

“Ketika kami berdamai dengan penduduk Makkah dan sebagian kami bercampur dengan sebagian mereka, aku mendatangi suatu pohon kemudian aku menyingkirkan durinya dan aku merebahkan diriku di akarnya. Kemudian datang kepadaku empat orang kaum Musyrik Makkah. Mereka mulai membicarakan Rasulullah, maka aku pun membenci mereka, hingga aku pindah ke pohon yang lain”.[HR. Imam Muslim]

Imam Ahmad menuturkan sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Abdullah bin Rawahah berkata kepada Yahudi Khaibar:

يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ، أَنْتُمْ أَبْغَضُ الْخَلْقِ إِلَيَّ، قَتَلْتُمْ أَنْبِيَاءَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ،وَكَذَبْتُمْ عَلَى اللهِ، وَلَيْسَ يَحْمِلُنِي بُغْضِي إِيَاكُمْ عَلَى أَنْ أَحِيفَ وَكَذَبْتُمْ عَلَى اللهِ، وَلَيْسَ يَحْمِلُنِي بُغْضِي إِيَّاكُمْ عَلَى أَنْ أَحِيفَ عَلَيْكُمْ…»

“Wahai kaum Yahudi! Kalian adalah makhluk Allah yang paling aku benci. Kalian telah membunuh para Nabi dan telah mendustakan Allah. Tapi kebencianku kepada kalian tidak akan mendorongku untuk berlaku sewenang-wenang kepada kalian”.[HR. Imam Ahmad]

Imam Ahmad, Abdur Razak, Al Hakim, dan Abu Ya’la menuturkan hadits hasan dari Abu Faras, ia berkata; Umar bin Khathab pernah berkhutbah dan berkata:

…مَنْ أَظْهَرَ مِنْكُمْ شَرًّا، ظَنَنَّا بِهِ شَرًّا، وأَبْغَضْنَاهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa di antara kalian menampakan suatu kejahatan, maka kami akan menduganya berlaku jahat, dan kami akan membencinya karena kejahatan itu..” [HR. Imam Ahmad, Abdur Razaq, Al Hakim, dan Abu Ya'la. Imam Al Hakim menyatakan bahwa hadits ini hasan menurut syarat Imam Muslim]


Menepis Syubhat

Adapun riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saw pernah menerima utusan Musailamah Al Kadzdzab, dan Abu Sofyan pemimpin Quraisy. Riwayat-riwayat ini sering dijadikan argumentasi bolehnya seorang Muslim menerima kunjungan dan menyambut tamu dari kalangan orang kafir penjajah. Padahal, dengan pembacaan yang seksama dan teliti dapatlah disimpulkan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak layak dijadikan hujjah atas argumentasi mereka. Untuk itu, kami perlu memaparkan panjang lebar riwayat tersebut agar tidak ada kesalahan dalam penarikan kesimpulannya.

Imam Ahmad dan Abu Dawud menuturkan sebuah riwayat dari Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’iy ra bahwasanya ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata kepada dua orang utusan, ketika beliau saw membaca surat Musailamah al-Kadzdzab, “Apa yang hendak kalian katakan?” Mereka menjawab, “Kami mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Musailamah al-Kadzdzab.” Nabi saw pun bersabda, “Demi Allah, seandainya bukan karena para utusan tidak boleh diutus, niscaya akan kupenggal leher kalian berdua”.[HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud]

Di dalam Sunan Abu Dawud dikisahkan bahwasanya, ‘Abdullah bin Mas’ud pernah menjalin pershahabatan dengan seorang Arab, lalu beliau berkehendak untuk mengunjunginya. Dalam perjalanannya, beliau melewati sebuah masjid milik Bani Hanifah, dan disaksikannya bahwa Bani Hanifah telah menjadi pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Melihat keadaan itu, ‘Abdullah bin Mas’ud ra diutus menemui mereka untuk menyadarkan mereka. Beliau ra pun menemui mereka dan menyadarkan kesesatan dan kekeliruan mereka. Setelah mendapatkan penjelasan dari beliau, semua penduduk Bani Hanifah kembali ke pangkuan Islam, kecuali Ibnu Nawwahah. Ia tetap bersikukuh menjadi pengikut setia Musailamah al-Kadzdzab. Ibnu Mas’ud ra berkata kepadanya, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Seandainya engkau bukan seorang utusan, niscaya sudah aku penggal lehermu”. Akan tetapi, sekarang ini engkau bukanlah seorang utusan”. Ibnu Mas’ud segera memerintahkan Qurzah bin Ka’ab untuk memenggal leher Ibnu Nawwahah. Dan akhirnya, Ibnu Nawwahah dipenggal lehernya di pasar. Setelah itu, Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa saja yang ingin mengetahui Ibnu Nawwahah, kini ia telah terbunuh di pasar”.

Dari paparan seluruh riwayat di atas dapatlah disimpulkan bahwa seorang utusan yang datang ke dalam Daulah Khilafah Islamiyyah haruslah mendapatkan perlindungan, selama mereka adalah berkedudukan sebagai utusan (delegasi). Dengan demikian, riwayat-riwayat di atas berhubungan dengan dengan hukum melindungi utusan, bukan berkaitan dengan hukum menerima dan menyambut tamu. Bahkan, di dalam riwayat itu jelas sekali ditunjukkan, bagaimana sikap Rasulullah saw terhadap utusan-utusan kaum kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Sabda beliau, “Seandainya engkau bukan seorang utusan, niscaya sudah aku penggal lehermu”, menunjukkan bahwa beliau bersikap sangat keras dan tidak menunjukkan penerimaan yang ramah terhadap mereka. Begitu pula sikap seharusnya penguasa Muslim ketika menghadapi penguasa kafir penjajah yang memusuhi umat Islam, yakni menekan, merendahkan, mengancam, dan memerangi mereka jika mereka tidak menghentikan permusuhan dan penganiayaan mereka terhadap umat Islam.

Begitu pula riwayat mengenai kunjungan Abu Sofyan kepada Madinah, juga tidak berhubungan dengan penyambutan tamu atau penghormatan tamu dari kalangan penguasa kafir. Kunjungan Abu Sofyan ke Madinah dikarenakan ia ingin memperbarui perjanjian dengan Rasulullah saw setelah sebelumnya orang-orang Quraisy menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu Nabi saw. Penyerangan Quraisy terhadap Bani Khuza’ah tersebut telah membatalkan perjanjian Hudaibiyyah yang ditandatangani antara Kaum Quraisy dan Nabi saw. Oleh karena itu, Abu Sofyan mendatangi Nabi saw di Madinah untuk memulihkan perjanjian damai. Ibnu Hisyam dalam Kitab Sirahnya menceritakan peristiwa ini sebagai berikut, “Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Abu Sofyan bin Harb datang ke tempat Nabi saw. Ia berbicara dengan beliau, namun beliau saw tidak menggubrisnya. Lalu, Abu Sofyan pergi ke tempat Abu Bakar ra, dan menyuruhnya berbicara dengan Rasulullah saw, namun Abu Bakar berkata, “Aku tidak mau!”. Kemudian, Abu Sofyan bin Harb mendatangi rumah Umar bin Khaththab dan berbicara dengannya, namun Umar malah berkata, “Aku harus membelamu di hadapan Rasulullah saw? Demi Allah, jika aku hanya mendapatkan semut kecil, aku akan memerangimu bersamanya”. Abu Sofyan keluar dari rumah Umar bin Khaththab ra dan menemui Ali bin Abi Thalib ra yang saat itu sedang bersama dengan isterinya, Fathimah binti Mohammad saw dan anak keduanya, Hasan bin ‘Ali yang sedang merangkak. Abu Sofyan berkata, “Hai, Ali, engkau adalah orang yang paling penyayang. Aku datang kepadamu untuk satu keperluan, oleh karena itu, jangan pulangkan aku dalam keadaan gagal total. Belalah aku di hadapan Rasulullah saw”. Ali bin Abi Thalib berkata, “Celakalah kamu, hai Abu Sofyan! Demi Allah, Rasulullah saw telah bertekad kepada sesuatu dan kita tidak bisa bernegoisasi dengan beliau”. Abu Sofyan menoleh kepada Fathimah binti Mohammad, seraya berkata, “Wahai putri Mohammad, maukah engkau menyuruh anak kecilmu ini melindungi manusia, kemudian ia akan menjadi pemimpin Arab sepanjang zaman? Fathimah menjawab, “Demi Allah, annakku tidak bisa melindungi manusia dan seorangpun tidak bisa melindungi mereka dari Rasulullah saw…. Abu Sofyan menaiki untanya dan pulang ke Makkah. Sesampainya di Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, “Informasi apa yang engkau bawa? Abu Sofyan bin Harb berkata, “Aku datang kepada Mohammad saw kemudian berbicara dengannya, namun ia tidak menyahut sedikitpun. Kemudian aku datang kepada Abu Bakar, namun aku tidak melihat kebaikan sedikitpun dari dirinya. Lalu, aku menemui Umar bin Khaththab dan mendapatinya orang yang paling keras permusuhannya. Kemudian aku datang kepada Ali bin Abi Thalib dan mendapatinya orang yang paling lembut. Ia menasehatiku untuk melakukan sesuatu, namun demi Allah, aku tidak tahu apakah sesuatu itu bermanfaat bagiku atau tidak. Orang-orang Quraisy berkata, “Apa yang diperintahkan Ali bin Abi Thalib kepadamu? Abu Sofyan bin Harb menjawab, “Aku disuruh untuk melindungi manusia dan aku pun melakukannya”. Orang-orang Quriasy berkata lagi, “Apakah Mohammad membolehkannya? Abu Sofyan menjawab, “Tidak!”. Orang-orang Quraisy berkata, “Celakalah engkau! Engkau telah dipermainkan oleh Ali bin Abi Thalib. Apa yang engkau katakan tadi sama sekali tidak bermanfaat bagimu”. Abu Sofyan berkata, “Demi Allah, aku tidak memiliki alternatif lain”. [Ibnu Hisyam, As Sirah An Nabawiyyah, hal.735]

Riwayat ini menunjukkan dengan sangat jelas, bagaimana sikap Rasulullah saw terhadap Abu Sofyan, beliau saw sama sekali tidak menggubris kedatangannya, bahkan beliau siap menyerang Mekah, karena pengkhianatan kaum Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyyah. Nabi saw tidak pernah menerima dan menyambut Abi Sofyan bin Harb dengan penyambutan kenegaraan yang menunjukkan rasa hormat dan belas kasih, namun beliau saw memperlakukan Abu Sofyan ra dengan sangat keras, hingga harga diri dan kesombongan Abu Sofyan luruh bagaikan sekawanan laron yang tersambar api pelita. Lalu, dari arah mana bisa dinyatakan bahwa para penguasa negeri-negeri Islam wajib menerima, menyambut, dan memulyakan tamu dari kalangan para penguasa kafir yang lalim dan dzalim itu, dengan alasan bahwa Nabi saw pernah menerima dan menyambut Abu Sofyan bin Harb? Padahal, bukankah Nabi saw jelas-jelas menolak dan tidak menggubris kedatangan Abu Sofyan bin Harb, begitu pula sikap para shahabat? Atas dasar itu, menggunakan kisah kedatangan Abu Sofyan ke Madinah adalah istinbath yang keliru dan mengada-ada.

Lalu, setelah penjelasan ini, masihkah ada orang yang tetap bersikukuh untuk menerima, menyambut, dan menghormati kedatangan penguasa kafir yang jelas-jelas terbukti menganiaya dan membunuhi ribuan kaum Muslim, serta merampok dan menguras habis kekayaan umat Islam?

Kesimpulannya:
  1. Seorang Muslim, lebih-lebih lagi penguasa Muslim dilarang (haram) menerima dan menyambut kedatangan penguasa kafir yang jelas-jelas memusuhi dan memerangi Islam dan kaum Muslim,
  2. Sikap sejati seorang Muslim adalah bersikap keras terhadap orang-orang kafir, dan membela saudara-saudaranya yang saat ini tengah dianiaya oleh orang-orang kafir,
  3. Jika penguasa Muslim memiliki kemampuan, maka ia wajib membebaskan saudara-saudara Muslimnya dari penjajahan, penganiayaan, serta pembunuhan yang dilakukan oleh kafir imperialis, dengan mencurahkan segenap kemampuan fisik maupun non fisiknya.


Wallahul Musta’aan Wa Huwa Waliyut Taufiq.

[Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy; Lajnah Tsaqofi Hizbut Tahrir Indonesia]

HIKMAH ALI BIN ABI THALIB

Ini adalah ungkapan-ungkapan Ali yang sangat bangus dan patut dicatat dengan tinta emas dalam lembaran-lembaran hati. 

Ali berkata, “Manusia itu tiga, seorang ulama rabbani, muta’allim untuk mencari jalan keselamatan dan orang awam yang tidak berilmu yang mengikuti setiap seruan, bergoyang ke arah angin bertiup, tidak memiliki cahaya ilmu dan tidak berpegang kepada pilar yang kokoh. 

Ilmu lebih baik daripada harta, ilmu menjagamu sedangkan kamu menjaga harta, ilmu bertambah dengan diamalkan sedangkan harta habis jika dibelanjakan, cinta ulama adalah agama yang akan dibalas. 

Ilmu memberikan ketaatan kepada ulama dalam hidupnya, memberikan perbincangan baik setelah kematiannya, sementara manfaat harta akan lenyap dengan lenyapnya harta. 

Para penjaga harta telah mati sekali pun mereka masih hidup, para ulama tetap hidup selama zaman masih berlangsung, jasad mereka tidak ada namun kata-kata baik mereka tetap tertanam di dalam hati.” 

Ali semoga Allah meridhainya berkata, “Ingatlah lima perkara dariku, seandainya kalian memacu unta untuk mendapatkannya niscaya kalian tidak mendapatkannya, niscaya untamu kelelahan sebelum kamu mendapatkannya. 

Hendaknya seorang hamba tidak berharap kecuali Rabbnya, tidak takut kecuali dosanya, hendaknya seorang yang bodoh tidak malu untuk bertanya tentang apa yang tidak diketahuinya, hendaknya seorang ulama tidak malu berkata, ‘Saya tidak tahu.’ Jika dia ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Kesabaran dalam iman ibarat kepala bagi jasad manusia, tidak ada iman bagi siapa yang tidak memiliki kesabaran.” 

Ali semoga Allah meridhainya berkata, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjangnya angan-angan. Yang pertama menghalang-halangi kebenaran, yang kedua melalaikan akhirat. Ketahuilah bahwa dunia telah pergi sambil berpaling, ketahuilah bahwa akhirat telah datang menghadap, masing-masing dari keduanya mempunyai anak-anak, jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia, hari ini adalah amal bukan hisab dan esok adalah hisab bukan amal.” 

Dia semoga Allah meridhainya berkata, “Jadilah kalian sumber-sumber ilmu, tambang-tambang hikmah, lampu-lampu malam hari, berpakaian sederhana, berhati baru, kalian dikenal di kalangan penduduk langit, tidak dikenal di kalangan penduduk bumi dan kalian disebut-sebut di sisi Tuhan kalian. 

Ketahuilah bahwa orang yang benar-benar fakih adalah orang yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah dan tidak membuat mereka aman dari ziksa Allah, tidak memberikan keringanan bagi mereka dalam bermaksiat kepada Allah, tidak meninggalkan al-Qur`an karena membencinya dan menggantinya dengan selainnya, tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak didasari ilmu, tidak ada kebaikan bagi ilmu yang tidak berisi pemahaman padanya, tidak ada kebaikan dalam qiraat yang tidak ada tadabbur padanya. 

Bukan kebaikan dengan banyaknya harta dan anakmu, akan tetapi kebaikan adalah dengan banyaknya ilmumu, besarnya kebijaksanaanmu dan kamu mengalahkan orang-orang dalam beribadah kepada Tuhanmu, jika kamu berbuat baik maka kamu memuji Allah, jika kamu berbuat sebaliknya maka kamu meminta ampunan kepadaNya. 

Tidak ada kebaikan bagi dunia kecuali untuk satu dari dua orang, seorang laki-laki melakukan dosa-dosa lalu dia memperbaikinya dengan taubat dan seorang laki-laki yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan beramal meninggikan derajatnya.” 

Dari Ashaburrasul, Abu Ammar Mahmud al-Mishri. (alsofwah.or.id)

4 November 2010

Obama: Pemilih Frustrasi

Presiden AS Barack Obama mengatakan dia yakin para pemilih AS merasa jengkel terhadap kecepatan pemulihan ekonomi.
Obama mengatakan itu dalam reaksinya setelah kekalahan Partai Demokrat dalam pemilihan sela (mid-term) untuk anggota DPR dan sejumlah gubernur negara bagian.
Partai Republik merebut 60 kursi untuk kemudian menguasai Dewan Perwakilan. Partai Demokrat tetap mayoritas di Senat walaupun juga kehilangan sejumlah kursi.
Para tokoh Republik mulai bertekad akan membalikkan refromasi perawatan kesehatan yang dilakukan Obama dan akan mengurangi belanja pemerintah.
Obama berjanji akan mencarikan kesamaan pandangan dengan kalangan Republik mengenai isu-isu penting.
Tidak ada partai yang memegang kendali, katanya. Jadi, Republik dan Demokrat harus bekerja sama untuk masalah lapangan kerja, keamanan dan masa depan, sesuai dengan pesan pemilih.
“Ini tidak ada mudah. Kita tidak akan bisa mempersatukan semua perbedaan,” ujarnya.
“Yang pasti adalah bahwa tanpa dukungan Republik mengenai apa saja, maka akan berat untuk melaksanakan program.”
Obama yakin sudah ada kemajuan tetapi masih banyak yang harus dikerjakan.
“Selama dua tahun ini kita sudah mencatat kemajuan, namun jelas masih banyak orang yang belum merasakan kemajuan itu dan mereka mengatakan itu kepada kami kemarin. Sebagai presiden, saya bertanggung jawab sepenuhnya,” katanya.

Akan hadang

Pemimpin kubu Republik di DPR AS menyatakan, pembatalan reformasi asuransi kesehatan Presiden Obama akan menjadi salah satu prioritas partainya di Kongres.
Pemimpin Partai Republik di DPR, John Boehner mengatakan kenaikan perolehan suara partainya dalam pemilihan sela menunjukkan para pemilih tidak menyukai pengambilalihan urusan asuransi kesehatan oleh pemerintah.
Dari hasil pemilihan sela kemarin, Partai Republik AS memegang kendali atas DPR dari hasil pemilihan sela, namun partai Presiden Barack Obama, Demokrat berhasil mempertahankan dominasi di Senat.
Hasil pemilihan sela memberi Republik lebih dari 230 kursi dari total 435 kursi DPR, setelah mendapat tambahan sekitar 69 kursi. Kenaikan jumlah kursi Republik ini merupakan pergeseran kekuatan politik terbesar di AS dalam masa lebih dari 60 tahun.
Hasil ini mengantar kubu Republik berhasil merebut kendali posisi mayoritas yang terlepas dari tangan mereka tahun 2006.
Sebaliknya, bagi Partai Demokrat, kekalahan ini merongrong keleluasaan mereka untuk bisa meloloskan rancangan undang-undang di Kongres.
Wartawan BBC di Washington mengatakan hasil ini pukulan berat bagi Presiden Obama.

Ketidakpuasan publik

Kubu Republik memanfaatkan ketidakpuasan publik soal ekonomi Amerika yang melemah dan jumlah pengangguran yang tinggi, katanya.
Banyak orang yang dulu mengantar Obama berkuasa di Gedung Putih dua tahun lalu sangat kecewa atas pemulihan ekonomi yang lamban dan memilik tidak menggunakan hak suara mereka.
Presiden Obama telah menghubungi pemimpin Partai Republik di DPR, John Boehner dan menyatakan dia ingin menemukan persamaan pandangan pasca hasil pemilihan.
Meski Demokrat kehilangan beberapa kursi di majelis tinggi, Senat, kubu pendukung Presiden Obama masih tetap memegang kendali di sana dengan memiliki posisi mayoritas tipis.
Enam kursi terlepas dari tangan wakil Partai Demokrat dan beralih ke tangan calon dari Partai Republik dan calon dari Tea Party.
Sementara itu, hasil exit poll ABC mengindikasikan 88% warga Amerika yakin ekonomi nasional kacau balau. Angka itu hampir sama banyaknya dengan orang yang menyatakan pandangan serupa sebelum Barack Obama terpilih.
Menurut temuan jajak ABC, 73% menggambarkan diri mereka kecewa atau bahkan (26%) atas cara kerja pemerintah federal.

Analisis

Hasil pemilihan ini merupakan pukulan telak bagi Presiden Obama yang dua tahun lalu dipilih dengan harapan begitu tinggi.
Yang lebih gawat lagi bagi pemerintah Obama, dengan kemenangan ini Partai Republik bisa menghalangi undang-undang yang diperlukan Presiden Obama untuk menjalankan kebijakannya.
Dalam ulasan ini, editor BBC untuk Amerika Utara Mark Mardell mengatakan penyebab utama kekalahan Partai Demokrat adalah lambannya pemulihan ekonomi Amerika.
Akibatnya banyak dari mereka yang dua tahun lalu memilih Presiden Obama kecewa dan tidak ikut memilih.

Tea Party

Faktor penting lainnya dalam kemenangan Partai Republik adalah kebangkitan gerakan Tea Party yang berpendapat bahwa pemerintah Amerika sekarang sudah terlalu besar dan berbuat terlalu banyak.
Gerakan Tea Party yang merupakan lawan ideologis Presiden Obama meraih kemenangan besar dalam pemilihan sela kali ini.
Memang dua calon Tea Party yang paling eksentrik kalah dalam pemilihan senat di Nevada dan Delaware, tetapi secara keseluruhan gerakan konservatif ini sekarang menguasai lembaga legislatif Amerika.
Ketua DPR yang baru, John Boehner dari Partai Republik mengatakan kepada para pendukung Tea Party bahwa dia tidak akan mengecewakan mereka.
Pamor Presiden Obama merosot dengan cepat. Dia menghadapi pemilih yang sangat terpecah dan didesak oleh gerakan politik konservatif yang menghantam seperti ombak besar.

Salah tafsir

Bisa jadi Presiden Obama dan banyak pengamat, salah menafsirkan arti kemenangannya dua tahun lalu.
Jangan-jangan para pemilih terbuai oleh kata-kata yang dilontarkan dalam kampanye Obama, bukan oleh orangnya sendiri atau pun kebijakan yang dia tawarkan.
Jangan-jangan mereka memilih karena cita-cita yang tersirat dari kata-kata seperti hope atau change, disamping penolakan atas George W Bush.
Saya curiga bahwa seandainya Obama dan John McCain bertukar kebijakan, rakyat Amerika akan tetap memilih calon yang lebih muda dengan semangat yang mash tinggi, daripada si calon tua yang tidak mengerti ekonomi.
Di lain pihak bisa dimengerti apabila Presiden Obama yang baru dipilih, menafsirkan suara rakyat ini sebagai mandat untuk menjalankan kebijakannya.
Presiden Obama menerangkan dengan seksama pentingya reformasi kesehatan, tentang keyakinannya bahwa pemerintah bisa berperan memperbaiki nasib rakyat.
Dia juga mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan waktu. Tetapi ternyata masyarakat tetap tidak yakin.
Mungkin saja kebijakan Presiden Obama bertentangan dengan keinginan banyak rakyat Amerika.
Memang kebanyakan rakyat Amerika tidak memandang kebijakannya yang mirip dengan gerakan demokrasi sosial di Eropa sebagai komunisme laten seperti yang dituduhkan oleh gerakan Tea Party, tetapi tetap saja kebanyakan rakyat Amerika tidak suka dengan kebijakan itu.

Bailout

Yang lebih parah bagi Presiden Obama, kebijakannya memberi bantuan keuangan bagi industri otomotif dan perbankan tidak disukai oleh golongan kiri maupun kanan.
Golongan kiri melihat bailout itu sebagai pertolongan untuk kalangan kaya dan perusahaan-perusahaan besar yang menimbulkan krisis ekonomi.
Golongan kanan melihat bailout itu sebagai tindakan Big Government yang mengambil alih peran swasta dalam ekonomi.
Sepak terjang politik Presiden Obama juga payah.
Manfaaat atau mudharat reformasi kesehatan Presiden Obama bisa diperdebatkan, tetapi yang jelas kebijakan itu tidak dijelaskan dengan baik dan terkesan seperti kebijakan hasil dagang sapi yang tidak mereka inginkan dari Obama.
Sebagian pemilih Amerika secara prinsip menentang stimulus ekonomi, tetapi mereka yang seharusnya mendukung pun tidak bisa melihat manfaat pemakaian dana itu.
Hasil pemilihan sela ini bisa saja tidak akan terlalu buruk bagi Presiden obama. Presiden bill Clinton bisa bekerja dengan Kongres yang dikuasai partai lawannya begitu pula dengan George W Bush dan Ronald Reagan. Akan tetapi jurang antara kedua partai sekarang samat besar.
Pemilihan ini bukan akhir dari pemerintahan Obama karena masih banyak yang bisa terjadi dalam dua tahun ke depan. Pada tahun 2012 lawan yang dihadapi Presiden Obama adalah seorang individu, bukan sebuah gerakan seperti dalam pemilihan sekarang. (hizbut-tahrir.or.id/2010/11/04)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites